Mengapa Kita Berbohong?

bohong

source: reflectionofmind.org

Mengapa kita berbohong dan kita kadang lebih percaya berita bohong ketimbang fakta kebenaran di depan mata?

Aktivis senior Ratna Sarumpaet ditahan atas kasus pembohongan publik pada Kamis malam (27/9). Ratna mengarang cerita soal wajahnya yang lebam pasca operasi plastik di wajahnya. Ia menyebar cerita bohong bahwa wajah lebamnya akibat dikeroyok oleh tiga orang di Bandara Husein Sastranegara Bandung, Jawa Barat pada Jumat (21/9).

Mengapa seorang aktivis senior seperti Ratna berbohong? Mengapa kita berbohong? Ada banyak alasan.  Menurut filsuf sekaligus ahli etika Sissela Bok dari Harvard University berbohong merupakan cara paling mudah untuk mendapatkan power. “Berbohong sangat mudah dibandingkan dengan cara lain untuk mendapatkan kekuasaan.”

Berikut alasan mengapa kita berbohong seperti dilansir dari psychologytoday.com.

1.Untuk mendapatkan kekuasaan

Berbohong dianggap sebagai salah satu cara untuk mendapatkan power atau kekuasaan. Dengan berbohong, seseorang bias menjatuhkan lawannya yang lebih kredibel untuk menaikkan posisinya.

2.Memegang kendali

Berbohong dianggap bisa memegang kendali. Menceritakan fakta kebenaran terasa seperti menyerahkan kendali. Seringkali, orang berbohong karena mereka mencoba mengendalikan situasi dan menggunakan pengaruh untuk mendapatkan keputusan atau reaksi yang yang diinginkan.

3.Membunuh karakter orang lain

Orang berbohong juga bias dilatarbelakangi oleh keinginan membunuh karakter seseorang atau menjatuhkan orang tersebut. Dengan mengarang cerita bohong, ia mengajak orang lain membenci orang yang bersangkutan. Bahkan, dengan mengarang cerita bohong seseorang bertujuan mendepak rekan kerjanya yang dianggap sebagai rivalnya.

4.Takut mengecewakan. 

Khawatir jika mengatakan kebenaran akan mengecewakan orang lain. Bahkan khawatir jika menceritakan yang sebenarnya akan berujung pada penolakan.

5.Kebohongan melahirkan kebohongan baru. 

Untuk menutupi kebohongan, seseorang harus membuat kebohongan baru. Akhirnya ia berbohong lagi.

4.Kebohongan dianggap sebagai kebenaran.

Karena seseorang sering berbohong, akhirnya ia tidak bias membedakan fakta kebenaran dan kebohongan. Mereka seperti menciptakan kebenaran versi mereka dan dunia versi mereka. Orang model seperti ini juga lebih gampang percaya kepada berita bohong dan kebohongan.

5.Ingin dihormat dan dihargai

Seseorang berbohong karena ingin dihormati dan dihargai. Biasanya ia merepresentasikan dirinya dengan kalangan atas, barang-barang mewah. Padahal kenyataannya barang-barang mewah yang digunakan bukan milik pribadi. Dari image yang ia ciptakan, ia kemudian mencari pengaruh, berharap dihormati dan dihargai oleh orang lain.

6.Ingin mendapat simpati 

Seseorang yang berbohong soal penyakit yang sebenarnya tidak ia derita, atau berbohong soal keadaan keluarganya, ia berharap mendapat simpati atau belas kasihan dari orang lain. Mengapa demikian? Dengan memperoleh simpati, belas kasihan seseorang merasa mendapat perhatian, bukan hanya dari teman, bahkan juga dari lawan jenis.

7.Keuntungan materi

Kebohongan yang dilakukan oleh seseorang juga kerap dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan materi. Misalnya mencitrakan diri dengan menggunakan barang mewah untuk membuat orang percaya terhadap kegiatan yang dilakukan yang sebenarnya merupakan bisnis penipuan seperti skema ponzi.