Hujan di Langit Haram

Gelap enggan menghilang
Meski shubuh telah datang
Ada yang tak biasa di atas sana
Langit Haram terlihat muram
Rintik pun jatuh, hujan yang luruh

Tak berapa lama kabar duka datang
Seorang berilmu telah berpulang
Airmata pun keluar tanpa dikasih aba-aba
Siapa yang tak berduka, ulama teduh tercinta
Kembali ke haribaan Nya

Tepat hari Selasa seperti pinta dalam doanya
Beliau meninggalkan kita semua
Selasa, kata beliau, hari berpulangnya
Orang-orang berilmu kepada Yang Maha Kuasa

Beliau berpulang kala menjadi tamu Tuhan
Menunaikan ibadah haji terakhir kali
Meninggal di Mekah seperti yang diingini
Serupa doa yang kerap beliau munajadkan

Di Ma’la beliau beristirahat di keabadian
Berkumpul sahabat nabi sang teladan
Tinggal kita di sini dirundung kesedihan
Mendoakan disela isak kehilangan

Selamat jalan Syaikhana Maimoen Zubair
Teladanmu adalah keteduhan untuk ummat dan negeri ini yang mudah pecah diamuk marah. Al fatihah.

PicsArt_08-06-07.26.48SS-
Jakarta, 6 Agustus 2019

Patah, Melupa

PicsArt_09-20-10.19.45

I

Serupa hujan yang rela jatuh berkali-kali. Hatiku sudi patah berulangkali.

II.

Pernah jatuh cinta berdua, kemudian merindu sendiri. Di sini, bersayap sunyi.

III

Merindulah di pipi sunyi yang setia ketimbang cinta yang pernah penuh porak poranda.

IV.

Tak ada yang tersisa, semua sirna. Hanya wajah kenangan yang kini terlihat samar. Juga bekas pelukmu menjadi satu-satunya yang tinggal. Kini perlahan mulai tanggal.

V.

Tentangmu kini menjadi mendung. Usai menghilang kisah kita pun lindap. Rindu tak terbendubg merajamku kalap. Berharap tetes hujan menghapus murung.

VI.

Melupa sejauh-jauhnya. Sayangnya kenangan setia terbawa.

-SS-LRM_EXPORT_380592189374448_20181228_132248567