Review Bolu Ubi Bogor: Tekstur Halus, Ubinya Terasa

Oleh-oleh kota hujan alias Bogor beragam. Mulai dari roti unyil, makaroni panggang, pai apel, lapis talas Bogor hingga cake artis kekinian.

Di luar oleh-oleh terkenal di atas, ada bolu ubi Kunanti. Box kemasan berwarna kuning terang. Varian rasa ada tiga : cokelat, keju, dan original. Pembeli bisa membeli sesuai seleranya.

Komposisi terigu, telur, gula, emulsifier, garam, tepung ubi, susu, maizena, baking powder, margarin, minyak, pewarna makanan, essence ubi, dan keju atau cokelat.

Berat bersih bolu 500 gram alias setengah kilo. Harga dibandrol Rp 30 ribu. Harga bolu terbilang standar. Tidak mahal, tetapi juga tidak murah. Bolu ini bisa diperoleh di toko oleh-oleh atau pedagang kaki lima.

Tekstur bolu lembut. Begitu bolu lumer di lidah, langsung terasa ubinya. Rasa tidak mengecewakan. So, bolu ini bisa menjadi referensi bagi pelancong di Kota Bogor.

Mengapa Cinta

picsart_01-14-10.02.02

 

 

Aku sedang membaca ulang artikelku di layar monitor komputer ketika chat-mu datang menandai layar.  “Kamu lagi apa sweetheart? ” tanyamu.  Sambil mataku masih menatap layar komputer, aku membalas chat-mu.  “Hai by , nih lagi baca artikel. Kamu? ” Lama di layar tidak muncul chat-mu. Aku pun kembali larut dengan kerjaanku.

Selang 10 menit kemudian chat-mu kembali hadir. “Habis meeting dengan klien sweetheart.  Kamu sudah makan? ” Aku melongok jam di ponsel. Nggak salah nih jam segini nanyain makan siang. Hmmm Akhirnya aku membalas pertanyaannya. “Kan sudah jam 3 sore by. Maksudnya makan malam? Jangan-jangan kamu yang belum makan.” Selang 5 menit tidak ada reply. Aku kembali mengetik.

Hampir sejam tidak ada chat dari kamu. Akhirnya aku inisiatif mengirim chat.  “Hmmm sibuk banget bosque.” Hingga 15 menit chatku belum kamu balas.  Akhirnya aku mengirim chat lagi. “Hmmmm.”

Saat aku mengemasi barang mau pulang, namamu muncul di screen ponsel.  “Beb, sorry lama nggak bales. Lagi jawab telpon klien. Maaf ya.”

Aku membalas, “Ya udah nggak papa. Hanya peluru cemburu hampir menembakku.” Kamu mengirim emoji love.  “Aku cinta kamu,  Zeaku.” Aku pun membalas dengan emoji cinta.

Kamu mengirim chat lagi. “Sweeteart, mengapa kamu mencintaiku?” tanyamu. Hmmm kamu menanyakan lagi mengapa aku cinta, batinku. Sejatinya aku pernah menjawab pertanyaanmu beberapa waktu lalu. Tapi sepertinya menurutmu kurang meyakinkan. Kamu tidak yakin dengan jawaban yang kupaparkan.
“Aku mencintaimu karena aku melihat sebagian diriku ada di kamu, ” balasku mantap berharap engkau percaya dan tidak menyangsikannya. Seperti yang lalu, kamu pun bertanya lagi soal rasa di dada. “Hanya itu?” tanyamu. Aku membalas, “Loving someone doesn’t need a reason, baby”
#
Entah kenapa kamu sepertinya ragu aku mencintaimu. Apakah cinta perlu alasan rasional untuk menegaskan bahwa rasa yang ada bisa dikuantifikasi dan akhirnya bisa menjadi garansi?
#
Jika ditanya soal alasan kenapa aku mencintai kamu, tidak akan pernah ada jawaban tunggal. Karena faktor-faktor pemicu cinta datang sangatlah kompleks tidak sesederhana memasak mie instan yang hanya perlu mie, panci dan air untuk menjadi santapan.

Esoknya kita janjian ketemu makan siang di restoran Jepang kesukaanmu. Kita langsung bertemu di sana. Begitulah aku. Tidak seperti keanyakan cewek yang minta dijemput atau diantar ke sana ke mari, aku akan lebih memilih sendiri jika itu merepotkanmu.

Begitu kita bertemu di lobby restoran, aku sudah melihat rindu dari sorot matamu. Rindu yang telah menggunung tak mampu ditahan hingga akhir pekan. Hingga kita pun memilih bertemu di tengah tenggat kerjaan.  Walaupun kita tahu, pertemuan adalah candu. Bukankah setelah pertemuan tidak ada jaminan rindu bakal berkurang. Yang ada rindu seakan kian mengekang. Tapi kita tak punya pilihan lain selain bertemu untuk menuntaskan dahaga rindu.

Kilatan rindu dari sorot matamu kian kuat kala kita duduk dekat. Ada tarikan nafas berat di sela sorot matamu yang memandang tajam ke arahku. Tanpa setahumu, rinduku sejatinya melebihi kadar rindumu. Hingga nyaris membuatku gila hanya mengingatmu. Tapi bedanya, aku rapi menyimpannya.

Aku pikir setelah kita berjumpa, kamu lupa dengan pertanyaan kemarin mengapa aku mencintaimu. Tanpa kamu tahu, aku mencintaimu menghilangkan sebagian kewarasanku. Tapi, tentu saja hanya aku yang tahu.

Ternyata, pertanyaan itu masih memenuhi benakmu. Sambil menatapku, kamu bertanya pertanyaan serupa. Tapi aku lebih suka dengan matamu ketimbang pertanyaanmu. Mata yang selalu menyimpan bayangku di sana. Mata yang menyorotkan semangat hidup yang sama. Kamu memanggilku pelan, ” Sweetheart.”

Dengan tersenyum, aku pun berujar,”Kamu kepo banget by. Mau tahu banget atau mau tahu saja.” Kamu hanya mengangkat alismu. Aku pun menegakkan posisi dudukku. “Baiklah tuanku, karena kamu penasaran, aku akan menjawabnya, ” jawabku tersenyum melanjutkan, “Aku mencintaimu karena ketika aku melihat kamu, aku seperti melihat sebagian diriku. Sebagian aku adalah kamu.”

Mendengar argumenku, kamu tersenyum menatapku. Kemudian jemarimu mengelus rambutku tidak peduli masih ada makanan yang belum disantap.

Setelah menjawab pertanyaanmu aku berharap, tidak ada lagi keraguan soal yang sama. “Jangan bertanya lagi soal yang sama ya sayang. Karena akuuuuu tetaaap tidaaaak…..ehmmm, ” kataku pura-pura berpikir sesuatu. “Tidak kenapa beb?” tanyamu. “Karena akyyy tetaaap tidak akan kasih kamu sepeda, ” balasku dengan mimik serius sambil tanganku memainkan piring di meja. Kamu pun langsung tertawa. Kamu tahu, aku paling suka melihat kamu tertawa. Karena dunia terlihat lebih berwarna.

picsart_01-14-10.02.02

“Puluhan Terowongan Demi Mount Sorak”

Perjalanan dari Seoul ke Mount Seoraksan alias Mount Sorak memakan waktu kurang lebih 3 jam. Uniknya, kita akan melewati puluhan terowongan di sepanjang jalan tol yang jumlahnya sangat banyak, sepertinya lebih dari 20 terowongan. Pemandangan di kanan kiri jalan terbilang cantik dan lumayan lengkap. Mulai dari Sungai Han nan  eksotis, jembatan “bunuh diri” di atas Sungai Han, pepohonan menyajikan warna daun khas autumn.

 


Bagaimana dengan Mount Sorak? Berdasarkan literatur dari Wikipedia Mount Sorak adalah puncak tertinggi dari rangkaian Pegunungan Taebaek (태백산맥), terletak di provinsi Gangwon, sebelah timur Korea Selatan. Di area pegunungan ini terdapat taman dengan ikon berupa beruang dengan nama Mt Seoraksan National Park.

Posisi patung beruang ini berada sekitar 200 meteran dari gate kedatangan. Pengunjung biasanya berfoto di gate kedatangan yang bisa kita sebut dengan gapura. Selain berfoto di bawah gapura, pengunjung bisa berfoto di patung beruang dengan tulisan Seoraksan National Park.

Di Korea ada Taman Nasional Seoraksen di Indonesia ada Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dengan Kebun Raya Cibodas-nya. Bedanya, untuk menuju Taman Cibodas pengunjung bisa naik angkot haha. Kalau di Mt Sorak pengunjung harus menyewa taksi dan merogoh kocek lagi untuk sampai di puncaknya karena harus naik cable car.

Di sepanjang jalan menuju lokasi cable car pengunjung bisa menikmati hawa sejuk pegunungan bahkan cenderung dingin. Juga menikmati indahnya warna warni daun yang hanya bisa dilihat dari foto dan video bagi kita yang tinggal di Indonesia. Di sepanjang jalan menuju puncak (mirip lagu kontes bakat di Indosiar ya haha) ada banyak spot foto yang instagramable. Seperti bangunan kafe dengan ornamen klasik. Sambil foto bisa juga menyesap kopi di kafe-kafe cantik. Selain itu pengunjung bisa gelendotan di pohon,gelayutan,atau ndelosor di tanah demi foto bersama daun-daun kuning, oranye, kemerahan yang berguguran.
.
Setelah membeli tiket cable car, pengunjung antri menunggu giliran naik kereta gantung. Ukuran cable car lumayan besar, bisa menampung sekitar 20 orang. Perjalanan menggunakan kereta gantung memakan waktu sekitar 15 hingga 20 menit dengan pemandangan gunung di bawahnya. Begitu keluar dari kereta gantung , pengunjung harus berjalan kaki lagi menuju puncak Mt Sorak.

Perjalanan menuju puncak Mt Sorak lumayan variatif. Kadang datar, kadang naik, kadang turun sebentar. Tetapi sebagian besar naik karena menuju puncak. Iya kan? Meskipun lumayan melelahkan, tetapi pemandangan alam di kanan kiri jalan memberikan energi, dan menyegarkan mata. Jangan kaget jika selama di perjalanan akan banyak bertemu dengan turis dari Indonesia. Setelah berjalan sekitar 20 hingga 30 menit, pengunjungan akan mencapai puncak dengan gundukan tanah berwarna terang.

Sepintas perjalanan menuju puncak Mt Sorak, suasananya mirip ketika berada di Tangkuban Perahu haha