Puisi Buka Puasa

Kita adalah batas waktu antara puasa dan berbuka. Ada inginku yang tertuju pada kolak pisang. Dan inginmu yang berlabuh pada lontong dan gorengan. Pada akhirnya kita hanya mereguk yang dari awal kita acuhkan.

Untuk Yang Berpulang
(Insiden Mako Brimob, Mei 2018)

Kepada yang gugur saat tugas berjaga
Semoga kalian tenang di alam sana
Mendapat tempat terbaik dari Sang Maha
Diganjar Allah SWT menjadi syuhada

Kepada yang berpulang kala tugas negara
Perjuangan kalian tidak akan sia-sia
Simpati dan duka kami untuk kalian semua
Para pahlawan bangsa yang gugur setelah bertahan dalam tawanan, disiksa,
dipukul, disayat, ditendang, ditusuk leher, dibacok seakan kalian bukan manusia
Oleh orang-orang yang mengaku berjihad atas nama agama
Tapi perilaku bengis jauh dari akhlak yang diajarkan Rasulullah SAW yang lembut hatinya
Doa kami untuk kalian semua. Al Fatihah
-SS-PicsArt_05-12-11.33.58

Apa Kabarmu

Apa kabarmu hari ini
Setelah puluhan purnama kutaruh kenangan di balik barisan awan yang membauri wajah langit berwarna biru kesukaanmu. Tak perlu merasa berdosa telah menggurat luka di dada. Aku telah melupakan dan menumpahkan bersama sekawanan hujan yang dulu selalu menggali airmata. Aku sudah bisa menerima semua. Mudah-mudahan kamu lega dan bahagia.
-SS-

Puisi Mimpi

Senja di garis pantai nan hening
Mimpimu serupa lautan kering
Kerontang dipenuhi barisan karang
Sesekali ombak mendekat menjilat
menciumi pasir angkuh jiwamu
menjauh terseret pusaran diam
riak bimbang sang gelombang.
-Susan Sutardjo-

Ex (2)

1

You were my light
But now you are my ex.

2

I have removed your name on my contact
I have blocked your number on whatsapp
But I can’t delete you in my heart.

Kali Pertama

imageKamu ingat pertama kali kita dipertemukan oleh semesta? Ya, tanpa kita rencana. Kamu yang berada di seberang menatapku. Aku tanpa sengaja melihatmu.

Kamu ingat,kamu berjalan mendekatiku. Duduk di sampingku. Seperti lazimnya dua orang asing yang baru bertemu. Kamu mengenalkan dirimu. Dan mulai bertanya tentang diriku. Entah kenapa, aku merasa menemukan teman lama. Kamu yang baru kujumpa. Kali pertama.

Pasrah

1.

Kepada ingin yang rebah pada takdir Sang Pencipta kehidupan.Namun logika kerap meronta mengeluarkan tanya yang tak kunjung kelar dengan satu jawaban.Diam-diam ia simpan di balik dinding di antara celah pasrah.Pada suatu petang ketika ia merasa lelah.

2.

Langkah perempuan itu sudah jauh melewati tanjakan dan turunan.Di sepanjang jalan tak lupa ia lafadzkan doa untuk keselamatan.Seperti pesan ibu yang selalu ia pegang.Batu, kerikil, dan asap kendaraan menjadi ujian yang acap ia anggap sebagai teman.Agar perjalanan terasa lebih ringan.

Tapi angin membuat langkahnya tak beraturan. Desaunya seolah meruntuhkan keyakinannya akan probabilitas kehidupan. Kadang membuatnya limbung dan enggan bangkit menjajal kemungkinan. Pasrah pada keadaan.

-Susan Sutardjo-

Ex

 

1.

Kita dulu adalah cerita

Saat matamu berbubuk cinta

2.

Kita dulu berjalan searah

Di tengah jalan kamu memutar arah

3.

Aku melihatmu sebagai masa depanku

Engkau menganganggapku masa lalu

4.

Matamu mengeja

Terjaga

Tapi hatimu berdegup kencang

Apalagi kalau bukan karena mimpi barusan

Tatapan tatapan yang enggan dibungkus kenangan

5.

Tanpa sepengetahuanmu

Ia diam-diam telah menutup buku

Kisah-kisah kalian kini hanya masa lalu

Tak ada lagi lembar catatan rindu

 

 

Demi Pagi

Demi pagi aku rela digulung sepi
Sunyi membekuk kata-kata
Berontak menari di panggung larik puisi
Menyuarakan lara menghujam sukma

-Susan Sutardjo-

Mimpi

Demi mimpi aku rela jatuh berkali-kali
Merangkak, merintih, bangun, tertatih
Tak perlu kau tanya tangis dan pedih
Luka, kecewa mengucur dari jari-jari puisi.
-Susan Sutardjo-

Tutup Buku

Sadarlah tanpa sepengetahuanmu
Ia diam-diam telah menutup buku
Kisah-kisah kalian kini hanya masa lalu
Tak ada lagi lembar catatan rindu.

-Susan Sutardjo-

Jakarta, Januari 2018

“Retak” Cerita hati yang tak utuh lagi

Kepada Kopi

Engkau adalah seasli-aslinya puisi

Melarik resah dalam paragraf sunyi

Hari adalah kumpulan mimpi

Menyublim dalam segaris aksi

Yang perlu perayaan

Sebelum lelah bersuara lantang

Secangkirmu tersaji hangat

Tanpa perlu nyinyir, mengusir penat

-SS-