“Selamat Jalan Sang Pecinta”

PicsArt_09-12-08.23.19Sang pecinta akhirnya berjumpa kekasihnya
Pada sewajah petang rabu nan rembang
Selepas berjihad memerangi sakit di raga
Ikhlas menghadap Rabb pencipta alam

Tak perlu lagi rangkaian sedap malam
Yang engkau urai sebagai artikulasi sayang
Disertai segaris doa sebentuk cinta
Meluncur tiap Jumat secara khidmat

Karena engkau kini terbaring di sampingnya
Usai menimbun rindu ratusan purnama
Saatnya bersua dengan separuh jiwa
Dalam dimensi berbeda dengan dunia

Beristirahatlah dengan tenang Bapak Bangsa
Semangatmu untuk Indonesia tetap menyala-nyala
Petuahmu adalah motivasi bagi anak-anak Indonesia
Capaianmu adalah mimpi bagi pejuang cita-cita

Semoga anak-anak negeri
Mampu merealisasikan mimpi
Membangun Indonesia berdikari
Menjadi lebih baik lagi dan lagi
Sesuai harapanmu untuk ibu pertiwi
-SS-

Patah, Melupa

PicsArt_09-20-10.19.45

I

Serupa hujan yang rela jatuh berkali-kali. Hatiku sudi patah berulangkali.

II.

Pernah jatuh cinta berdua, kemudian merindu sendiri. Di sini, bersayap sunyi.

III

Merindulah di pipi sunyi yang setia ketimbang cinta yang pernah penuh porak poranda.

IV.

Tak ada yang tersisa, semua sirna. Hanya wajah kenangan yang kini terlihat samar. Juga bekas pelukmu menjadi satu-satunya yang tinggal. Kini perlahan mulai tanggal.

V.

Tentangmu kini menjadi mendung. Usai menghilang kisah kita pun lindap. Rindu tak terbendubg merajamku kalap. Berharap tetes hujan menghapus murung.

VI.

Melupa sejauh-jauhnya. Sayangnya kenangan setia terbawa.

-SS-LRM_EXPORT_380592189374448_20181228_132248567

 

Perempuan Serimbun Mimpi

Perempuan datang dalam bening pagi yang tersenyum di balik kelopak embun. Di kepalanya tumbuh rimbun dahan-dahan mimpi dari sebatang pohon asa yang menjulang di obrolan-obrolan motivasi kemudian kerap membonsai tertekan masalah yang datang silih berganti. Kembali dahan itu merimbun lagi setelah ia melihat celah untuk mewujudkan mimpi-mimpinya yang selama ini seolah hanya tumpukan mantra.-SS-

Rindu Nan Sunyi

I

Puisi datang sebagai wajah rindu

Wajah sendu tercabik temu

Sekian lama hanya menahan sendiri

Mencari sosoknya di ruang sunyi.

II

Puisi atas nama rindu nan sunyi

Datang setelah lama menghilang

Ditelan pagi membuyarkan mimpi

Masihkah cinta tertahan relevan?

III

Hujan adalah airmata rindu

Insan-insan yang meratap temu

Menghadirkan senja nan basah

Di sudut hati berkalung gundah

Merdeka!

I

Tak ada kata menyerah

Untuk menegakkan marwah

Tak ada kata kalah

Bertekuk pada sang penjajah

Karena nafas kita adalah pejuang

Pasrah bukan pilihan

Berjuang dan lawan!

II

Merdeka!

Merdeka dari rasa dengki

Merdeka dari iri hati

Merdeka dari caci maki

Merdeka dari logika mati

Merdeka dari kepo tanpa solusi

Merdeka dari konsumsi hoax, fitnah

Merdeka dari mengisi waktu dengan ghibah

Merdeka dari mental mudah menyerah

Merdeka dari prasangka

Merdeka dari adu domba

Merdeka dari ketakutan

Merdeka dari kemalasan

Merdeka!

III

Diri yang berdaya

Diri yang menyebarkan cinta

Diri yang memanusiakan manusia

Modal memajukan negeri tercinta

Untuk Indonesia, rumah kita bersama

IV

Hai pejuang timnas U23 namanya

Kami bangga engkau demikian gagahnya

Kau kunyah Laos hingga bertekuk kalah

Menjadi hadiah maha indah

Di hari kemerdekaan penuh berkah.

Puisi Hujan, Basah, Dingin

IMG_20180625_141341

I

Hujan
Gelap baru saja merentangkan tangan
Saat mata kita beradu di sebuah persimpangan
Tak peduli mendung menggantung
Kita berdua mematung

Searah garis gerimis
Sebaris senyum menguar magis
Titik-titik air membesar
Hujan di bulan Juli menderas
Air luruh
Hati kita jatuh
-SS-

II

Basah

Senja bersama kamu
menjadi kisah yang basah
melukis tawa dari kubangan lara:

kecewa atas mimpi-mimpi
yang kubangun di atas pondasi yakin
semua akan memberikan hasil
setelah ikhtiar keras dan belajar gigih
tapi yang kudapati hanya nihil

Saat mata kita beradu
adalah momen gairah kembali menemukan titiknya :

ada debar melafalkan cinta
basah mengusir mimpi yang garing
kering dihisap kecewa yang terus melanda.
-SS-

III

Dingin

Wajah dingin menyebar
Ketika kita baru saja beranjak
Dari bangku penuh catatan
Yang memenuhi benak.

Gigil langsung menyapa
Dari hembusan angin utara
Menusuk tajam hingga kulit mengernyit

Namun hangat kemudian menguar
Kala kau kenakan jaketmu ke tubuhku
Mengepas kerah yang agak melipat
Memandang wajahku lekat-lekat.
-SS-

Untuk Yang Berpulang
(Insiden Mako Brimob, Mei 2018)

Kepada yang gugur saat tugas berjaga
Semoga kalian tenang di alam sana
Mendapat tempat terbaik dari Sang Maha
Diganjar Allah SWT menjadi syuhada

Kepada yang berpulang kala tugas negara
Perjuangan kalian tidak akan sia-sia
Simpati dan duka kami untuk kalian semua
Para pahlawan bangsa yang gugur setelah bertahan dalam tawanan, disiksa,
dipukul, disayat, ditendang, ditusuk leher, dibacok seakan kalian bukan manusia
Oleh orang-orang yang mengaku berjihad atas nama agama
Tapi perilaku bengis jauh dari akhlak yang diajarkan Rasulullah SAW yang lembut hatinya
Doa kami untuk kalian semua. Al Fatihah
-SS-PicsArt_05-12-11.33.58

Apa Kabarmu

Apa kabarmu hari ini
Setelah puluhan purnama kutaruh kenangan di balik barisan awan yang membauri wajah langit berwarna biru kesukaanmu. Tak perlu merasa berdosa telah menggurat luka di dada. Aku telah melupakan dan menumpahkan bersama sekawanan hujan yang dulu selalu menggali airmata. Aku sudah bisa menerima semua. Mudah-mudahan kamu lega dan bahagia.
-SS-