Perempuan Serimbun Mimpi

Perempuan datang dalam bening pagi yang tersenyum di balik kelopak embun. Di kepalanya tumbuh rimbun dahan-dahan mimpi dari sebatang pohon asa yang menjulang di obrolan-obrolan motivasi kemudian kerap membonsai tertekan masalah yang datang silih berganti. Kembali dahan itu merimbun lagi setelah ia melihat celah untuk mewujudkan mimpi-mimpinya yang selama ini seolah hanya tumpukan mantra.-SS-

Rindu Nan Sunyi

I

Puisi datang sebagai wajah rindu

Wajah sendu tercabik temu

Sekian lama hanya menahan sendiri

Mencari sosoknya di ruang sunyi.

II

Puisi atas nama rindu nan sunyi

Datang setelah lama menghilang

Ditelan pagi membuyarkan mimpi

Masihkah cinta tertahan relevan?

III

Hujan adalah airmata rindu

Insan-insan yang meratap temu

Menghadirkan senja nan basah

Di sudut hati berkalung gundah

Merdeka!

I

Tak ada kata menyerah

Untuk menegakkan marwah

Tak ada kata kalah

Bertekuk pada sang penjajah

Karena nafas kita adalah pejuang

Pasrah bukan pilihan

Berjuang dan lawan!

II

Merdeka!

Merdeka dari rasa dengki

Merdeka dari iri hati

Merdeka dari caci maki

Merdeka dari logika mati

Merdeka dari kepo tanpa solusi

Merdeka dari konsumsi hoax, fitnah

Merdeka dari mengisi waktu dengan ghibah

Merdeka dari mental mudah menyerah

Merdeka dari prasangka

Merdeka dari adu domba

Merdeka dari ketakutan

Merdeka dari kemalasan

Merdeka!

III

Diri yang berdaya

Diri yang menyebarkan cinta

Diri yang memanusiakan manusia

Modal memajukan negeri tercinta

Untuk Indonesia, rumah kita bersama

IV

Hai pejuang timnas U23 namanya

Kami bangga engkau demikian gagahnya

Kau kunyah Laos hingga bertekuk kalah

Menjadi hadiah maha indah

Di hari kemerdekaan penuh berkah.

Puisi Hujan, Basah, Dingin

IMG_20180625_141341

I

Hujan
Gelap baru saja merentangkan tangan
Saat mata kita beradu di sebuah persimpangan
Tak peduli mendung menggantung
Kita berdua mematung

Searah garis gerimis
Sebaris senyum menguar magis
Titik-titik air membesar
Hujan di bulan Juli menderas
Air luruh
Hati kita jatuh
-SS-

II

Basah

Senja bersama kamu
menjadi kisah yang basah
melukis tawa dari kubangan lara:

kecewa atas mimpi-mimpi
yang kubangun di atas pondasi yakin
semua akan memberikan hasil
setelah ikhtiar keras dan belajar gigih
tapi yang kudapati hanya nihil

Saat mata kita beradu
adalah momen gairah kembali menemukan titiknya :

ada debar melafalkan cinta
basah mengusir mimpi yang garing
kering dihisap kecewa yang terus melanda.
-SS-

III

Dingin

Wajah dingin menyebar
Ketika kita baru saja beranjak
Dari bangku penuh catatan
Yang memenuhi benak.

Gigil langsung menyapa
Dari hembusan angin utara
Menusuk tajam hingga kulit mengernyit

Namun hangat kemudian menguar
Kala kau kenakan jaketmu ke tubuhku
Mengepas kerah yang agak melipat
Memandang wajahku lekat-lekat.
-SS-

Untuk Yang Berpulang
(Insiden Mako Brimob, Mei 2018)

Kepada yang gugur saat tugas berjaga
Semoga kalian tenang di alam sana
Mendapat tempat terbaik dari Sang Maha
Diganjar Allah SWT menjadi syuhada

Kepada yang berpulang kala tugas negara
Perjuangan kalian tidak akan sia-sia
Simpati dan duka kami untuk kalian semua
Para pahlawan bangsa yang gugur setelah bertahan dalam tawanan, disiksa,
dipukul, disayat, ditendang, ditusuk leher, dibacok seakan kalian bukan manusia
Oleh orang-orang yang mengaku berjihad atas nama agama
Tapi perilaku bengis jauh dari akhlak yang diajarkan Rasulullah SAW yang lembut hatinya
Doa kami untuk kalian semua. Al Fatihah
-SS-PicsArt_05-12-11.33.58

Kali Pertama

imageKamu ingat pertama kali kita dipertemukan oleh semesta? Ya, tanpa kita rencana. Kamu yang berada di seberang menatapku. Aku tanpa sengaja melihatmu.

Kamu ingat,kamu berjalan mendekatiku. Duduk di sampingku. Seperti lazimnya dua orang asing yang baru bertemu. Kamu mengenalkan dirimu. Dan mulai bertanya tentang diriku. Entah kenapa, aku merasa menemukan teman lama. Kamu yang baru kujumpa. Kali pertama.

Pasrah

1.

Kepada ingin yang rebah pada takdir Sang Pencipta kehidupan.Namun logika kerap meronta mengeluarkan tanya yang tak kunjung kelar dengan satu jawaban.Diam-diam ia simpan di balik dinding di antara celah pasrah.Pada suatu petang ketika ia merasa lelah.

2.

Langkah perempuan itu sudah jauh melewati tanjakan dan turunan.Di sepanjang jalan tak lupa ia lafadzkan doa untuk keselamatan.Seperti pesan ibu yang selalu ia pegang.Batu, kerikil, dan asap kendaraan menjadi ujian yang acap ia anggap sebagai teman.Agar perjalanan terasa lebih ringan.

Tapi angin membuat langkahnya tak beraturan. Desaunya seolah meruntuhkan keyakinannya akan probabilitas kehidupan. Kadang membuatnya limbung dan enggan bangkit menjajal kemungkinan. Pasrah pada keadaan.

-Susan Sutardjo-

Ex

 

1.

Kita dulu adalah cerita

Saat matamu berbubuk cinta

2.

Kita dulu berjalan searah

Di tengah jalan kamu memutar arah

3.

Aku melihatmu sebagai masa depanku

Engkau menganganggapku masa lalu

4.

Matamu mengeja

Terjaga

Tapi hatimu berdegup kencang

Apalagi kalau bukan karena mimpi barusan

Tatapan tatapan yang enggan dibungkus kenangan

5.

Tanpa sepengetahuanmu

Ia diam-diam telah menutup buku

Kisah-kisah kalian kini hanya masa lalu

Tak ada lagi lembar catatan rindu