Audrey Tidak Sendiri

 

PicsArt_04-10-09.01.17

Mengapa kita harus memberikan dukungan Audrey dan korban bullying lain? Sebagai bentuk kepedulian dan untuk memutus mata rantai bullying, tentunya.

Audrey, siswi SMP di Pontianak berusia 14 tahun menjadi korban bullying fisik oleh 12 siswi SMA di Pontianak. Simpati dan support untuk Audrey mengalir setelah ada akun di twitter yang mengetwit tentang Audrey dengan tagar #justiceforaudrey.

Seorang siswi yang masih remaja, sedang mencari identitas dirinya (self identity) seperti Audrey harus mengalami kejadian yang buruk berupa bullying fisik yang kontraproduktif dalam membentuk self identity.

Bullying atau perundungan bukan masalah sepele karena berdampak buruk bagi psikis korban. Korban akan merasa tidak berharga, membenci dirinya sendiri (low self esteem), tidak percaya diri, merasa sendiri, stress, depresi, dan gangguan fisik seperti tidak nafsu makan, mual, pusing, dll.

Dukungan dari banyak orang akan membuat sang korban seperti Audrey mempunyai emosi positif yang penting sebagai coping strategies saat korban merasa depresi setelah menjadi korban bullying. Korban bullying akan merasa diterima sebagai bagian komunitas sosial, merasa dicintai, percaya diri, lebih optimis, semangat menyembuhkan luka psikis dan fisiknya.

Dukungan Dalam Bentuk Apa?

Support atau dukungan kepada Audrey dan korban perundungan lain bisa dalam beragam bentuk.

  1. Postingan di media sosial tanpa menampilkan wajah sang korban. Remaja adalah fase mencari identitas (self identity). Mereka berada dalam masa peralihan dari anak-anak ke tahap dewasa. Penting bagi komunitas untuk menjaga privacy, pengalaman traumatic remaja yang berpengaruh besar dalam psikologis mereka dengan tidak menampilkan wajah mereka. Postingan wajah mereka terkait kejadian traumatic akan membuat luka batin mereka lama sembuh. Postingan wajah juga bisa membuat korban lebih sensitif seperti meresponsnya dengan perasaan sedih, marah.
  2. Mengunjungi korban. Kunjungan yang kita lakukan adalah untuk kesehatan jiwa, bentuk empati kepada korban. Sekaligus menguatkan bahwa sang korban dibela banyak orang. Namun, ada etika yang perlu diperhatikan ketika kita mengunjungi korban perundungan, bullying atau kekerasan pada anak-anak atau remaja. Kita tidak perlu menampilkan wajah atau sosok korban. Kita tidak perlu pembuktian kepada dunia kalua kita sudah peduli dengan mengunjungi tanpa memikirkan kondisi psikis sang korban.
  3. Berikan dukungan langsung dengan memeluk korban, memberikan tepukan hangat kepada korban, dan mengucapkan kata-kata positif yang sehat untuk mentalnya. Seperti “Semua orang sayang kamu.” “Kamu berharga.” “Kamu tidak seperti yang dikatakan mereka.” Dukungan dari kita menjadi modal bagi korban untuk bangkit dan belajar kemampuan pro social. Akhirnya sang korban akan berani tegas terhadap tindakan perundungan, bullying tanpa harus mengembalikan harga dirinya, kepercayaan dirinya dengan bertindak sebagai pelaku bullying.
  4. Ada peran kita dalam memutus mata rantai korban bullying menjadi pelaku bullying. Mari suarakan dukungan kita untuk Audrey dan korban-korban perundungan lain yang memilih diam dan tertatih menyembuhkan luka sendirian. #justiceforaudrey

Kunci Bahagia Dalam Sebuah Relasi

PicsArt_03-07-04.01.08

Setiap manusia di dunia ini pasti menginginkan hidupnya bahagia. Sayangnya, tidak semua bisa merasakannya. Bahkan, bahagia kerap tertukar dengan sukses. Kesuksesan kerap dianggap sebagai kenahagiaan atau dianggap sebagai tiket bahagia. Kesuksesan bisa menjadi salah satu faktor yang membuat orang bahagia. Tapi, kesuksesan bukan penentu kenahagiaan. Nah lho?

Berikut kunci meraih kebahagiaan dalam sebuah relasi antar sesama manusia dan hubungan sebagai sepasang kekasih atau suami istri. Tips berikut yang disarikan dari http://www.pursuit-of-happiness.org merupakan hasil dari studi ilmiah tentang Positive Psychology dan ilmu kebahagiaan daam formula sederhana. Sehingga, kita menemukan apa yang membuat kita bahagia. 

Setidaknya ada dua sorotan atau highlight yang menjadi konsiderans dalam meraih kebahagiaan.

1.Orang yang memiliki satu atau lebih sahabat dekat tampak lebih bahagia. Mengapa? Karena membagi perasaan pribadi (self-disclosure) kepada orang lain mempunyai peran penting dalam menghilangkan stres dan depresi.

2.Mendengarkan dengan sabar dan merespons dengan cara proper dan konstruktif (Active-Constructive Responding) adalah cara yang sangat efektif untuk menumbuhkan emosi positif dan memperdalam hubungan.

Dua pelopor Psikologi Positif Ed Diener dan Martin Seligman pada tahun 2002 melakukan studi di University of Illinois. Penelitian keduanya  mengenai kebahagiaan pada diri siswa yang memperoleh nilai tertinggi.  Sampel dalam penelitian tersebut 10 persen dari jumlah total siswa yang mendapat nilai tertinggi.

Keduanya menemukan bahwa karakteristik paling menonjol yang dimiliki oleh siswa yang sangat bahagia dan mempunyai tanda depresi paling sedikit adalah siswa yang mempunyai ikatan kuat dengan teman dan keluarga mereka. Mereka juga berkomitmen menghabiskan waktu bersama teman dekat dan keluarga.” ( Claudia Wallis, Majalah Waktu, 09 Januari 2005).

Dalam sebuah penelitian, orang ditanya secara acak tentang suasana hati mereka. Ternyata mereka menjawab paling bahagia ketika bersama dengan teman mereka, diikuti peringkat berikutnya bersama anggota keluarga, dan paling tidak bahagia jika mereka sedang sendirian (Larson, Mannell, & Zuzanek, 1986).

Studi lain menggunakan skala kerjasama sebagai prediktor kebahagiaan. Skala kerjasama adalah  bagaimana orang bersedia melakukan kegiatan konstruktif dengan orang lain. Studi ini menunjukkan bahwa kemauan bekerjasama seseorang merupakan prediktor kebahagiaan. Walaupun hasil studi tidak secara meyakinkan menunjukkan hubungan langsung  jika seseorang  mau bekerjasama maka mereka akan bahagia atau sebaliknya. (Lu & Argyle, 1991).

Sebuah studi yang meneliti tentang kualitas hubungan menemukan bahwa untuk menghindari kesepian, orang hanya membutuhkan satu hubungan dekat ditambah dengan jaringan hubungan lain. Untuk membentuk sebuah hubungan yang erat diperlukan adanya rasa percaya kepada ybs untuk mendengarkan dan bisa menjaga rahasia pribadi kita. Tanpa ada sesi curhat, maka seseorang yang mempunyai banyak teman tetap akan merasa kesepian (Jackson, Soderlind & Weiss, 2000, Horesh, Apter, 2006).

Sebuah studi serupa menemukan bahwa beberapa siswa yang memiliki banyak teman dan sering menghabiskan waktu bersama akan tetap dilanda kesepian jika dalam pola hubungan hanya membahas hal-hal yang bersifat umum seperti olahraga, musik. Bukan kehidupan pribadi (Wheeler). 

Mendengarkan dengan hati-hati dan merespons dengan cara yang proper (Active-Constructive Responding) adalah cara yang sangat efektif untuk menumbuhkan emosi positif dan memperdalam hubungan. (Niederkrotenthaler, Gould, et al, 2016)

Kebahagiaan tidak hanya bisa diperoleh dari dukungan sosial tetapi bisa lebih bermakna dengan menyediakan dukungan tersebut  (Brown et al., 2003). Studi ini meneliti bagaimana pemberian dukungan sosial mempengaruhi kesejahteraan dan kematian. Kita juga kehilangan makna dalam hidup jika kita dikucilkan dan terisolasi dari lingkungan sosial (Stillman et al 2009).

Studi khusus tentang dukungan sosial dan kebahagiaan menggunakan empat treatment berbeda.  Peserta akan ditolak atau dikucilkan oleh orang lain. Para peneliti menemukan bahwa kesepian menghasilkan tingkat makna yang lebih rendah dan meningkatkatn depresi.