Gaya Berhijab di Hari Raya

Penampilan prima di hari raya menjadi dambaan hijabers. Hijab menjadi salah satu elemen pentingnya.

Tampilan hijab sangat mempengaruhi look seseorang. Karena menjadi faktor penting dalam penampilan, ada baiknya kita memilih gaya hijab yang sesuai dengan bentuk wajah, warna kulit, dan karakter kita.

Berikut inspirasi hijab yang bisa kamu jadikan sebagai referensi hijab saat haru raya Idul Fitri nanti.LRM_EXPORT_124901811293516_20190510_131115907LRM_EXPORT_91657172727252_20190524_152841887LRM_EXPORT_65159090117856_20190509_094010875LRM_EXPORT_111185900675431_20190506_132204938LRM_EXPORT_59745945120143_20190504_215701195LRM_EXPORT_165569760526740_20190507_115319290Point Blur_Apr042019_165538LRM_EXPORT_165639940065975_20190507_115429469.jpegHijab ini ukurannya jumbo dengan kualitas premium dari IG @vsvonnyscarf dan @hanhanproject. Mudah-mudahan terinspirasi.

Yuk Intip OOTD Wirda Mansur

Wirda Mansur kerap membagikan ootd alias outfit of the day dengan gaya simple dan ringan. Seperti apa style putri sulung Yusuf Mansur ini?

Nama Wirda Mansur masuk dalam deretan hijaber muda dengan followers meruah Putri sulung dai kondang Yusuf Mansur itu kerap membagikan foto dirinya dan kegiatannya  di akun instagramnya. Wirda juga kadang memposting OOTD saat traveling ke Korea, dan sejumlah negara di kawasan Eropa.

Berikut style Wirda Mansur yang simple elegan.

 

Maudy Ayunda dan Najwa Shihab Suka Ujian Sekolah. Kalau Kamu?

 

Ternyata Maudy Ayunda dan Najwa Shihab sama-sama penyuka ujian dan belajar. Wah!

Dalam sebuah wawancara dengan Najwa Shihab, artis berprestasi Maudy Ayunda teenyata mempunyai beberapa kesamaan dengan sang host sekaligus tuan rumah Mata Najwa yakni Nahwa Shihab. Apa saja kesamaan kedua wanita smart ini?

Pertama, Maudy mengaku bisa menghabiskan waktu seharian untuk membaca buku. “Aku bisa baca buku seharian saja  betah,” kata Maudy. Hal sama juga berlaku pada Najwa Shihab sebagai Duta Baca Indonesia. Najwa berkampanye mengajak orang untuk mencintai kegiatan membaca buku.

Kedua, baik Maudy maupun Najwa ternyata penyuka ujian atau kegiatan belajar. Nah lho. “Aku sangat cinta belajar dan benar-benar enjoy. Aneh nggak sih? ” terang Maudy. Najwa menimpali,”Saking dianggap aneh kadang aku kalau ujian malah senang,” kata Najwa tertawa.  Maudy kemudian menambahkan,” Sebetulnya ada deg-degannya tapi bikin aku enjoy. Ada tantangan baru.”

Ketiga, keduanya belajar mengambil keputusan sejak kecil. Maudy Ayunda kerap dilibatkan ibunya ikut terlibat mengambil keputusan saat ada acara keluarga. Orang tua Najwa Shihab pun melakukan hal sama. Bahkan Najwa mengaku diminta orang tuanya membuat keputusan sendiri saat memilih mau masuk ke SMP Islam atau SMP Negeri.

Demikian tiga kesamaan dua wanita cerdas dan mandiri di negeri berkembang ini. Mudah-mudahan kamu juga mempunyai kesamaan dengan keduanya. Kalau tidak tiga kesamaan, minimal satu. Kalau sekarang belum ada kesamaan, mudah-mudahan besok ada kesamaaannya. Kalau tetap tidak ada, ya tidak diusahakan Tapi tidak bakal ditagih.

Peluncuran JP100 Untuk Perempuan Indonesia

 

Terbitan jurnal hingga ke seratus bukan hal gampang. Jurnal Perempuan bisa membuktikan dengan adanya JP100.

Jurnal Perempuan menggelar kegiatan “JP100: Pemikiran dan Gerakan Perempuan Indonesia di hotel JS Luwansa, Jakarta pada Rabu (27/3). Lembaga yang didirikan oleh dosen Filsafat UI Gadis Arivia Bersama koleganya di Filsafat UI Prof Dr Toety Heraty dan alm Ratna Syafrida itu genap meluncurkan edisi Jurnal Perempuan (JP) ke-100.

Acara dihadiri oleh sahabat JP dan sejumlah tokoh penting seperti Prof Emil Salim, Marie Elka Pangestu, Prof Toeti Heraty, Svida Alisjahbana, Prof Musdah Mulia, dan dosen senior di Filsafat UI.

Salah satu pendiri sekaligus dewan pembina JP yakni Prof Toeti Heraty memberikan buku berjudul “Into the Future” kepada Direktur Eksekutif  Jurnal Perempuan Dr Atnike Nova Sigiro. “Sebagai orang tua saya suka cerita masa lalu. Tapi saya juga penuh hasrat untuk gerakan masa depan,” ujar Toety.

Sebagai pemimpin JP generasi ketiga Atnike dalam uraiannya bertekad akan membawa JP sebagai pusat literasi digital untuk perempuan di tanah air. Sebelumnya Marie Elka Pangestu sebagai dewan pembina menyoroti tentang perempuan dan peran pentingnya dalam kegiatan ekonomi skala global.

Kegiatan ditutup dengan diskusi menghadirkan tiga narasumber yakni Dr Titiek Kartika Hendrasiti dari Universitas Bengkulu, Samsidar aktivis dan penulis JP100 dan Pemimpin Redaksi Jurnal Perempuan Anita Dhewy dengan moderator Dr Nur Iman Subono dari Fisip UI sekaligus Dewan Redaksi Jurnal Perempuan.

 

Berbuat Lebih #CoffeeToneXYou

 

Grand Final hijab sketch competition #CoffeetoneXyou digelar pada Sabtu (23/3) di Balai Kartini, Jalan Gatot Subroto, Jakarta. Selain pengumuman pemenang, acara dengan tagline “Berbuat Lebih” itu juga diiisi dengan talkshow menghadirkan narasumber desainer muslim kondang Dian Pelangi, praktisi kebugaran yoga sekaligus chef halal Lisa Namuri,  dan presenter Net TV Rikha Indriaswari.

Di sela-sela talkshow juga diadakan fashion show dari kami., Irmasari Joedawinata, dan finalis.  Jumlah finalis kompetisi sketsa hijab ini 2.600. Ada tiga kategori yang dilombakan yakni profesional, sporty, dan casual. Pemenang kategori professional Zulkifli Ahmad Rsyid. Pemenang kategori sporty Intan Chairannisa Lubis. Untuk kategori casual Gina Fajri Aulia. Selamat ya untuk para pemenang. Terus berkarya!

Ada Pai Mama di Senjamu

IMG_20181018_214854

Tak seperti lazimnya pai, ukuran pai mama terbilang jumbo. Makan satu, kenyangnya lama. Apalagi dua. Bagaimana rasanya?

Senja bersama pai menjadi sensasi luar biasa. Apalagi  di meja juga terhidang segelas teh lemon hangat atau secangkir kopi panas, sambil sesekali membalik-balik halaman buku. Ternyata kamu bisa melakukan aktivitas itu di salah satu kedai pai di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Tepatnya di sebelah shelter busway Warung Jati Barat.

Begitu masuk, kamu akan melihat sepasang kursi dan meja di salah satu sisi dinding.  Lengkap dengan koleksi buku dan majalah yang tertata apik di rak dekat meja kasir. Tak jauh dari rak buku, terdapat etalase dengan pajangan pai berbagai macam rasa. Seperti apple pie, cheese pie, chicken pie, buttermilk, chocolate, nanas, mushroom, lemon, strawberry, dan blueberry.

Karena bentuknya jumbo, konsumen bisa puas mengudap kulit pie yang krenyes-krenyes, crunchy rasa gurih dipadu dengan isinya. Kulit pie-nya lumayan tebal. Tektur pie-nya halus. Sayangnya, jika membeli take away alias dibawa pulang, pie mudah hancur seperti di foto.

Kamu bisa memilih pie sesuai selera. Tentunya disesuaikan budget juga. Harga pie di Pai Mama mulai dari Rp 10 ribu. Selain pie, juga ada cake. Untuk minuman seperti kopi, teh, dan air mineral. Selain datang ke kedai, kamu bisa memesan pai via go food atau orderan via toko online milik pai mama. Bisa juga memesan via whatsapp. So, kamu pu bisa mengudap pai menjelang senja sambil membaca buku atau menikmati musik. Indahnya, Esmeralda 🙂

Lokasi: Jalan Warung Jati Barat No.5, RT.3/RW.11, Ragunan, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12540. Telepon: (021) 22780687 

 

Apa Pose Favoritmu di Pinggir Sungai Cheonggyecheon?

Tepi Cheonggyecheon adalah area favorit wisatawan di Seoul, Korea Selatan. Kalau kamu ada di sana, apa pose favoritmu?

Kali Cheonggyecheon berada di jantung kota Seoul, Korea Selatan. Begitu kita sampai di sana, akan dimanjakan dengan pemandangan kali bening dengan gedung-gedung perkantoran modern di sepanjang alirannya. Jika kamu ada di Chepnggyecheon, apa yang akan kamu pikirkan dan lakukan? Tentu, hal pertama yang terpikirkan adalah foto di tepiannya. Ayo ngaku! Pertanyaan receh selanjutnya adalah, kamu akan berpose seperti apa? Ini juga lumayan urgen. Karena kamu pasti ingin hasil fotonya keren kan?

Tidak ada patokan atau guideline khusus kamu harus berposes seperti apa ketika berada di pinggir Sungai Cheonggyecheong. Pose menarik untuk menghasilkan gambar ciamik di foto lebih banyak ditentukan oleh postur tubuhmu, angle atau sudut pengambilan foto, baju yang dikenakan, dan alat apa yang digunakan untuk memotret. Lho, ternyata banyak factor ya yang mempengaruhi hasil fotomu di pinggir Sungai Cheonggyecheon.

Tapi, ada sedikit bocoran pose yahud  jika kamu belum pernah ke sana. Pertama, Selonjoran. Kamu bisa bergaya selonjoran di pinggiran kali. Lho kan basah? Tentu tidak! Pasalnya di pinggir kali ada tembok pagar pembatas yang bias menjadi medium dudukmu. So, selonjorlah dengan nyaman. Pasang senyum termanis seperti saat kamu baru jatuh cinta!

Kedua, pose berdiri menghadap kamera . Kamu bisa berpose berdiri menghadap kamera alias membelakangi sungai. Biar lebih gaya, kamu bias pakai sunglasses. Tapi ingat, jangan pakai tongkat ya.

Ketiga, pose berdiri membelakangi kamera.  Jika kamu tidak begitu percaya diri dengan wajahmu yang sedang semrawut karena masalah yang mengobrak abrik hidupmu, tidak ada salahnya pose membelakangi kamera alias menghadap wajah sungai nan bening mengalahkan wajahmu yang menggunakan brightening cream. Duh!

Keempat, pose berdiri menunduk seperti kehilangan uang. Pose ini juga bisa menjadi pilihan jika kamu agak-agak malu terlihat seluruh wajahmu. Tapi yang harus dipastikan, wajahmu tetap dalam kondisi aman ya, tidak berantakan. Biarlah hati saja yang berantakan.

Kelima, pose berdiri membentangkan tangan. Nah, ini posisi menyuarakan kebebasan. Kamu bisa memilih menghadap kamera atau membelakangi kamera. Intinya pilih pose yang membuatmu yakin dan percaya diri. Itu saja kuncinya.

Cheonggyecheon Cantik!