Maunya Nyaman. Maunya Branded? Tapi Uang Pas-Pasan.

20200619_222339

Demi gengsi, kadang orang enggan menurunkan standar nyaman. Finansial pun tergerus ambyar.

Ini cerita temanku. Panggil saja namanya Dira. Tubuhnya jangkung, kulit bersih, wajahnya terbilang cantik. Sekilas, hidup Dira baik-baik saja.

Ia tinggal bersama mamanya di sebilang rumah nan apik dengan perabotan antik. Sebagai anak kost yang main ke rumahnya, aku kerap dibuat takjub dengan koleksi piring-piring antik mama Dira. Aku memanggilnya tante, tanpa ada nama dibelakangnya.

Dari sudut pandangku, keluarga Dira lebih berkecukupan dilihat dari rumah dan koleksi houseware mamanya. Itu sebelum aku tahu cerita sebenarnya.

Nyatanya, rumah yang ditempati Dira bersama mamanya, belakangan baru aku tahu, ternyata rumah kontrakan, bukan rumah sendiri.

Menurut cerita Dira, mamanya membayar kontrakan dari uang pensiunan almarhum papa Dira yang dulunya karirnya sudah terbilang lumayan di pemerintahan.

Bahkan, Dira pernah cerita, waktu kecil mereka sempat tinggal di salah satu kompleks elit di Jakarta Selatan. Dira juga bercerita keluarganya kerap traveling ke luar negeri saat papanya masih hidup.

Pelan Pelan Aset Berkurang

Selepas papa Dira meninggal dunia, mama Dira mengandalkan uang pensiunan almarhum suami untuk membiayai hidupnya dan anaknya.

Bisa ditebak kan, lambat laun aset keluarga orang tua Dira akan menipis karena tidak ada pemasukan, sementara pengeluaran berjalan terus tiap hari.

Hal pertama yang dilakukan adalah tidak menggunakan lagi asisten rumah tangga yang sudah ikut keluarga Dira dari Dira kecil.

Secara langsung, kenyamanan mama Dira dan Dira pun terganggu. Karena mulai saat itu mereka harus melakukan apa-apa sendiri.

Bukan hanya ART yang dirumahkan. Rumah peninggalan almarhum papa Dira juga dijual untuk membiayai kebutuhan yang tidak bisa ditahan. Juga mobil yang selama ini mengantarkan orang tua Dira dan Dira selama berkegiatan.

Dira dan mamanya kemudian memilih mengontrak di pinggiran Jakarta. Salah satu peninggalan dari masa hidup berkecukupan mereka yakni piranti makan yang terbilang lux. Juga perabot rumah nan antik.

Gengsi, Bertahan dengan Nyaman
Ada pelajaran yang bisa diambil dari kisah hidup keluarga Dira. Kondisi keluarga Dira akan lebih baik, maksudnya tetap punya rumah sendiri meskipun di pinggiran, andaikan mama Dira melucuti gengsi.

Dira dan mamanya tidak perlu berpindah tempat karena harus mencari kontrakan yang nyaman dengan harga terjangkau. Tentu saja juga harus membayar kontrakan tiap tahunnya. Selain itu, lebih tenang karena punya rumah sendiri, sekaligus punya aset untuk jaminan.

Enggan Menyesuaikan Keadaan
Aset keluarga Dira juga tidak akan terjun bebas, andaikan Dira dan keluarganya mau berdamai dengan keadaan. Alias mau menyesuaikan diri dengan keadaan.

Meskipun penghasilannya hanya bergantung pada pensiunan, standar hidup mama Dira tidak berubah. Salah satunya dalam hal transportasi. Si tante ini kemana-mana selalu menggunakan taksi, tidak mau naik angkutan umum.

Begitu pun dalam hal fesyen. Kata Dira sendiri mamanya dan dirinya terbiasa membeli barang branded. Alhasil, uang yang pas-pasan itu pun tergerus untuk membeli barang-barang branded.

Model-model keluarga seperti mama Dira ini biasanya mengutamakan look ketimbang aset untuk keamanan keuangan keluarga. Mereka menyebar di berbagai kalangan.

Bahkan dalam sebuah podcast Deddy Corbuzier, seorang financial consultant cerita bahwa salah satu kliennya dari kalangan artis kelimpungan di masa sulit seperti sekarang. Karena ybs tidak punya tabungan dan aset. Padahal penghasilannya ratusan juta sekali show. Ternyata uang penghasilan si artis ini sebagian besar dialokasikan untuk belanja barang-barang  branded yang saat ini nilainya jatuh. Sementara job lagi sepi. Kebayang kan?

Saving dan memikirkan keamanan hari esok secara proporsional itu penting. Karena hidup perlu biaya, bukan gaya. Jangan sampai terjebak ingin terlihat kaya, tapi tidak punya apa-apa. Alias budget pas-pasan tapi jiwa sosialita.

Bayangkan hidup memuja penampilan, tanpa aset, di musim sulit seperti pandemi covid19 seperti sekarang. Padahal, impresi orang tidak membuat kita kenyang dan aman kan?

Lathi “Pemuja Setan?”

Ada pesan kebaikan dari lirik lagu Lathi. Tapi yang mencuat malah isu pemuja setan. Kamu tim mana?

Salah satu lagu yang tengah hits di kanal Youtube saat ini adalah Lathi. Lagu Lathi besutan grup musik beraliran EDM beranggotakan Reza Arap, Eka Gustiwana dan Gerald berkolaborasi dengan penyanyi Sara Fajira.

Menariknya, Lathi saat ini berhasil masuk dalam daftar 100 lagu top global atau ada di peringkat 21. Atau berada di atas lagu Daechwita milik Suga BTS yang menduduki posisi 24.

Dari kostum dan judul lagu, lagu ini sudah bisa ditebak ada unsur Jawanya. Tapi, impresi awal bagi sebagian besar yang mendengar lagu ini adalah lagu barat, karena liriknya menggunakan bahasa Inggris. Terlebih, dibawakan oleh Weird Genius. Lagi-lagi menggunakan bahasa Inggris.

Baru pada reff “Kowe ra iso mlayu soko kesalahan” asumsi kalau lagu ini memang dari Indonesia lebih berdasar. Tapi, sekali lagi, bisa saja itu yang bikin orang barat dan pernah berkunjung ke Jogja. Who knows.

Siapa sangja Lathi merupakan karya anak bangsa kolaborasi grup Weird Genius dengan penyanyi Sara Fajira.

Pemuja Setan?
Uniknya, karena kareografi dan make up Sara selama video Lathi sebagian terlihat seram dan berdarah-darah untuk menggambarkan luka dia, diimpresikan sebagai pemuja setan oleh sebagian warga Malaysia yang tidak mengerti bahasa Jawa.

Terlebih dengan adanya komentar seorang ustadz di Malaysia yang menganggap lagu Lathi sebagai pemuja setan.

Sejatinya, heboh anggapan lagu Lathi sebagai pemuja setan oleh sebagian warga Malaysia tetap mengandung unsur positif dalam hal popularitas lagu ini. Secara tidak langsung menjadi medium marketing yang membuat Lathi kian dikenal.

Apalagi saat ini di platform IG juga ada lathi challenge. Juga di tik tok yang membuat lagu Lathi kian dikenal banyak orang.

Pesan Positif Menjaga Lisan

Sejatinya lirik lagu Lathi berbahasa Jawa “Ajining diri soko lathi” Bisa diartikulasikan sebagai pesan untuk menjaga lisan. Karena kita dihargai salah satunya dari ucapan kita.

So, mau ikut yang pro atau kontra? Karya seni memang bisa multi tafsir. Tergantung pengalaman yang melihat dan mendengarnya. Karena tiap kepala mempunyai perspektif berbeda.

Merespons Biasa

PicsArt_03-08-11.13.04

Respons reaktif dengan menghakimi, atau membela kesalahan adalah dua sisi ekstrim dari sebuah fenomena. Seharusnya bagaimana?

Belakangan publik tanah air dibuat geger dengan peristiwa kontestan Putri Indonesia asal Sumatera Barat yang salah dalam menjawab pertanyaan dari Ketua MPRI Bambang Soesatyo tentang sila-sila dari Pancasila.

Kesalahan dalam kontes ajang kecantikan itu pun berlanjut dengan kehebohan di dunia maya. Akun instagram sang putri pun banjir kritikan, kalimat kekecewaan, yang mengarah kepada tindak kekerasan di dunia maya alias cyberbullying.

Respon reaktif dengan mem-bully, menghakimi kesalahan orang lain, dalam hal ini Kalista adalah tindakan tidak terpuji, alias melukai wajah kemanusiaan.

Juga merugikan diri kita sendiri karena menambah jumlah dosa kita sebagai makhluk yang rentan dari khilaf dan dosa.

Respon reaktif sebaliknya, yakni membela kesalahan ybs dengan melupakan fakta bahwa ybs memang tidak bisa menjawab pertanyaan tentang ideologi negara, juga bukan respons yang bijak.

Bahkan, ada salah satu tokoh publik ternama yang membela kesalahan sang putri di salah satu postingannya. Seolah menafikan fakta yang ada. Yang disayangkan, dalam postingan tersebut juga membuka kesalahan serupa yang dilakukan si penanya dalam ajang kontestasi kecantikan.

Dalam menanggapi kasus seperti ini, kita sebagai orang luar, tidak pernah tahu persis kebenaran yang sebenarnya.  Apakah ybs memang grogi akhirnya lupa sebagai kewajaran manusia. Atau ybs memang tidak hafal sila-sila dalam Pancasila.

Merujuk pada kondisi umum sebagian warga negara, kita pasti tahu, ada sebagian warga yang memang tidak hafal Pancasila. Kemudian me-refer ybs sebagai manusia, bisa jadi kesalahan tidak bisa menjawab sila dari Pancasila disebabkan faktor grogi akhirnya membuat ybs lupa.

Sekali lagi, kita, sebagai orang di luar ybs, yang tidak tahu persis alasannya mengapa ia salah menjawab, hanya bisa membuat asumsi-asumsi dengan mengacu pada dua alasan di atas.

Alangkah lebih baik jika kita merespons kesalahan ybs dengan biasa saja. Caranya dengan memaklumi kesalahan ybs dan menganggap kesalahan itu dengan reason dua hal di atas.

Bukan malah membela kesalahan yang merupakan fakta. Kemudian merubahnya dengan opini kita berdasar asumsi kita sendiri menjadi kebenaran baru. Selamat berhari Minggu

“Kebaikan Bermula dari Hati. Bukan Penampilan.”

PicsArt_03-08-10.50.17

Menilai baik buruknya seseorang hanya dari baju akan mudah tertipu. Meski, baju menjadi salah satu standar ketaqwaan kepada Tuhan.

Yang terlihat baik, kadang sebaliknya, jahatnya naudzubillah min dzalik. Yang terlihat jahat, di luar dugaan perlakuannya ke sesama seperti malaikat. Jangan mudah terpukau dengan penampilan.

Jangan gampang menuduh buruk hanya karena penampilan. Meskipun, penampilan menjadi simbol kepatuhan seorang hamba terhadap perintahNya.

Mengapa jangan mudah terpukau dengan penampilan yang sekilas terlihat agamis? Karena setiap manusia punya sisi baik dan buruk.

Tidak ada orang yang 100 persen buruk, dan tidak ada orang yang 100 persen baik. Ada sisi abu-abu yang fleksibel bisa bermigrasi dari baik atau buruk dan buruk ke baik.

So, karena setiap manusia punya potensi baik dan buruk, bisa menjadi manusia baik sekaligus berubah jahat dan sebaliknya, sudah seharusnya kita tidak gampang menuduh, membuat judgement hanya dari tampilan belaka tanpa mempertimbangkan aspek lainnya.

Kadang yang dandanan urakan, hati dan perlakuan kepada sesama sangat baik di luar ekspektasi manusia. Sebaliknya, yang dari dandanannya kita anggap alim, hati dan perlakuannya kadang kepada sesama sangat jauh dari ajaran agama yang mulia.

Terlebih ketika kita bertemu dengan model manusia-manusia manipulatif yang memanfaatkan atribut-atribut agama untuk kepentingan diri sendiri, keuntungan diri sendiri tapi merugikan orang lain, meraih simpati, empati untuk meringankan hukuman atas kejahatan yang dilakukan.

Konklusinya, jangan gampang melabeli orang, berprasangka buruk hanya dari tampilan. Meskipun, berbaju sopan sesuai ajaran agama tetap menjadi salah satu standar kebaikan dan tuntunan.

Karena, kebaikan dan kejahatan bermula dari hati, bukan dari baju yang dikenakan. Jangan gampang silau ya. Karena engkau akan kecewa.

Bahagia dengan Mindset Minimalis

PicsArt_02-09-10.32.05

Bahagia datangnya dari hati, bukan materi. Mindset minimalis bukan hanya terkait materi, memeluk hati untuk senantiasa bahagia.

Minimalism belakangan sedang ramai dibicarakan sejak Marie Kondo mengenalkan konsep minimalis terkait barang kepemilikan. So, belakangan kita kian akrab dengan konsep declutter. Kita sibuk merapikan baju-baju kita agar mudah diambil ketika perlu, dan kita mengurangi baju-baju yang tidak kita butuhkan agar tidak mubadzir dan memenuhi rumah kita.

Sejatinya, minimalis bukan hanya sekedar membatasi kepemilikan materi berdasar needs alias kebutuhan. Minimalis juga meliputi mindset alias pemikiran, body alias raga, dan hati.

Minimalis dalam hal pemikiran dipraktekkan dengan memilah pikiran-pikiran tidak penting dan penting. Salah satu cara yang bisa dipraktekkan adalah memfilter info-info yang masuk dari gawai alias gadget kita. Apakah info yang kita baca berguna atau hanya menjadi sampah bagi otak kita.

Minimalism dalam hal pikiran juga bisa diartikan membatasi percakapan sia-sia yang akhirnya membebani pikiran kita. Misalnya terlibat obrolan dalam grup WA yang sebenarnya bukan menjadi urusan kita. Atau ikutan gosip di akun-akun gosip IG yang tidak ada kaitan dengan hidup kita.

Lalu, apa yang dimaksud dengan minimalism dalam hal body? Tentu saja menjaga agar berat badan kita tidak berlebihan. Caranya tentu saja aktif bergerak, makan secukupnya dengan gizi berimbang, minum air putih sesuai kebutuhan tubuh.

Selain itu aktif puasa senin kamis atau puasa 3 hari setiap bulan hijriah untuk memberi kesempatan organ pencernaan kita istirahat.

Minimalism dalam hati terkait dengan emosi. Minimalism dalam hati akan menirkan kecewa yang kerap menjadi tabir datangnya bahagia.

Cara merealisasikan minimalism dalam hati adalah tidak berekspektasi orang lain harus memperlakukan kita seperti yang kita standarkan atau idealkan. Tanpa adanya ekspektasi alias harapan diperlakukan seperti yang kita inginkan, kita akan tidak gampang kecewa alias baperan untuk hal-hal remeh temeh yang sejatinya tidak penting bagi hidup kita.

Terbayang kan, betapa ringannya hidup kita. Karena tidak terbebani oleh kegiatan mencari-cari barang dan baju yang kita lupa taruh di mana. Tidak terbebani oleh info-info sampah yang bisa merusak hari dan mendatangkan energi negatif bagi kita.

Lainnya, kita merasa ringan melangkah karena tubuh kita tidak berlebihan beratnya. Kita juga tidak mudah baper, uring-uringan, marah hanya karena orang lain memperlakukan kita tidak sesuai dengan bayangan, atau keinginan kita.

Ketika Agama Hanya Berhenti di Simbol

Masih ingat Amel Alvi yang tertangkap karena prostitusi pada 2015 datang ke ruang sidang menggunakan baju gamis dan cadar warna hitam? Untuk melengkapi citra agamisnya, hari itu Amel juga membawa tasbih di tangannya. Atau terpidana kasus korupsi miliaran rupiah Angelina Sondakh yang mendapat pujian karena khatam Al Quran dan mengenakan jilbab pada Juli 2015.

Atau artis Luna Maya dan Cut Tari ketika dikaitkan kasus video porno. Keduanya berpenampilan lebih tertutup ketika memberikan klarifikasi terkait video yang sempat menghebohkan tanah air tersebut.

Seperti dilansir newsdetik.com Malinda Dee yang tersangkut kasus penggelapan dana nasabah Citibank Rp 16 miliar juga mendadak mengenakan kerudung saat hadir di KPK. Nunun Nurbaeti tersangkut kasus cek pelawat pemilihan Deputi Gubernur  Senior Bank Indonesia juga tiba-tiba mengenakan jilbab ketika berurusan dengan KPK pada 2011.

Sejumlah perempuan lain yang tersangkut hukum karena kasus korupsi dan suap juga mendadak tampil agamis. Seperti Dharnawati yang tertangkap KPK pada 2011 karena kasus suap di Kemenakertrans, setelah berurusan dengan hukum ia mengenakan cadar. Hal senada juga dilakukan Yulianis yang terlibat kasus korupsi Wisma Atlet SEA Games era SBY. Ia mengenakan cadar setelah berurusan dengan KPK.

Pejabat publik juga mengenakan jilbab ketika tersangkut kasus korupsi seperti Imas Dianasari hakim ad hoc di Pengadilan Hubungan Industrial di Bandung yang merubah tampilannya dengan berjilbab setelah tersangkut kasus suap Rp 200 juta.

Atau Very Idham Henyansyah alias Ryan dari Jombang yang membunuh sekitar 11 orang secara berantai sekitar tahun 2008 lalu juga mengenakan baju koko dan peci ketika di persidangan.

Fenomena ganjil lain adalah penggunaan kata yang sebetulnya berkonotasi positif untuk kegiatan maling uang rakyat alias korupsi seperti liqo’ (mengaji) dan juz (juzamma) oleh politisi PKS Yudi Widiana. Politisi PKS itu tersangkut kasus menerima suap sekitar Rp 11,1 miliar untuk pembangunan jembatan di Maluku dan Maluku Utara (tirto.id).

Hal yang menyedihkan, pengadaan Al Quran oleh Kementerian Agama pada tahun 2011-2012 juga menjadi ajang maling oleh para pejabat. Kitab suci yang seharusnya menyadarkan manusia, pengadaannya bisa menjadi ajang untuk merampok uang rakyat. Sejumlah pejabat yang terlibat telah mendekam di penjara.

Postingan agamis juga kerap dilakukan oleh pejabat publik yang terkena kasus korupsi. Seperti yang dilakukan Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) sekaligus bakal calon Gubernur Kukar dari partai beringin Rita Widyasari yang terkena kasus suap gratifikasi senilai Rp 6 miliar lebih. Anak dari Bupati  Kutai alm Syaukani yang semasa hidupnya juga tersangkut kasus korupsi merugikan negara ratusan miliar itu via akun facebook-nya  membuat status  di FB “Teringat pesan bapak ku, badan boleh terpenjara, tapi tidak pikiran dan pendukung ku. Dunia ini hanya lintasan sejenak. Penjara itu tempat khusuknya ibadah.”

Agama Hanya Simbol?

Perubahan penampilan para koruptor, artis yang tersandung hukum menjadi agamis, pemilihan kalimat yang tidak jauh dari kitab suci dan nama Tuhan, tentu tidak lepas dengan kondisi masyrakat Indonesia yang terbilang agamis dari sisi ritual dan simbol, tetapi belum memahami esensi ajaran Islam.

Salah satu indikator masyarakat agamis yang masih terjebak pada simbol dan belum melangkah kepada esensi adalah sebagian besar masyarakat sudah sadar tentang perintah agama untuk menjalankan ibadah ritual seperti sholat, puasa, menutup aurat, menunaikan ibadah haji, tetapi di sisi lain pemahaman tentang akhlak atau etika belum kuat. Kiblat dari dari akhlak atau etika  adalah tidak merugikan, mengganggu kepentingan, kenyamanan, keadilan orang lain sebagai bentuk tanggung jawab kita sebagai makhluk sosial sekaligus mengamalkan ajaran akhlak yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Praktek-praktek menyimpang dari ajaran Islam yang merugikan orang lain dan gampang kita temui dalam kehidupan sehari-hari antara lain cuek duduk di kereta padahal ada penumpang lain yang lebih membutuhkan, tidak menolong korban kecelakaan malah memotret, merekam, dan mempostingnya di media sosial, tidak menolong korban kecelakaan malah mengambil barang-barang pribadi milik korban, mengendarai motor, mobil semaunya yang bisa membahayakan diri sendiri dan mengancam nyawa orang lain, tidak berusaha mengembalikan barang temuan dan menganggap sebagai rezeki, tidak meminta maaf menyalip antrian, tidak merasa malu mencontek, masuk menjadi aparat pemerintah dengan menyogok, menggoalkan tender proyek dengan menyogok pejabat, tidak bisa menjaga lisan dengan berkata kasar, menghina, mencemooh, memaki, dll.

Contoh tindakan yang tidak mencerminkan nilai Islam dan merugikan banyak orang adalah korupsi karena magnitude atau pengaruh buruknya besar untuk sebuah negara. Korupsi adalah tindakan mencuri uang rakyat. Dari tindakan oknum tersebut, masyarakat dirugikan. Karena uang yang seharusnya digunakan untuk pembangunan gedung sekolah, ruangan kelas, puskesmas, rumah sakit, pengadaan obat, buku-buku digunakan untuk pribadi. Atau misalnya pembangunan jalan, jembatan yang seharusnya kualitasnya bagus dan bisa tahan sampai puluhan tahun, karena dikorupsi untuk pribadi akhirnya kualitas bangunan jalan, jembatan menurun dan hanya bisa bertahan tidak sampai puluhan tahun. Atau dana yang seharusnya digunakan untuk meningkatkan gizi warga kurang mampu dikorupsi oleh pejabat terkait yang berdampak kematian bayi yang menderita gizi buruk.

Dengan kondisi masyarakat yang melihat kesholehan seseorang diukur dari baju, ucapan, postingan yang agamis, maka wajar jika ada pejabat publik atau artis yang tersangkut hukum akan melakukan hal ini. Pejabat yang tersangkut korupsi akan berargumen dengan menggunakan sumpah atas nama Tuhan, mengutip ayat-ayat Al Quran yang sebenarnya sudah ia khianati dan digunakan kembali untuk mendapat simpati.

Kondisi warga yang sebagian agamanya baru sebatas ritual dan simbol juga menjadi lahan empuk bagi para politisi yang kurang capable, minim prestasi, tapi hasrat berkuasanya luar biasa. Mereka tanpa ragu akan mencatut Islam untuk meningkatkan nilai jual sekaligus menjatuhkan lawan politik karena kurangnya nilai jual. Warga yang mudah terpesona dengan simbol atau hal-hal yang berbau agama akan gampang terbius dan menganggap ybs sebagai figur soleh yang layak dipilih sebagai pemimpin. Padahal wilayah leadership lebih kompleks dari sekedar kesamaan identitas dan kesolehan prbadi yang kerap tidak berbading lurus dengan integritas dan kredibilitas seseorang yang sangat diperlukan untuk menjadi pemimpin yang adil, tegas, bersih dari korupsi dan menginspirasi.

Dengan kondisi spiritualitas yang berhenti di simbol bukan masuk ke dalam esensi, maka kita kerap melihat saudara kita menghina, mencaci maki saudara muslimah lainnya yang melepas hijab. Seolah-olah hinaan, cacian kepada muslimah yang melepas hijab dianggap sebagai jihad.

Saudara muslimah yang mencaci, menghina, mengolok-olok muslimah yang lepas jilbab (simbol) sepertinya tidak menyadari bahwa keputusan menggunakan dan melepas jilbab  (simbol) itu wilayah pribadi yang tidak merugikan orang lain. Yang bersangkutan menggunakan atau melepas jilbab tidak merugikan orang di sekitarnya. Karena itu wilayah kepatuhan seorang hamba dengan perintah TuhanNya dengan model hubungan vertikal. Dosa karena melepas jilbab juga ditanggung sendiri oleh ybs.

Kalau kita takut ybs membawa pengaruh buruk terhadap muslimah lan, maka seharusnya kita memberi masukan kepada ybs secara privat, tidak terbuka diketahui orang lain seperti via inbox, DM, atau diajak bicara hanya berdua tanpa orang lain tahu. Karena adab dalam Islam, jika kita ingin memberi nasehat, tidak boleh menyakiti perasaan orang lain dengan memberi nasihat secara pribadi dan tidak di depan orang lain yang membuat ybs malu atas nasihat kita. Kesadaran memperlakukan orang lain secara manusiawi adalah manifestasi dari nilai-nilai Islam yang membentuk pribadi kita sebagai insan yang melihat agama tidak berhenti di simbol, tetapi juga termanifestasi dalam akhlak (esensi). Wallohu a’lam bishowab.

Bermoral Tak Beretika

Jika kita mengamati fenomena sosial di sekitar kita belakangan ini, kita akan mendapati semangat beragama sebagian umat Islam di Indonesia yang terbilang tinggi. Salah satu parameter yang gampang dilihat adalah penggunaan jilbab di kalangan muslimah sebagai implementasi QS An Nuur :31.

Ketika kita berada di ruang publik entah itu di jalan, pasar, di pusat perbelanjaan modern, di lembaga pendidikan, di rumah sakit, angkutan umum sebagian perempuan menggunakan jilbab.

Hal serupa ternyata juga terjadi pada siswa sekolah baik dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Hampir sebagian siswi di sekolah negeri mengenakan jilbab. Jika kita amati di jalan-jalan di ibukota, jika ada siswi bergerombol, dari sekitar 6 siswi hanya ada 2 atau 3 yang tidak menggunakan jilbab. Hal senada juga terjadi di lingkungan perguruang tinggi negeri.

Kondisi ini tentu berbeda dengan era 2000-an awal dan sebelumnya. Bahkan pada tahun 1990-an jarang sekali siswi dan mahasiswi yang mengenakan jilbab. Penggunaan jilbab masih terbatas. Bahkan foto ijazah siswa tidak boleh mengenakan jilbab.

Bukan hanya di sekolah, hingga era 2000-an awal pembatasan jilbab juga terjadi di dunia kerja. Bukan hal aneh jika kita melihat karyaawan perempuan lepas pasang jilbab karena peraturan kantor melarang mengenakan jilbab ketika bekerja.

Kini penggunaan berjilbab sudah sangat leluasa bukan hanya di dunia pendidikan tetapi juga di tempat kerja. Bahkan polisi wanita yang mengatur lalu lintas sebagian juga mengenakan jilbab.

Semangat beragama juga terlihat dengan panjangnya antrian ketika memasuki sholat maghrib di musholla stasiun dan pusat perbelanjaan modern. Saking penuhnya musholla membuat sebagian orang yang akan sholat berpikir ulang. Kondisi ini terjadi merata di sebagian besar mall ibukota dan daerah sekitarnya.

Fenomena banyaknya perempuan berjilbab dan membludaknya antrian untuk sholat maghrib di musholla stasiun dan mall merupakan hal positif. Tentu itu harus kita syukuri sebagi negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Dari sisi moralitas agama, sebagian besar masyarakat Indonesia saat ini boleh dikatakan bermoral. Sayangnya, standar moralitas yang sudah tinggi, belum diikuti dengan akhlak atau etika ketika menjalin relasi dengan orang lain.

Moralitas agama menyangkut kewajiban muslim terhadap Allah SWT seperti menjalankan perintah Islam seperti ritual sholat, zakat, puasa, dan kewajiban mengenakan jilbab. Sehingga arah hubungan adalah vertikal antara manusia dengan Tuhan. Ketika manusia tidak menjalankan perintah Allah SWT, yang berdosa dan akan mendapat punishman atau hukuman adalah pribadi yang bersangkutan bukan orang lain.

Kecuali untuk kewajiban zakat karena melibatkan orang lain. Jika seorang muslim tidak menunaikan kewajiban membayar zakat yang rugi adalah dirinya sendiri dan orang lain yang berhak menerima zakat. Untuk ibadah lain, jika tidak menjalankan, yang rugi dan berdosa adalah pribadi ybs bukan orang lain.

Rendahnya Kesadaran Berakhlak

Etika atau akhlak menyangkut bagaimana seorang individu bersikap, bertutur, dan berperilaku sebagai makhluk sosial. Sejatinya Islam sudah memberikan kriteria tentang akhlak muslim yang baik seperti dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari menyatakan seorang muslim yang baik itu adalah muslim yang orang lain aman dari lisan dan perbuatannya.

Dari hadist tersebut jelas bahwa pribadi muslim yang baik adalah pribadi yang bisa menjaga diri dari perkataan dan perbuatan yang menyakiti dan merugikan orang lain. Namun, belakangan kita melihat sebagian saudara kita yang terlihat Islami dari sisi baju dan ritual, ternyata gagal menjaga lisan dalam hal ini lisan yakni berkata dengan berhadapan secara face to face dan lisan dalam artian memposting status, dan komen yang terbilang keluar dari nilai-nilai Islami seperti posting fitnah dan komen kasar, menghina, mencaci maki dll.

Bukan hal aneh jika kita kerap menjumpai teman kita yang terlihat Islami dari penampilan tetapi status-status facebook-nya tanpa ia sadari telah menyakiti atau membuat sedih teman-teman facebook yang membacanya karena isi postingan tidak jauh-jauh dari fitnah atau menjelek-jelekkan pihak yang berseberangan dengan kelompoknya.

Ia lupa setiap orang mempunyai preferensi politik berbeda. Ia secara sadar dan tidak sadar telah menganggu kenyamanan teman facebook-nya. Kesadaran menghormati orang lain dengan tidak melakukan hal-hal atau mengucapkan perkataan, membuat status yang berpotensi mengganggu kenyamanan orang lain atau membuat orang lain sedih, marah disebut etika atau akhlak.

Kemampuan beretika atau menjaga akhlak dalam menjalin relasi orang lain mutlak diperlukan agar hubungan sosial terjaga dan jauh dari konflik sosial. Ketidakmampuan dalam beretika atau tidak bisa menjaga akhlak ketika berhubungan dengan sesama tentu berdampak langsung dalam kerukunan antar umat manusia.

Mengabaikan etika atau akhlak, berpotensi menimbulkan diskriminasi, sekat yang jelas antara mayoritas dan minoritas, kaya dan miskin, pejabat dan rakyat.  Tanpa etika atau akhlak yang baik, manusia akan menjadi pribadi rasis yang cenderung merendahkan orang lain dengan hanya memandang suku, agama, dan status sosial ekonomi. Dan lupa bahwa orang lain yang berbeda adalah sesama manusia yang punya hal untuk dihormati seperti dirinya.

Pelajaran etika atau akhlak lain yang kerap dilupakan adalah tingginya keinginan mencampuri urusan orang lain (kepo) yang bukan merupakan haknya. Bahkan, kebiasaan kepo ini kerap berdampak menyakiti perasaan orang lain atau membuat sedih orang lain karena komentar atau pertanyaan yang diajukan menyinggung perasaan orang lain. Lagi-lagi, ketika lisan tidak bisa ditempatkan secara proporsional hanya membuat orang lain terluka, menambah rentetan dosa.

Suburnya budaya kepo yang berkonotasi negatif terlihat pada komen-komen di akun gosip yang banyak tersebar di media sosial seperti instagram. Jangan kaget jika begitu membuka akun-akun gosip tersebut kita menjumpai saudari muslimah kita yang menggunjing orang atau artis yang diposting dengan bahasa yang jauh dari standar sopan. Bahkan makian atau umpatan kerap terlontar dari mulut mereka.

Fenomena sosial di atas adalah potret sebagian manusia Indonesia sekarang. Dengan kondisi tersebut, pendidikan di tanah air dan orang tua dalam hal ini keluarga mempunyai PR berat bukan hanya mencerdaskan anak-anak dari sisi intelektualitas, tetapi juga mengajarkan etika atau akhlak ketika berhubungan dengan orang lain agar tercipta masyarakat madani (civil society) untuk tatanan dunia yang lebih baik. Wallohu a’lam bisshowab.