Ex

 

1.

Kita dulu adalah cerita

Saat matamu berbubuk cinta

2.

Kita dulu berjalan searah

Di tengah jalan kamu memutar arah

3.

Aku melihatmu sebagai masa depanku

Engkau menganganggapku masa lalu

4.

Matamu mengeja

Terjaga

Tapi hatimu berdegup kencang

Apalagi kalau bukan karena mimpi barusan

Tatapan tatapan yang enggan dibungkus kenangan

5.

Tanpa sepengetahuanmu

Ia diam-diam telah menutup buku

Kisah-kisah kalian kini hanya masa lalu

Tak ada lagi lembar catatan rindu

 

 

Reda Sebentar Saja

Redalah sebentar saja
Menghujani ruang pikiranmu dengan segala tentang dia yang berlalu tanpa kata-kata.

Tak bisakah kau sejenak saja
menghilangkan kenangan tentangnya
yang jejaknya kian menipis
disapu isakan lirih tangis.

Tak bisakah kau sebentar saja. Melupakan dia yang memenuhi isi kepalamu. Dia berlalu menjadikanmu masa lalu. Hanya menjadikanmu pilihan seolah dirimu menu makanan di restoran yang bisa ia pesan.
Kala ia bosan dengan perempuan yang ia jadikan masa depan.

Kenapa tidak kau coba sebentar saja
Memalingkan hatimu yang dijajah olehnya. Kepada lelaki yang setia menunggu dari terang hingga matahari lelap di peraduan.

Kenapa tidak mencoba membuka pintu. Untuk dia, lelaki yang sabar mendengar semua tentang kisah hidupmu yang kerap berujung pilu. Dia yang kerap kau sebut cahaya. Ketika hari-harimu sendu dan dia datang menyulapnya dengan tawa.

Coba reda sebentar saja

Melepas kenangan bersamanya di waktu dulu. Menggantinya dengan dia yang siap menggenggam dan menjadikanmu teman di masa depan.

Pelan, kamu akan mulai terbiasa

Melupakan dia yang menganggapmu

hanya sebagai mainan. Atau bahkan sebagai koleksi hati yang pernah ia taklukkan. Dan tak pernah mau tahu menengok ke belakang melihat luka yang tertancap dalam.

“Retak”

Cerita hati yang tak utuh lagi.

Kamera

Di mana kamera

Yang biasa kau bawa

Bersama kesedihan

Yang kerap menghunjam

Sepotong jantung kenangan?

Kau taruh di mana

Blitz yang menyulap

Muka kelabu dibekuk muram

Menjadi rona terang

Wajah yang menyimpan gelisah

Sedih dan kecewa tertimbun pasrah

Karena ingin hanya sebatas pendam

Tanpa berani mengartikulasikan