Tips Bebas Stres di Tempat Kerja

breathing-at-work

source: theelementsofliving.com

Bekerja tanpa didera stres menjadi impian setiap orang. Sayangnya tidak semua orang tahu solusi terbebas dari stress.

Sebagai pekerja, seringkali kita dihadapkan dengan stres yang disebabkan oleh banyak faktor. Bisa dikarenakan beban pekerjaan yang berat dan terus bertambah tanpa ada jeda, atasan yang egois, bawahan yang sulit diarahkan, teman seprofesi yang kerap menjelek-jelekkan teman kerjanya di hadapan atasan, lingkungan kantor yang tidak sehat, tuntutan pekerjaan atau target perusahaan yang harus dicapai. Atau kita stress karena memikirkan hal yang sejatinya tidak perlu dipikirkan.

Dengan banyaknya faktor yang bisa memicu stress di kantor, ada baiknya kita mencari solusi agar terbebas dari stress. Pasalnya, tanpa solusi yang tepat, kita akan didera stres berkepanjangan ketika bekerja. Berikut tips kerja bebas stress.

1.Memutus kebiasaan berpikir yang merugikan diri sendiri
Kita sering stress karena memikirkan hal-hal buruk yang anda khawatirkan. Misalnya anda stress karena takut dimarahi pimpinan yang kerap marah-marah belakangan. Meskipun anda sudah menyelesaikan pekerjaan tepat waktu dan sudah berusaha menyelesaikan dengan optimal, namun tetap takut dimarahi atau disalahkan karena pimpinan belakangan kerap memarahi karyawan. Ternyata kekhawatiran anda hanya ada dalam pikiran. Pimpinan anda malah memuji pekerjaan anda. Sebelum meeting yang digelar setelah makan siang, hampir setengah hari anda stress. Saatnya anda mulai mengenali kekhawatiran-kekhawatiran yang kerap menjadi sumber stress anda di tempat kerja.

2.Bersikap optmis
Bersikap optimis akan menepis kekhawatiran yang kerap menjadi sumber stress. Dengan memilih bersikap optimis anda akan bersemangat mengerjakan tugas.

3.Memelihara kesehatan jiwa
Kesehatan jiwa penting agar kita bisa berpikir jernih dan menjaga keseimbangan dalam hidup. Jika pikiran kita tenang, kita akan terhindar dari stress. Untuk memelihara kesehatan jiwa, anda bisa menjaga selera humor. Bercanda dengan teman kantor akan membuat pikiran rileks, tidak tegang.

4.Ada waktu jeda di pagi hari
Agar anda semangat menyelesaikan tumpukan pekerjaan yang masuk dalam to do list dan harus dikelarin hari itu juga, ada baiknya ketika di pagi hari anda ambil jeda. Jeda waktu ini bisa menjadi mood booster. Salah satu yang bisa anda lakukan untuk mengisi waktu jeda di awal hari, anda bisa minum the atau kopi sebagai penyemangat.
Anda juga bisa memejamkan mata sebentar sekitar 5 menit untuk membuat pikiran tenang. Setelah merasa rileks, anda bisa fokus bekerja.

5.Berangkat lebih pagi
Manfaat berangkat lebih pagi, anda tidak akan khawatir, takut datang terlambat. Kekhawatiran anda masuk terlambat karena berangkat kesiangan akan menjadi sumber stress. Dengan berangkat lebih pagi akan menghilangkan rasa khawatir karena telat masuk kerja. Manfaat lain dari berangkat lebih pagi, anda mempunyai cukup waktu untuk melakukan peregangan ringan setelah capai di perjalanan dari rumah ke kantor.

6.Siapkan bekal makanan kecil
Bekal makanan kecil berguna jika anda tidak punya waktu untuk makan siang. Sekarang banyak jajanan sehat yang praktis dibawa ke kantor. Seperti healthy cookies dengan less sugar, atau granula berisi serealia yang kaya serat.

7.Minum air putih
Dehidrasi membuat kita pusing. Agar tidak dehidrasi, anda bisa menyiapkan botol berisi air putih yang harus anda minum.

8..Letakkan foto atau benda yang menjadi penyemangat kerja

Anda bisa meletakkan foto, quotes, pepatah atau benda di meja atau dinding kubikal yang bisa menjadi penyemangat anda menyelesaikan pekerjaan.

Dampak Bermedsos Selama Jam Kerja. Mana Menurutmu Yang Sangat Mengganggu.

IMG_20180709_160733

Tidak membuka media sosial (medsos) selama jam kerja menjadi salah satu tips agar pekerjaan lebih cepat kelar sesuai dengan jadwal. 

Salah satu resep jitu orang Jerman bekerja efektif adalah tidak membuka media sosial ketika mereka bekerja. Mereka hanya fokus kepada pekerjaannya. Dengan fokus hanya kepada pekerjaan mereka bisa bekerja tanpa gangguan.

Strategi tidak melihat media sosial seperti instagram, youtube, facebook, twitter dan lain-lain akan sangat menguntungkan bagi pekerja. Terlebih pekerja yang membutuhkan konsentrasi dalam menyelesaikan pekerjaannya.

Mengapa tidak membuka medsos sangat membantu kita bekerja lebih efisien? Karena tanpa kita sadari saat ini medsos merupakan faktor pengalih perhatian atau pengganggu dalam pekerjaan selain e-mail dan telepon. Keberadaan e-mail dan telepon tentu penting dan tidak boleh diabaikan bagi pekerja yang berada di posisi sebagai customer service, atau bagian fron line.

Demikian juga membuka medsos selama jam kerja juga urgen bagi bagian CS atau compiance bagian social media.  Karena dia harus merespons keluhan customer melalui media sosial. Namunh, di luar bagian tersebut, membuka medsos hanya akan membuat pekerjaan kurang efektif. Mengapa?

Rasa Ingin Tahu

Keinginan kita mengetahui kehidupan orang lain kerap menghabiskan waktu kita. Waktu kita terbuang percuma hanya membuka medsos orang lain yang tidak ada kaitannya dengan kehidupan kita. Rasa ingin tahu pada kehidupan orang lain akan membuat kita penasaran dan tanpa sadar akan terus men-scroll gambar-gambar yang akhirnya menghabiskan jam kerja kita untuk kegiatan yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan kita. Kepo membuat kita merasa tidak pernah cukup untuk menyudahi berselancar di medsos.

Mengurangi Alokasi Jam Kerja

Seharusnya kita bekerja menyelesaikan pekerjaan, namun karena keasyikan membuka media sosial akhirnya pekerjaan terbengkalai. Pasalnya seharusnya kita mengerjakan tugas kita, kita malah menghabiskan waktu mantengin media sosial. Akhirnya pekerjaan tidak kelar sesuai schedule.

Tidak Fokus

Berselancar di media sosial diakui atau tidak membuat pikiran kita terbagi antara melihat media sosial dan urusan pekerjaan. Apalagi jika kita bekerja sambilo sesekali mengintip status atau postingan teman di medsos. Akhirnya kita salah tulis, salah hitung, atau salah menganalisa karena kurang fokus.

Output Tidak Optimal

Kerap membuka medsos saat jam kerja akan mengurangi jatah waktu kita menyelesaikan tugas. Akibatnya, hanya ada sedikit waktu atau tidak ada waktu untuk menoreksi, merevisi hasil akhir pekerjaan. Dampaknya output yang kita serahkan kualitasnya bukan yang terbaik dari kita. Karena kita bekerja secara terburu-buru.

Semakin Berharap, Semakin Kecewa

The higher our expectation, the greater our potential disappointment. Semakin tinggi harapan kita, semakin besar potensi kekecewaan kita.

Hidup tidak seperti matematika. Pasti dan bisa diprediksi. Hidup sejatinya penuh teka-teki. Yang pasti adalah ketidakpastian itu sendiri. Ketidakpastian yang memberikan peluang. Ketidakpastian yang memberikan kemungkinan. Ketidakpastian yang menyuburkan harapan. Jika peluang, kemungkinan, dan harapan tidak kunjung datang, maka yang hadir adalah kekecewaan.

Kekecewaan umumnya hadir dalam beberapa tingkatan. Versi ringan jika harapan yang tumbuh tidak besar. Usaha dan doa untuk mewujudkan harapan juga tidak seberapa. Lama kecewa juga hanya hitungan jam. Kekecewaan skala sedang jika sebenarnya berharap akan suatu hal disertai dengan usaha sungguh-sungguh dan doa yang haqqul yakin bakal dikabulkan. Karena harapan yang besar, ikhtiar yang dilakukan mengambil sebagian porsi waktu dan sebagian ruang pikiran. Lama kecewa bisa bulanan.

Versi kekecewaan mendalam jika kita all out dengan mengptimalkan seluruh kemampuan dan bedoa sungguh-sungguh, ekspektasi tinggi tetapi hasilnya jauh menyimpang dari yang diharapkan. Lama kecewa untuk level ini bisa tahunan.

Jangan Terlalu Berharap

Karena sumber kekecewaan berpangkal dari ekspektasi atau harapan, maka jika kita tidak mau kecewa, jangan terlalu berharap pada sesuatu. Ikhlaskan semua peristiwa atau kejadian dalam hidup kita. Karena yang terjadi dalam hidup kita, tidak sepenuhnya ada dalam kontrol kita. Buktinya, kita sudah belajar seoptimal mungkin untuk sebuah tes, hasil ujian kita lebih buruk ketimbang teman yang belajarnya seadanya.

Dalam karir misalnya, kita sudah berusaha bekerja lebih baik dari yang lain, lebih rajin, tepat waktu, punya inisiatif mengeluarkan ide-ide segar, ternyata teman selevel kita yang kerjanya seadanya memperoleh promosi kenaikan karir, dan kita tidak memperoleh apa-apa. Jika kita sangat berharap dipromosikan, maka kita akan mengalami kekecewaan mendalam. Tapi jika kita tidak terlalu berharap, maka kalaupun kita kecewa, hanya sekedarnya saja.

Dari kasus-kasus di atas, bukan berarti kita tidak perlu belajar giat untuk mendapat nilai bagus. Toh belajar giat tidak menjamin nilai bagus. Atau kita tidak perlu bekerja giat. Toh bekerja giat tidak menjamin dipromosikan. Akhirnya kita bekerja seadanya dan hanya berharap ada keberuntungan di pihak kita sehigga bisa dipromosikan. Kita tidak bisa menggunakan keberuntungan atau dalam bahasa jawa disebut faktor bejo untuk kesuksesan dalam hidup karena menghindari kekecewaan.

Justru dari kekecewaan-kekecewaan dalam hidup, kita belajar tidak terlalu berharap atas upaya, kerja keras yang telah kita lakukan. Dari kekecewaan dan kegagalan, kita berusaha menjadi pribadi ikhlas. Keikhalasan kita dalam menyikapi kegagalan, akan membuat jiwa kita lebih lapang. Sikap tidak terlalu berharap pada hasil membuat hidup kita lebih ringan dan tidak stres memikirkan hasil yang akan kita dapatkan. Hidup akan menjadi rangkaian kekecewaan jika kita terlalu berharap atas segala hal.

Pekerja di Jerman: Produktif dengan Jam Kerja Sedikit, dan Jatah Cuti Panjang.

lp cusppis

source : cuspis.com

Ternyata, untuk bekerja produktif tidak harus bekerja dengan jam kerja panjang. Di Jerman dengan jam kerja 35 jam seminggu dan cuti tahunan 24 hari, mereka tetap bisa produktif. Selain itu, orang Jerman juga memperoleh tunjangan liburan sebesar 25 hingga 30 hari kerja (UU ketenagakerjaan hanya menyebutkan 20 hari kerja).Wow!

Seperti ditulis Amol Sarva di laman huffingtonpost.com, ada kebiasaan positif yang dibangun orang Jerman sehingga produktivitas kerja mereka tinggi.

  1. Jam Kerja adalah Jam Kerja. Dalam budaya kerja di Jerman, ketika bekerja di kantor, mereka hanya mengerjakan hal yang berhubungan dengan pekerjaan mereka. So, kebiasaan yang kita lakukan di kantor seperti ngobrol, bergosip, membuka akun medsos menjadi perilaku yang tidak bisa ditolerir. Selama bekerja, pekerja di Jerman akan bekerja keras. Mereka akan fokus menyelesaikan pekerjaan secara efisien.
  2. Tidak Ada Hang Out Selepas Jam Kerja. Karena lingkungan kerja formal, pekerja tidak memerlukan waktu hang out selepas jam kerja. Orang Jerman memisahkan antara kehidupan pribadi dengan pekerjaan.
  3. Tidak Mengirim Email Urusan Pekerjaan Setelah Pukul 6 Petang. Baru-baru ini pemerintah Jerman melarang mengirim e-mail soal pekerjaan setelah jam 6 petang. So, setelah keluar dari kantor, para pekerja akan fokus dengan kehidupan pribadinya.
  4. Bersenang-senang Dalam Komunitas. Meski lingkup kerjanya formal dan tidak memerlukan hang out selepas jam kerja, para pekerja di Jerman masih bisa bersenang-senang dengan komunitas mereka. Mereka biasanya mengadakan pertemuan secara rutin. Seperti sportvereine untuk klub olahraga, gesangvereine untuk club vokal atau menyanyi), musikvereine untuk klub musik. Wandervereine (club hiking), tierzuchtvereine (klub pecinta binatang umumnya kelinci atau babi pigeon).Bahkan desa-desa kecil di Jerman juga mempunyai klub atau vereine untuk mengakomodai kepentingan warga. Warga Jerman senang bersosialisasi dengan yang lain dalam komunitas mereka.