Patah, Melupa

PicsArt_09-20-10.19.45

I

Serupa hujan yang rela jatuh berkali-kali. Hatiku sudi patah berulangkali.

II.

Pernah jatuh cinta berdua, kemudian merindu sendiri. Di sini, bersayap sunyi.

III

Merindulah di pipi sunyi yang setia ketimbang cinta yang pernah penuh porak poranda.

IV.

Tak ada yang tersisa, semua sirna. Hanya wajah kenangan yang kini terlihat samar. Juga bekas pelukmu menjadi satu-satunya yang tinggal. Kini perlahan mulai tanggal.

V.

Tentangmu kini menjadi mendung. Usai menghilang kisah kita pun lindap. Rindu tak terbendubg merajamku kalap. Berharap tetes hujan menghapus murung.

VI.

Melupa sejauh-jauhnya. Sayangnya kenangan setia terbawa.

-SS-LRM_EXPORT_380592189374448_20181228_132248567

 

Rindu Nan Sunyi

I

Puisi datang sebagai wajah rindu

Wajah sendu tercabik temu

Sekian lama hanya menahan sendiri

Mencari sosoknya di ruang sunyi.

II

Puisi atas nama rindu nan sunyi

Datang setelah lama menghilang

Ditelan pagi membuyarkan mimpi

Masihkah cinta tertahan relevan?

III

Hujan adalah airmata rindu

Insan-insan yang meratap temu

Menghadirkan senja nan basah

Di sudut hati berkalung gundah

Ex

 

1.

Kita dulu adalah cerita

Saat matamu berbubuk cinta

2.

Kita dulu berjalan searah

Di tengah jalan kamu memutar arah

3.

Aku melihatmu sebagai masa depanku

Engkau menganganggapku masa lalu

4.

Matamu mengeja

Terjaga

Tapi hatimu berdegup kencang

Apalagi kalau bukan karena mimpi barusan

Tatapan tatapan yang enggan dibungkus kenangan

5.

Tanpa sepengetahuanmu

Ia diam-diam telah menutup buku

Kisah-kisah kalian kini hanya masa lalu

Tak ada lagi lembar catatan rindu

 

 

Kau Tanya Mengapa

Kau tanya mengapa aku mencintaimu
Aku balik bertanya apa jawaban itu perlu?
Kau tanya mengapa aku memilihmu?
Aku melihat sebagian diriku ada pada dirimu.
Kau tanya lagi, mengapa aku suka kamu. Sepertinya jawabanku tak memuaskan penasaranmu
Kau tanya kenapa mencintaimu dan bukan mereka
Bukankah cinta tak perlu penjelasan
Seperti soal esai yang membutuhkan uraian.

Tanya itu menjadi repetisi. Ritual yang seakan wajib dilakukan.
“Kenapa mencintaiku? ”
Sebegitunya kamu perlu alasan.
Dan kau tanya berulang-ulang.
Tapi pada akhirnya tanya itu hanya rasa penasaran. Bukan bukti keinginanmu menjadikanku masa depan. Karena kamu menghilang tanpa pesan. Ketika sayang di dada sedang mekar. Dan kau paksa layu seiring kepergianmu.

“Retak” Cerita hati yang tak utuh lagi.

Reda Sebentar Saja

Redalah sebentar saja
Menghujani ruang pikiranmu dengan segala tentang dia yang berlalu tanpa kata-kata.

Tak bisakah kau sejenak saja
menghilangkan kenangan tentangnya
yang jejaknya kian menipis
disapu isakan lirih tangis.

Tak bisakah kau sebentar saja. Melupakan dia yang memenuhi isi kepalamu. Dia berlalu menjadikanmu masa lalu. Hanya menjadikanmu pilihan seolah dirimu menu makanan di restoran yang bisa ia pesan.
Kala ia bosan dengan perempuan yang ia jadikan masa depan.

Kenapa tidak kau coba sebentar saja
Memalingkan hatimu yang dijajah olehnya. Kepada lelaki yang setia menunggu dari terang hingga matahari lelap di peraduan.

Kenapa tidak mencoba membuka pintu. Untuk dia, lelaki yang sabar mendengar semua tentang kisah hidupmu yang kerap berujung pilu. Dia yang kerap kau sebut cahaya. Ketika hari-harimu sendu dan dia datang menyulapnya dengan tawa.

Coba reda sebentar saja

Melepas kenangan bersamanya di waktu dulu. Menggantinya dengan dia yang siap menggenggam dan menjadikanmu teman di masa depan.

Pelan, kamu akan mulai terbiasa

Melupakan dia yang menganggapmu

hanya sebagai mainan. Atau bahkan sebagai koleksi hati yang pernah ia taklukkan. Dan tak pernah mau tahu menengok ke belakang melihat luka yang tertancap dalam.

“Retak”

Cerita hati yang tak utuh lagi.