Rindu dan Hujan

PicsArt_11-16-06.45.51

Tak mau mengenang

Tapi kamu datang

Bersama rintik hujan

Merajam di sebuah petang

.

Rindu yang kuusir pergi

Dalam kawanan mendung

Kini menyapa lagi

Menggali kenangan sepotong kisah nan murung

-SS-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ditinggal Tanpa Pesan

blog ditinggal

Credit:  slate.com

Sebut saja namanya Rara. Perempuan yang berprofesi sebagai pengajar itu mengaku trauma untuk memulai sebuah hubungan baru pasca ditinggal tunangannya yang menghilang tanpa pesan. Padahal, hubungan keduanya sebelumnya baik-baik saja.

“Ia menghilang saat semua persiapan untuk pernikahan sudah disiapkan oleh keluarga,” terang Rara. Yang membuat hati Rara kian sedih, ia telah berusaha mencintai tunangannya. Dan ketika rasa itu datang, tunangannya pergi begitu saja.

Rara dan tunangannya dijodohkan oleh pihak keluarga. Awalnya Rara tidak mencintai tunangannya. Tapi, seiring kebersamaan yang dilalui keduanya, seperti pepatah Jawa witing tresno jalaran soko kulina, Rara akhirnya mencintai tunangannya.  Namun, rasa yang baru bersemi, harus pupus seketika, ketika tunangannya pergi tanpa pesan meninggalkan luka yang dalam.

Agak berbeda dengan Rara, Dea juga mengalami hal yang sama. Awalnya ia tidak mempunyai perasaan khusus kepada salah satu teman kantornya. Meskipun, dari awal ia tahu, kalau Reza, sebut saja begitu, menaruh hati kepada dia. Dea juga tahu, selain Reza, ada Amar yang juga menyukainya.

Menurut feeling Dea, Reza tahu kalau teman sekantor mereka, Amar, juga menyukainya. Dengan pendekatan yang intensif sekitar tiga bulan, akhirnya Reza berhasil mendapatkan cinta Dea.

Singkat cerita, Dea jadian dengan Reza. Sebagai sepasang kekasih, keduanya kerap menghabiskan waktu bersama. Namanya sedang mabuk cinta, dunia Dea pun menjadi berwarna. Bahkan, orang lain pun seakan tidak ada. Yang ada hanya dia dan kekasihnya. Karena yang lain pindah ke Meikarta haha.

Ternyata, manis yang dikecap Dea tak bertahan lama. Baru tiga bulan jadian, mendadak Reza resign dan menghilang tanpa pesan. Dea sudah berusaha menghubungi Reza, tapi nomor ponselnya tidak aktif. Ia juga mengirim pesan via whatsapp, bbm, dan line, ternyata offline semua. Dea juga berusaha mencari keberadaan kekasihnya lewat jejak digital, tetapi sia-sia.

“Apa Salah Saya?”

Setelah kejadian pacar menghilang, baik Dea maupun Rara bertanya kepada dirinya sendiri. “Apa salah saya?” Keduanya mengaku tidak mempunyai masalah dengan pasangannya sebelum kekasihnya menghilang. Pertanyaan mengapa meninggalkan, apa salah saya membuat luka di hati keduanya kian dalam.

Tidak mudah bagi keduanya untuk menerima kenyataan dicampakkan tanpa ada kejelasan. Baik Dea maupun Rara menjalani hari-harinya dalam gelap karena tanya yang tak pernah menemjukan jawab.

Gigih di Awal, Menyerah di Tengah Jalan

Keduanya butuh waktu lama untuk berdamai, menerima fakta bahwa kekasihnya sudah meninggalkan mereka. Bahwa kekasihnya yang dahulu berjuang untuk mendapatkan cinta, menyerah begitu saja ketika cinta itu ada di depan mata. Bahwa kekasihnya yang dahulu berjuang mendapatkan perhatian, tiba-tiba menghilang tanpa pesan.

Mungkin ada benarnya kata orang-orang. Makhluk bernama laki-laki itu begitu gigih di awal untuk mendapatkan. Karena itu semacam tantangan. Tapi, begitu  mendapatkan, mereka akan cepat merasa bosan. Mereka tidak sadar sudah mempermainkan sekeping hati yang awalnya tertata rapi. Kemudian porak poranda seperti tsunami, setelah mereka menghuni hati, kemudian pergi.

Mereka tidak tahu, kalau luka yang mereka tancapkan, adalah lubang yang tak pernah sepenuhnya bisa tertutup, meski hati telah memaafkan. Mereka tidak tahu, kehilangan adalah hal pahit yang membuat hidup orang yang ditinggalkan menjadi sulit.

Apa Yang Harus Dilakukan?

  1. Menerima kenyataan. Menerima fakta yang tidak sesuai dengan harapan kita memang hal yang sulit untuk dilakukan. Tetapi, dengan berusaha untuk menerima hal yang terjadi, kamu akan hidup dalam dunia realita, bukan dunia kenangan manis ketika masih bersama dia.
  2. Memaafkan diri sendiri. Ada sebagian orang yang merasa menyesal telah memberikan hatinya dan menghabiskan sebagian waktu hidupnya bersama pasangannya yang tiba-tiba menghilang. Namun, penyesalan hanya akan membuat luka kian dalam. Maafkanlah diri sendiri yang pernah menjalin hubungan dengan si dia. Anggap hubungan yang pernah terjadi menjadi pelajaran hidup yang membuat diri menjadi pribadi yang lebih dewasa dan bisa menerima kekecewaan dalam hidup.
  3. Berhenti bertanya “Mengapa ditinggalkan .” Pertanyaan “mengapa ditinggalkan” tidak akan membuat hidupmu lebih baik. Justru ketika kamu bertanya seperti itu, kamu akan semakin terluka. Terima saja dia menghilang sebagai salah satu kejadian apes dalam hidupmu. Karena, itu di luar kemauan, kontrolmu. Dan berhenti bertanya “mengapa dia menghilang.”
  4. Meningkatkan kualitas diri. Bisa jadi dia meninggalkan kamu tanpa pesan karena dia telah menemukan sosok baru yang selama ini ia idamkan. Berhenti meratapi diri, dan bangkit meningkatkan kualitas diri. Jika kamu terluka karena kepergiannya, kenapa kamu tidak membuat dia menyesal telah meninggalkan?
  5. Membuka hati untuk hubungan baru. Karena hidup harus terus berjalan, tidak ada gunanya kamu sedih. stuck meratapi yang telah berlalu. Buka kembali hatimu untuk orang baru. Ada banyak haraoan untuk sebuah hubungan di depan.

 

Kapan Nikah?

PicsArt_11-02-10.16.54

“Kamu balik kapan, nduk?” Ah, pertanyaan ibu minggu lalu mengusikku. Jemariku yang semula menari di atas papan ketik, mendadak diam. Tahun ini aku tidak ingin mudik  lebaran. Tapi, mendengar suara ibu di telepon, tekadku yang bulat menjadi lonjong. Aku tidak tega membiarkan ibu mengisi lebaran hanya berdua dengan adikku, Shafa. Sampai sekarang ubiarkan tanya itu mengawang. Hingga aku mantap memutuskan.

Ketika pikiranku masih macet dengan mudik lebaran, iklan biskuit dan sirup di televisi bertema buka puasa dan lebaran lalu lalang saling berebut perhatian. “Puasa juga belum dimulai, tetapi iklan itu telah membuat imaji dahaga puasa dan damai lebaran menari. Hmmm.” Batinku.  “Sebenarnya aku ingin mudik, Bu. Tapi….,” kataku pada diri sendiri.

Dulu, tidak ada kata tapi untuk momen spesial bulan syawal itu. Bahkan, aku akan bersemangat sekali memikirkan dekorasi interior rumah, baju apa yang akan kukenakan saat lebaran. Setelah bekerja, rasanya senang bisa membeli baju lebaran untuk ibu dan adikku. Sebulan sebelum lebaran,telah kukirim baju itu. Biar Shafa tenang sudah ada baju lebaran. Aku ingat saat kecil selalu gelisah saat ibu belum membeli baju baru, sebulan menjelang Lebaran! Kini aku membelikan baju untuk adikku sebulan sebelum lebaran.

Momen lebaran yang terasa seperti candy kini telah berlalu. Itu dulu. Ya, dulu. Kini Idul Fitri seperti teh tanpa gula. Tawar. Bahkan seperti kopi. Pahit. Ya, pahit. Ketika kata tanya mulai menyapa. Kapan nikahnya?

Semula aku mengacuhkannya tiap pertanyaan itu datang. “Kapan nikahnya, Ra? Sudah kerja lho. Teman SDmu Witri saja sudah punya anak dua.” Begitu kata tetangga. Aku memilih menjawab dengan senyum. Aku sama Witri kan beda. Ya, wajar jika kehidupanku kami tak sama. Batinku. Ketika aku berkeliling silaturahmi menemani ibu, lagi-lagi pertanyaan itu terlontar. Kadang aku menjawab,”Mohon doanya saja.”

Tahun pertama lulus kuliah dan bekerja pertanyaan kapan menikah belum terasa sepa. Toh teman-teman SMAku seperti Ella, Damar juga belum married. So what gitu loh. Pikirku. Nikah cepat atau tidak, di luar kuasa kita. Lagian, memangnya kalau belum nikah kenapa?. Baru 23. Kataku membatin.

Pertanyaan kapan nikah makin deras saat usiaku 24 tahun. Sudah mau 25, Ra. Usia ideal married. Untunglah saat itu aku dekat dengan dua laki-laki. Satu sahabat SMA ku Damar. Satu lagi Enno, temannya sahabatku, Ella yang sekolah di luar kota. Aku mulai dekat dengan Enno, lulusan Sekolah Perwira Kepolisian saat main ke rumah Ella bersama Damar kala Lebaran. Komunikasi kami kian intens. Ia bahkan menyempatkan diri berkunjung ke rumahku. Tidak perlu waktu lama bagi Enno untuk dekat dengan ibu dan adikku. Tiga bulan berteman dan merasa cocok, kami kemudian mantap jadian.

Aku yang bekerja di salah satu media di Jakarta harus bolak balik pulang tiga bulan sekali demi mengisi kantong-kantong rindu yang kerap kosong saat jauh dari Enno. Hampir setahun bersama, sebulan menjelang Ramadhan kami mantap bertunangan. Keluargaku dan Enno ingin kami segera meresmikan hubungan. Apalagi hubunganku dengan mamanya Enno sudah seperti anak dengan ibunya. Meski jarang bertemu, kami sangat dekat secara emosional. Aku sering menelpon mama Enno. Demikian juga mama Enno. Kami juga kerap berkirim bingkisan.

Setelah bertunangan, aku pikir pertanyaan kapan menikah akan hilang. Perkiraanku keliru. Orang tetap bertanya kapan menikah. “Itu kan basa basi orang kampung, Ra. Karena nggak ada pembicaraan lain. Tapi kamu beruntung, udah tunangan. Aku belum,” kata Ella menghibur.

***

Kalau memakai hitungan matematika, aku seharusnya yang menikah duluan. Bukan Ella. Usia 25 tahun aku bertunangan dengan Enno. Seorang perwira polisi berkulit bersih dan berwajah tampan. Saat usia 26 tahun kami akan mengucap janji, berlabuh dalam bahtera pernikahan. Sementara Ella? Saat itu ia belum punya pasangan.

Yang aku tahu, Ella, sahabatku super manis dan girly itu memendam rasa pada Damar. Sahabat SMA ku yang banyak digilai kaum hawa. Dengan postur jangkung, berkulit bersih, sorot mata tajam, wajah tampan, jago main gitar, vokalis band, otak encer, dan dari keluarga mapan, Damar seolah menjadi magnet bagi cewek. Cewek-cewek meleleh setiap melihat Damar perform di stage. Tidak berbeda jauh dengan hati Ella, sebenarnya aku juga suka Damar. Hanya cewek bodoh yang tidak suka Damar. Pikirku. Tapi karena tahu Ella mencintainya, perlahan aku kubur perasaan suka itu. Meskipun feelingku mengatakan Damar menyukaiku. Hal itu dikuatkan dengan celotehan teman sekelas yang mengatakan Damar suka aku. Aku berusaha tidak mempercayainya. Tapi gagal.

***

Lebaran tahun lalu aku harus menyesap kopi pahit. Ampas pedihnya masih terasa hingga kini. Seharusnya Lebaran tahun lalu aku menjadi Nyonya Enno. Sehingga tidak perlu lagi ada tanya kapan. Tetapi? Seperti yang kupikirkan saat usia 23 tahun. Meski kita ingin sekali menikah dan sudah punya calon, kalau ternyata takdir Tuhan berkata lain, ya tidak terjadi pernikahan. Dan itu menimpa aku. Pernikahan batal. Dua bulan menjelang pernikahan Enno selingkuh dengan cewek lain. Dan cewek itu telah telah hamil dua bulan! Mendengar pengakuan Enno dalam siding keluarga membuatku limbung. Pingsan.. Begitu sadar, kulihat mamanya Enno menangis. Ia meminta aku tetap menganggapnya sebagai ibunya. Aku mengangguk dan memeluknya erat. Kami menangis.

Hatiku pecah. Serpihannya menusuk hingga relung terdalam. Perih dan berdarah. Dan dua bulan kemudian saat Lebaran, luka itu kian memerah. Sebuah undangan pernikahan datang dari sahabatku, Ella. “Doain ya Ra, semuanya lancar,” kata Ella. Aku memeluk Ella. Senang akhirnya Ella bisa bersatu dengan cowok yang selama ini memenuhi mimpi-mimpinya. Damar. Meski satu sudut hatiku tergores. Aku masih mencintai Damar, La.

***

“Bu, Ara insyaAllah pulang H-3,” kataku kepada ibu lewat telepon. Ibu terdengar senang. Syukurlah. Aku menarik nafas begitu menutup ponsel. Berat.

Aku tidak tahu apa responku melihat Enno dan keluarga barunya ketika mengunjungi mamanya Enno sesuai janjiku. Aku hanya berusaha ikhlas. Aku juga berusaha melindungi hati dari iri atas kebahagiaan melingkupi kehidupan Damar dan Ella. Sebagai sahabat, aku harus berbahagia atas kebahagiaan mereka. Iri hanya menggerogoti kebahagiaanku yang seharusnya aku ciptakan sendiri dengan menerima kenyataan secara lapang. Itu lebih mendamaikan. Begitupun ketika pertanyaan kapan menikah datang. Anggap saja itu doa dan bentuk sayang. Sembari aku berdoa kepada Tuhan mohon dikuatkan hati agar tidak teritasi. Hanya Dia yang menenteramkan. Dan akhirnya pertanyaan kapan menikah akan sayup-sayup terdengar tersapu oleh doaku pada Tuhan pemilik kehidupan. Dan jika waktunya tiba, Sang Maha Cinta akan memberiku seorang belahan jiwa. Meski aku tidak tahu kapan waktunya.

Stop Bertanya Mengapa Belum Married

Sebut saja namanya Tian. Tidak biasanya gadis berusia 30 tahun itu terlihat gelisah. Matanya terlihat berkaca-kaca. “Saya sedih banget Gya,” ujarnya ke sahabat dekatnya di kantor.

Tanpa diminta Tian menceritakan masalahnya. “Tadi habis nerima telpon dari ibu. Dia nanya kenapa aku belum nikah.”

Air bening mengalir dari kedua sudut matanya. Ia ingin berteriak. Tapi tak mungkin dilakukan.

Menjadi single bukan pilihan hidup Tian. Ia sudah berusaha memenuhi permintaan perkenalan, perjodohan yang dilakukan oleh keluarga dan koleganya.

Tapi dari sekian banyak ajang perjodohan itu, tak satu pun yang “nyangkut di hatinya.” Kadang ia bertanya kepada diri sendiri,” Apa iya saya pemilih seperti yang diomongin orang-orang?”

Jika kamu saat ini berusia 30an dan belum menemukan pendamping hidup, tetaplah tersenyum. Karena menjadi single bukanlah sebuah aib, apalagi dosa. Kalau memang belum ketemu yang pas, masak iya mau memaksakan diri menikah dengan orang yang tidak kamu suka.

OK girls. Berikut ada beberapa tips menjadi single bahagia. Dan tidak berkutat pada pertanyaan mengapa belum married.

1 Berpikir positif. Berpikirlah bahwa kondisimu single sekarang adalah yang terbaik untukmu. Hindari pikiran-pikiran negatif seperti aib menjadi perawan tua, merasa tidak laku, merasa tidak menarik, merasa lebih rendah dibanding yang sudah menikah. Yakinlah kamu punya kelebihan. Kamu adalah wanita menarik. Jika tidak percaya, coba kamu amati di sekelilingmu. Apakah semua perempuan yang sudah menikah itu lebih cantik atau lebih menarik dari kamu? Nggak kan…

2. Kamu yang memilih menjadi single

Dengan mempunyai prinsip kamu yang memilih menjadi single, setidaknya bisa mengurangi perasaan minder, sedih, ketika sahabat, saudara, dan teman kerja menikah. Andaikan kamu mempunyai standar seperti temanmu, mungkin kamu sudah married. Karena faktanya yang tertarik berkenalan dengan kamu kan banyak. So, menjadi masih single itu pilihanmu. Karena standarmu beda dengan mereka.

3. Bisa beraktualisasi diri

Kamu kerap melihat kan, temanmu yang sudah married jadi terbatas waktunya untuk sekedar hang out dengan teman lama? Syukurilah status single-mu. Menjadi single, kamu punya banyak waktu untuk mengaktualisasikan diri. Kamu punya lebih banyak waktu untuk mengejar impianmu dan passion-mu.

4. Bisa membantu orang tua

Karena belum berkeluarga, kamu bisa membantu secara finansial kepada orang tua. Tidak semua kita yang berhasil dari sisi karir berasal dari golongan berada. Nah, jika orang tuamu perlu bantuan dana, inilah saatnya kamu berbakti membantu orang tua dari sisi finansial. Seperti untuk biaya hidup bulanan dan berobat.

Selain support dana, kamu juga punya lebih banyak waktu untuk merawat orang tua yang sakit.

5. Bisa berkenalan dengan banyak orang

Satu lagi kelebihan menjadi single adalah bisa berkenalan dengan banyak orang baik wanita maupun pria tanpa takut dibayang-bayangi gosip tak sedap.

Dengan banyaknya teman, maka menjadi single bukan berarti kesepian. Karena ada orang-orang do sekeliling yang bisa diajak ngobrol atau sekedar tertawa.

6. Masalah lebih simple ketimbang yang berkeluarga

Sisi positif lain dari menjadi single adalah masalah yang dihadapi pastinya lebih sedikit dan lebih ringan ketimbang yang sudah berkeluarga.

Meskipun, ada sebagian single juga yang masalahnya tak kalah rumit dengan yang sudah berkeluarga. Tapi setidaknya, secara kuantitas akan lebih banyak bagi yang sudah berkeluarga.

So, apapun kondisi dan status kita, semuanya akan baik jika kita meresponsnya secara tepat. Menjadi single bisa tetap bahagia. Karena yang berkeluarga juga belum tentu bahagia. Stay positive thinking ya.

Susah Move On. Kenapa?

Sebagian orang yang pernah menjalin hubungan cinta mengaku sulit melupakan sang kekasih yang statusnya sudah menjadi mantan. Apalagi jika si dia mantan terindah. Maka proses move on akan memakan waktu yang tidak sebentar.

Pertanyaannya, mengapa kamu susah move on?

1. Kenangan bersama mantan tersimpan dalam Long Term Memory (LTM). Kejadian dalam kita yang terekam melalui sensori sebagian ada yang masuk dalam short term memory. Artinya hanya tersimpan di otak sepintas lalu dan dilupakan. Tetapi ada juga yang tersimpan dalam memori jangka panjang atau istilah Psikologi-nya long term memory (LTM). Jika kenangan bersama mantan tersimpan dalam LTM, maka akan tersimpan lebih dalam dan susah dilupakan.

2. Selalu teringat karena proses recall. Meskipun kenangan bersama sang kekasih ada dalam memori jangka panjang alias LTM, kemungkinan akan lebih gampang dilupakan, jika kita tidak mengingatnya (recall). Problemnya, kadang kita sudah bertekad melupakan pasca putus hubungan. Namun, tanpa sengaja kita mengingat kembali (recall) karena mendengar lagu atau musik yang menjadi kenangan saat bersama dia. Atau melewati tempat yang biasa dikunjungi berdua ketika masih berhubungan.

Bukan hanya musik dan tempat saja yang bisa membuat kamu teringat lagi dengan mantan. Ketika kamu lagi jalan dan mencium wangi parfum yang biasa dipakai sang mantan, otomatis kamu akan ingat dia. Suasana hujan juga kerap membuat seseorang yang sedang bertekad move on, menjadi tidak berdaya. Pasalnya, kamu kembali teringat kenangan-kenangan bersama dia saat turun hujan.

Hal yang menjadi tantangan adalah jika kamu setiap hari harus melalui jalan, melewati lokasi-lokasi yang kerap didatangi berdua, ditambah hari hari sedang musim hujan. Maka, proses melupakan akan kian susah. Tapi tak perlu pergi ke kelurahan ya, jika tidak mampu melupakan hanya untuk meminta surat keterangan tidak mampu hehe.

3. Tidak Terbiasa. Seperti syair lagu jadul Aku Tak Biasa. Maka seperti itu juga yang akan kamu rasakan ketika putus hubungan. Yang biasanya pagi hari kirim chat hanya sekedar menanyakan “sudah makan belum?” “sudah sarapan belum?” Atau sekedar bilang “pulangnya hati-hati ya” tiba-tiba kamu tidak bisa mengirim chat seperti itu lagi.

Jika biasanya sebelum tidur ada chat yang mampir ke whatsapp/bbm mu sekedar bilang “met bobo” “met tidur” “good nite” kini tidak ada lagi. Whatsapp atau BBM mu mendadak sepi. Itu yang membuat kamu kian mengingat dia.

Kamu juga akan susah melupakan jika mantan selalu meluangkan waktu bareng kamu ketika akhir pekan. Maka setiap weekend kamu akan mengingat mantan.

4. Belum Menemukan Pengganti. Kamu akan sulit move on jika belum ada sosok baru yang menggantikan dia. Maka, wajar jika ada yang memberi tips move on adalah mencari penggantinya dan merangkai kisah baru.

“Move on. It’s just a chapter in the past. But don’t close the book. Just turn the page.”

.