Pasrah

1.

Kepada ingin yang rebah pada takdir Sang Pencipta kehidupan.Namun logika kerap meronta mengeluarkan tanya yang tak kunjung kelar dengan satu jawaban.Diam-diam ia simpan di balik dinding di antara celah pasrah.Pada suatu petang ketika ia merasa lelah.

2.

Langkah perempuan itu sudah jauh melewati tanjakan dan turunan.Di sepanjang jalan tak lupa ia lafadzkan doa untuk keselamatan.Seperti pesan ibu yang selalu ia pegang.Batu, kerikil, dan asap kendaraan menjadi ujian yang acap ia anggap sebagai teman.Agar perjalanan terasa lebih ringan.

Tapi angin membuat langkahnya tak beraturan. Desaunya seolah meruntuhkan keyakinannya akan probabilitas kehidupan. Kadang membuatnya limbung dan enggan bangkit menjajal kemungkinan. Pasrah pada keadaan.

-Susan Sutardjo-

Kau Tanya Mengapa

Kau tanya mengapa aku mencintaimu
Aku balik bertanya apa jawaban itu perlu?
Kau tanya mengapa aku memilihmu?
Aku melihat sebagian diriku ada pada dirimu.
Kau tanya lagi, mengapa aku suka kamu. Sepertinya jawabanku tak memuaskan penasaranmu
Kau tanya kenapa mencintaimu dan bukan mereka
Bukankah cinta tak perlu penjelasan
Seperti soal esai yang membutuhkan uraian.

Tanya itu menjadi repetisi. Ritual yang seakan wajib dilakukan.
“Kenapa mencintaiku? ”
Sebegitunya kamu perlu alasan.
Dan kau tanya berulang-ulang.
Tapi pada akhirnya tanya itu hanya rasa penasaran. Bukan bukti keinginanmu menjadikanku masa depan. Karena kamu menghilang tanpa pesan. Ketika sayang di dada sedang mekar. Dan kau paksa layu seiring kepergianmu.

“Retak” Cerita hati yang tak utuh lagi.