Semakin Berharap, Semakin Kecewa

The higher our expectation, the greater our potential disappointment. Semakin tinggi harapan kita, semakin besar potensi kekecewaan kita.

Hidup tidak seperti matematika. Pasti dan bisa diprediksi. Hidup sejatinya penuh teka-teki. Yang pasti adalah ketidakpastian itu sendiri. Ketidakpastian yang memberikan peluang. Ketidakpastian yang memberikan kemungkinan. Ketidakpastian yang menyuburkan harapan. Jika peluang, kemungkinan, dan harapan tidak kunjung datang, maka yang hadir adalah kekecewaan.

Kekecewaan umumnya hadir dalam beberapa tingkatan. Versi ringan jika harapan yang tumbuh tidak besar. Usaha dan doa untuk mewujudkan harapan juga tidak seberapa. Lama kecewa juga hanya hitungan jam. Kekecewaan skala sedang jika sebenarnya berharap akan suatu hal disertai dengan usaha sungguh-sungguh dan doa yang haqqul yakin bakal dikabulkan. Karena harapan yang besar, ikhtiar yang dilakukan mengambil sebagian porsi waktu dan sebagian ruang pikiran. Lama kecewa bisa bulanan.

Versi kekecewaan mendalam jika kita all out dengan mengptimalkan seluruh kemampuan dan bedoa sungguh-sungguh, ekspektasi tinggi tetapi hasilnya jauh menyimpang dari yang diharapkan. Lama kecewa untuk level ini bisa tahunan.

Jangan Terlalu Berharap

Karena sumber kekecewaan berpangkal dari ekspektasi atau harapan, maka jika kita tidak mau kecewa, jangan terlalu berharap pada sesuatu. Ikhlaskan semua peristiwa atau kejadian dalam hidup kita. Karena yang terjadi dalam hidup kita, tidak sepenuhnya ada dalam kontrol kita. Buktinya, kita sudah belajar seoptimal mungkin untuk sebuah tes, hasil ujian kita lebih buruk ketimbang teman yang belajarnya seadanya.

Dalam karir misalnya, kita sudah berusaha bekerja lebih baik dari yang lain, lebih rajin, tepat waktu, punya inisiatif mengeluarkan ide-ide segar, ternyata teman selevel kita yang kerjanya seadanya memperoleh promosi kenaikan karir, dan kita tidak memperoleh apa-apa. Jika kita sangat berharap dipromosikan, maka kita akan mengalami kekecewaan mendalam. Tapi jika kita tidak terlalu berharap, maka kalaupun kita kecewa, hanya sekedarnya saja.

Dari kasus-kasus di atas, bukan berarti kita tidak perlu belajar giat untuk mendapat nilai bagus. Toh belajar giat tidak menjamin nilai bagus. Atau kita tidak perlu bekerja giat. Toh bekerja giat tidak menjamin dipromosikan. Akhirnya kita bekerja seadanya dan hanya berharap ada keberuntungan di pihak kita sehigga bisa dipromosikan. Kita tidak bisa menggunakan keberuntungan atau dalam bahasa jawa disebut faktor bejo untuk kesuksesan dalam hidup karena menghindari kekecewaan.

Justru dari kekecewaan-kekecewaan dalam hidup, kita belajar tidak terlalu berharap atas upaya, kerja keras yang telah kita lakukan. Dari kekecewaan dan kegagalan, kita berusaha menjadi pribadi ikhlas. Keikhalasan kita dalam menyikapi kegagalan, akan membuat jiwa kita lebih lapang. Sikap tidak terlalu berharap pada hasil membuat hidup kita lebih ringan dan tidak stres memikirkan hasil yang akan kita dapatkan. Hidup akan menjadi rangkaian kekecewaan jika kita terlalu berharap atas segala hal.

Pekerja di Jerman: Produktif dengan Jam Kerja Sedikit, dan Jatah Cuti Panjang.

lp cusppis

source : cuspis.com

Ternyata, untuk bekerja produktif tidak harus bekerja dengan jam kerja panjang. Di Jerman dengan jam kerja 35 jam seminggu dan cuti tahunan 24 hari, mereka tetap bisa produktif. Selain itu, orang Jerman juga memperoleh tunjangan liburan sebesar 25 hingga 30 hari kerja (UU ketenagakerjaan hanya menyebutkan 20 hari kerja).Wow!

Seperti ditulis Amol Sarva di laman huffingtonpost.com, ada kebiasaan positif yang dibangun orang Jerman sehingga produktivitas kerja mereka tinggi.

  1. Jam Kerja adalah Jam Kerja. Dalam budaya kerja di Jerman, ketika bekerja di kantor, mereka hanya mengerjakan hal yang berhubungan dengan pekerjaan mereka. So, kebiasaan yang kita lakukan di kantor seperti ngobrol, bergosip, membuka akun medsos menjadi perilaku yang tidak bisa ditolerir. Selama bekerja, pekerja di Jerman akan bekerja keras. Mereka akan fokus menyelesaikan pekerjaan secara efisien.
  2. Tidak Ada Hang Out Selepas Jam Kerja. Karena lingkungan kerja formal, pekerja tidak memerlukan waktu hang out selepas jam kerja. Orang Jerman memisahkan antara kehidupan pribadi dengan pekerjaan.
  3. Tidak Mengirim Email Urusan Pekerjaan Setelah Pukul 6 Petang. Baru-baru ini pemerintah Jerman melarang mengirim e-mail soal pekerjaan setelah jam 6 petang. So, setelah keluar dari kantor, para pekerja akan fokus dengan kehidupan pribadinya.
  4. Bersenang-senang Dalam Komunitas. Meski lingkup kerjanya formal dan tidak memerlukan hang out selepas jam kerja, para pekerja di Jerman masih bisa bersenang-senang dengan komunitas mereka. Mereka biasanya mengadakan pertemuan secara rutin. Seperti sportvereine untuk klub olahraga, gesangvereine untuk club vokal atau menyanyi), musikvereine untuk klub musik. Wandervereine (club hiking), tierzuchtvereine (klub pecinta binatang umumnya kelinci atau babi pigeon).Bahkan desa-desa kecil di Jerman juga mempunyai klub atau vereine untuk mengakomodai kepentingan warga. Warga Jerman senang bersosialisasi dengan yang lain dalam komunitas mereka.