Tipping Point si Titik Perubahan

Tipping Points menjadi titik perubahan sebuah gagasan, produk mewabah semacam epidemi, viral dan dikenal banyak orang. Tentu ada sejumlah prasyaratnya. Apa saja?

Makna Tipping Point adalah titik perubahan ide, produk, merek dari hampir ditinggalkan, tidak dikenali menjadi terkenal, tren, viral, menyebar luas. Atau kondisi sebaliknya.

Lebih mudahnya tipping point adalah kondisi ekstrem dari ide, produk, brand, gagasan yang sebelumnya tidak dikenal, atau hampir mati, hampir dilupakan, mendadak viral, terkenal dan menjadi kiblat, idola, tren baru. Kondisi ini bisa berlaku sebaliknya dari sangat terkenal, berubah menjadi sangat tidak dikenal, mewabah kemudian berkurang.

Salah satu fenomena gampang untuk menjelaskan Tipping Point di Indonesia adalah fenomena alm Didi Kempot. Beliau menjadi penyanyi dan musisi dari 90an. Sempat booming dengan lagu Stasiun Balapan.

Karirnya kemudian meredup, namun almarhum tetap berkarya hingga menghasilkan 800 lagu. Saat karirnya meredup, pada Juli 2019 Didi Kempot diundang penyiar radio sekaligus youtuber Ghofar Hilman di acara Ngobam off air di Solo, Jawa Tengah.

Di luar dugaan, dari 100 orang yang ditargetkan, yang datang 1.500 dari kalangan muda. Dari acara Ngobam di Youtube ini yang saat ini telah ditonton, Didi Kempot diundang ke program Rossi Kompas TV dan mendapat julukan the Godfather of Broken Heart.

Dua event di atas menjadi titik balik puncak karir maestro Didi Kempot dengan sobat ambyarnya viral, dikenal lagi, dan menjad8 idola sad boys dan sad girls baik kalangan tua maupun anak muda.

Tipping point bisa dicapai jika ada tiga kriteria sebagai prasyaratnya. Seperti The Law of the Few, The Stickiness Factor, The Power of Context.

The Law of the Few
The law of the Few lebih kepada orang sebagai penyampai produk, ide. Ide, gagasan, produk bisa meledak kembali, mewabah di pasaran karena dipengaruhi oleh orang yang memiliki kategori mavens, connectors, dan salesmen.

Mavens di sini adalah sumber data, sumber informasi. Sedangkan Connectors Itu social glue yakni orang yang punya jejaring luas. Salesmen merupakan persuaders alias pembujuk yakni orang yang berkharisma dan punya kemampuan mempengaruhi orang lain.

Tiga tipe orang di atas menurut sang penulis buku Tipping Point yakni Malcolm Gladwell, berperan besar pada tren yang ada di dunia.

Contoh dari The Law of Few adalah kisah Paul Revere sebagai connector saat revolusi Amerika tahun 1775. Yakni Paul melakukan midnight ride dari Boston ke Lexington setelah mendapat laporan dari anak kecil yang mendengar percakapan tentara Inggris yang mengatakan akan menyerbu Concord. Berita tersebut kemudian menyebar dengan cepat melalui networking yang dimiliki Paul.

The Stickiness Factor
Agar suatu produk, ide menjadi viral, maka ide, produk tersebut harus menarik, mudah diiingat, nempel atau sticky. Jadi the stickiness factor adalah tentang produk, ide, gagasan itu sendiri, dan bagaimana ia disampaikan, diviralkan.

Contoh dalam buku ini adalah program favorit anak Blue’s Clues. Sebelumnya pemilik program TV tersebut sudah berhasil dengan Sesame Street. Namun Blue’s Clues berbeda dengan tampilan lebih sederhana, to the point dan fokus pada penyelesaian teka-teki.

Mungkin untuk contoh dalam versi sederhana di Indonesia adalah fenomena Ade Lontoh yang mempromosikan odading Mang Oleh dengan ucapan yang berbeda menggunakan Iron Man dan plesetan kata anjim. Alhasil produk yang diendorse laris manis.

The Power of Context
Kekuatan konteks sosial atau lingkungan sangat mempengaruhi suatu ide, gagasan, produk mewabah atau menjadi viral.

Teori yang digunakan Gladwell untuk mendukung statementnya adalah teori broken window theory.

Contohnya adalah menurunnya tindak kriminal di New York pada 1990-an secara tajam. Ternyata penurunan itu dipengaruhi oleh walikota dan kepala polisi yang menindak tegas perilaku yang terlihat sepele seperti membuat grafiti, kencing sembarangan, dll.

Sunnah Nabi itu Pro Perilaku Sosial

Perilaku sosial menjadi salah satu modalitas yang harus dimiliki individu untuk diterima sebagai bagian masyarakat. Perilaku sosial yang diterima masyarakat sesuai dengan norma sosial, budaya, dan agama yang diyakini dan disepakati oleh warga setempat.

Nyatanya Sunnah nabi itu, menurut KH Bahauddin Nursalim aka Gus Baha lebih mengacu kepada perilaku sosial ketimbang atribut yang lebih kepada simbol seperti sorban, gamis.

Meskipun, Gus Baha juga mengungkapkan Sunnah nabi berdasar atribut juga tidak salah. Tapi alangkah lebih baik jika Sunnah nabi mengacu kepada perilaku sosial yang diteladankan oleh Rasulullah SAW.

Perilaku sosial yang dicontohkan Rasulullah antara lain mudah memaafkan, mempunyai niat baik terhadap semua manusia, berbuat kebaikan, ihsan. Perilaku sosial lain yakni menasehati orang lain untuk kebaikan. Salah satu contoh Sunnah Rasulullah SAW yakni datang ketika dipanggil, diundang orang miskin.

“Sunnah nabi itu lewat perilaku. Hakikatnya adalah perilaku. Menurut Aisyah dalam Kitab Barzanji. Sunnah mengenakan sorban bukan sunnah yg dijawab Rasulullah,” terang Gus Baha.

Menurut Gus Baha sunnah nabi menggunakan atribut baju seperti Rasulullah SAW tetap termasuk sunnah. “Tapi bisa dibeli dengan uang,” jelasnya.

Morning Routine untuk Weekend Produktif

“If you win the morning, you win the day” – Tim Ferriss, 4 hour work week.

Morning Routine alias rutinitas pagi meliputi bangun tidur lebih awal diikuti dengan serangkaian ritual yang membuat kita siap dan tetap berenergi sepanjang hari.

Berikut rutinitas pagi saat weekend yang bisa dijadikan referensi khususnya bagi yang muslim.

1. Wake up. Bangun tidur sekitar pukul 04.30 wib atau 05.00 wib. Kemudian membaca doa bangun tidur, membaca hamdalah sebagai syukur masih diberi nikmat usia.

2. Make your bed. Bangun tidur ya merapikan tempat tidur. 3. Pray alias sholat shubuh. 4. Membaca QS Al Baqarah 10 ayat terakhir.

5. Stretching. Gerakan ringan seperti sit up 30 kali, tarik nafas. 6. Membersihkan wajah dengan ritual ala Korea ada 7 step ya.

6. Meyiramin tanaman. Kegiatan ini sekaligus sebagai relaksasi 7. Minum segelas air putih 8. Minum segelas lemon dan madu.

9. Minum segelas jus. 10. Membaca buku selama 15-30 menit. 11. Sholat duha. 12. Membaca QS Al Waqiah. 13. Olahraga ringan seperti jalan kaki bolak balik di dalam rumah, atau melakukan exercise menggunakan alat-alat sederhana.

14. Sarapan praktis sederhana dengan roti tawar gandum (ga dipanggang ya) hanya dikasih selai kacang cokelat ditaburi irisan kacang almond, wijen.

Bisa dicoba ya guys saat akhir pekan. Cayoo

Tips Menghilangkan Kebiasaan Menunda

Menunda pekerjaan memang kadang menyenangkan. Tapi bisa berakhir petaka. Mau?

Kamu suka nunda pekerjaan? Kamu tidak sendiri. Banyak di antara kita yang suka menunda pekerjaan.

Penyebab kita menjadi procrastinator salah satunya kita tidak menyukai pekerjaan itu. Atau kita merasa tidak mendapat penghargaan atas pekerjaan yang kita lakukan.

Faktor lain yang membuat kita menjadi procastinator yakni merasa masih ada waktu untuk menyelesaikan deadline. Dan baru sadar saat waktunya sudah mepet.

Tahu kan akhirnya yang terjadi. Outputnya tidak optimal. Kualitas pekerjaan kita tidak sebaik jika kita mengerjakannya di awal waktu. Mengapa? Karena masih ada waktu untuk merevisi, membenahi, mengedit pekerjaan kita.

Nah, berikut tips agar kita tidak lagi menunda pekerjaan hingga menjadi habit kita.

1. Kenali faktor yang menyebabkan kita menunda pekerjaan. Setelah tahu, kita bisa mencari solusi untuk keluar dari zona procrastinator.

2. Setting deadline lebih awal. Karena otak kita selalu beranggapan masih ada waktu untuk mengerjakan suatu tugas, maka langkah yang bisa kita ambil adalah menyusun deadline lebih awal dari deadline sesungguhnya.

Contohnya, deadline pekerjaan tanggal 10, maka kamu setting di otakmu tanggal 7 atau 8. So, masih ada waktu beberapa hari untuk merevisi kerjaan.

3. Ciptakan lingkungan kondusif. Salah satu faktor yang membuat kita menunda kerjaan yang seharusnya dikelarin adalah adanya gangguan-gangguan yang sifatnya menyenangkan. Sehingga kita malah terdistraksi melakukan hal lain yang menyenangkan ketimbang menyelesaikan kerjaan kita.

Hal-hal yang membuat kita terganggu dan akhirnya beralih tidak jadi menyelesaikan tugas antara lain ngobrol dengan teman, pasangan baik secara face to face maupun chat.

Adanya gangguan suara berisik, ponsel, medsos, acara TV dan masih banyak lagi. So, singkirkan dulu gangguan-gangguan tersebut agar kita bisa fokus dengan kerjaan kita.

4. Ya lakukan saja. Biar kita tidak menunda kerjaan, ya lakukan sekarang. Ga perlu menunggu setelah ngelarin ini, ngelarin itu. Eh tahu2 sudah jam 10 malam! Akhirnya begadang kan?

So, tetapkan waktu. Disiplin dengan waktu yang telah ditetapkan. Lakukan dengan fokus. Konsentrasi guys! Hehe

Logika Tauhid dari Angka

Ternyata dari angka, manusia bisa mengenal Allah SWT, Tuhan yang esa. Seperti diajarkan Imam Amudi.

Dalam salah satu kajiannya, Gus Baha alias KH Bahauddin Nursalim membahas logika tauhid dari belajar angka. Beliau merujuk pada kitab Nailul Ma’mul karangan Syaikh Mahfud At Turmusi (Termas).

Di dalam kitab tersebut dituliskan ada seorang ulama ternama bernama Imam Amudi. Beliau tidak mengajar fiqih, tarikh, persolatan, tetapi mengajar matematika.

Menurut Imam Amudi ilmu yang paling efektif untuk menjelaskan logika tauhid itu matematika. Hal itu ia ungkapkan ketika ketemu para malaikat, dan di depan para malaikat Imam Amudi ditanya Allah SWT kenapa dia belajar matematika.

Imam Amudi kemudian menjawab,” Supaya saya mentauhidkan engkau.” Kemudian Imam Amudi diminta Allah untuk mengajarkan kepada malaikat.

“Kamu membuat angka berapa saja satu juta satu miliar tetap awalnya satu. Di dunia, galaksi, planet, tetap asal usulnya satu. Yang lain itu pengembangan. Di luar dzat yang wahid, itu pengembangan. Jadi angka sebanyak apapun, berapapun bilangan semuanya berasal dari satu.”

Imam Amudi kemudian dikenal sebagai ulama ahli matematika yang mengenalkan konsep tauhid dari angka. Beliau juga menjadi ahli tauhid. MasyaAllah.

Jatuh lagi, dan lagi

Jatuh lagi, dan lagi

Semua juga tahu, perjalanan hidup tidak konstan, mulus seperti jalan Pantura ketika mau lebaran. Bahkan, jalan Pantura pun ada masa-masanya halus, tidak sepanjang bulan. Apalagi jalan kehidupan?

Masih ingat kan, kemarin kamu tertawa bersama teman-temanmu. Tak berselang lama, tawamu berganti airmata. Kesedihan karena kamu tidak dianggap sebagai bagian.

Kamu seolah pecundang yang hanya bertahan menumpang. Dan, kesedihan pun dengan leluasa bertandang.

Tapi ya begitu kamu, yang senantiasa menjalani hidup dengan semangat yang ada. Enggan berputus asa pada rasa.

Sedihmu kamu luapkan dalam genangan airmata. Tidak peduli kamu sedang dimana. Hanya airmata teman setia ketika lara mencubit jiwa.

Jatuh, dan jatuh lagi adalah cerita biasa dalam perjalanan anak manusia. Ingat lagi kan, ada masanya Tuhan menganugerahkan bertubi-tubi kesuksesan, keberhasilan.

Tapi kamu lupa ketika larut dalam suka. Ada masa-masa gagal, menjadi manusia tak berarti, kemudian melukai jiwa menanti di depan mata. Dan benar benar terjadi tanpa kamu bisa menghindari.

Yang bisa kamu lakukan adalah mencoba berdiri. Berpegang pada diri sendiri, untuk berusaha bertahan. Melarutkan tangisan dalam sujud-sujud sepertiga malam.

Karena sejatinya yang paling mengerti kamu adalah Tuhan, pencipta jiwa dan raga. Juga dirimu sendiri. Dialah teman teman terbaikmu dan teman setia. -SS-

Pelajaran Penting Untuk Perempuan

Bergosip itu buruk dan membuat dirimu turun kelas.

Apa saja hal tidak penting tapi kita lakukan dan menguras energi kita?

Semakin bertambah usi, kita akan menyadari hal-hal yang sejatinya tidak penting, tapi kita kerap melakukan demi keseimbangan relasi sosial kepada sesama perempuan. Akhirnya, kerap menjadi penghalang dalam berprogres menjadi pribadi baru.

1. Berteman dengan genk atau kelompok yang suka gosip. Kita beranggapan dengan berteman dengan genk bigos tersebut, posisi kita akan aman. Dalam artian tidak digosipin seperti teman yang lain.

Nyatanya, genk gosip selalu haus bahan ghibah dan tidak peduli itu teman sekelompok atau orang lain. Bahkan, kamu juga tidak luput menjadi bahan gosipan genkmu ketika kamu absen tidak ngumpul bareng mereka.

2. Berbuat baik dengan harapan teman perempuan lain suka dengan kita. Faktanya, perempuan kadang membenci perempuan lain tanpa perlu alasan kuat.

So, buang jauh-jauh mimpimu untuk disukai semua teman-temanmu. Pasalnya, perempuan lebih mudah terbakar iri ketimbang laki-laki. Juga mudah tersulut emosi tanpa berpikir seribu kali dengan logika.

3. People pleaser. Alias berusaha menyenangkan orang lain. Caranya, dengan menuruti kemauan teman. Karena sikap tersebut, kita kerap menghabiskan waktu yang sejatinya bisa digunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat untuk hidup atau kehidupan kelak.

Misalnya, teman-teman se-genkmu ngajak pergi belanja ke mall. Padahal kamu tidak lagi butuh apapun, dan ada kerjaan yang harus dikelarin.

Karena kamu tidak bisa menolak, akhirnya kamu ikutan pergi belanja ke pusat perbelanjaan hingga berjam-jam. Padahal, kamu punya schedule menyelesaikan tugasmu. Akhirnya kamu harus menambah waktu untuk ngelarin kerjaan.

4. Tidak berani berkata tidak. Misalnya nih, kamu bersama teman-temanmu ke mall. Saat teman-temanmu membeli baju, mereka juga nyodorin beberapa baju ke kamu, kamu tidak berani bilang tidak atau menolak. Akhirnya kamu membeli baju yang sejatinya kamu tidak perlukan.

5. Kerap memikirkan perkataan orang. Apa pun yang akan kamu lakukan, keputusan apapun yang akan kamu ambil, kamu kerap mempertimbangkan omongan orang lain.

Mulai dari cara berpakaian, mengaplikasikan make up, makan, belanja, memilih pasangan hidup hingga kegiatan ibadah pun kamu merasa perlu mempertimbangkan respons orang lain.

Karena pola pikir tersebut, kamu kerap ragu-ragu, tidak berani ambil keputusan, ragu-ragu bertindak karena takut menjadi bahan omongan.

Padahal, kita diam saja, kalau teman-teman kita memang suka gosip, diam kita juga akan menjadi bahan gosip. Nah lho.

Jika kamu terus bersikap seperti di atas, tanpa kamu sadari, banyak energi yang keluar hanya untuk menyesuaikan dengan anggapan orang.

Padahal, kebutuhanmu berbeda dengan mereka. Jalan hidupmu berbeda dengan mereka.

Omongan orang tentang kehidupan kita tidak akan ada habisnya. Bahkan, ketika kita sudah bersikap dan berperilaku sesuai dengan norma sosial dan norma kelompok.

Kalau sudah tahu begitu, ada baiknya dipilah. Tidak semua hal harus mempertimbangkan omongan orang lain.

Karena sebagian besar mereka hanya berkomentar saja. Tidak ikut andil meringankan beban hidupmu. Kenapa omongan mereka seolah-olah seperti sabda raja?

Hafal QS Al Mulk Dijamin Bebas dari Siksa Kubur

QS Al Mulk dikenal sebagai surah Al Quran yang membela penghafalnya, sebagai bentuk syafaat Al Quran.

Diriwayatkan oleh Ibnu Katsir orang yang di hatinya ada Al Quran maka akan selamat dari azab Allah SWT.

Lebih lanjut dinyatajan bahwa ada surat dalam Al Quran yang mati-matian membela penghafalnya. Sampai surat tersebut memasukkanya di surga.

Seperti dalam sebuah riwayat. Ada sahabat nabi karena kemalaman di jalan, bermalam, membuat tenda, yang ternyata kuburan. Ternyata ada orang membaca surat Al Mulk.

Sahabat tersebut kemudian bertanya kepada Rasulullah perihal QS Al Mulk. Rasulullah bersabda, “Memang surat Al Mulk itu al maniah bisa menghalau atau menolak azab. Munjiah, menyelamatkan orang tersebut dari siksa kubur.”

Karena keramatnya surat QS Al Malk, Rasulullah SAW ingin semua umatnya hafal QS Al Mulk dengan bersabda “Saya suka kalau QS Al Mulk ada di hati umatku.”

Terkait dengan syafaat dari QS Al Mulk bagi penghafalnya ketika di alam kubur, Gus Baha mengatakan malaikat itu mukallaf. Artinya malaikat, sama halnya manusia kena aturan hukum, yakni malaikat harus menghormati orang yang hafal Al Quran.

Keputusan Salah atau Keadaan yang Salah?

Kita kerap menyesali sebuah keputusan. Kita anggap keputusan itu salah. Benarkah demikian?

Manusia punya rencana. Tuhan yang menentukan jalan cerita. Seperti yang dialami sebut saja Giyan. Pada akhir Februari 2020, ia memutuskan resign dari kantor lamanya.

Sejatinya kantor lama Giyan lumayan kondusif baik dari sisi corporate culture maupun teamwork-nya. Tapi ada satu yang kurang. Seperti di dunia ini sih, mana afa yang sempurna. Iya, yang kurang satu, dan lumayan dibutuhkan seorang Giyan yang tengah merancang masa depan, besaran income.

Gaji yang diterima Giyan di kantor lama lumayan. Tapi memang belum seperti yang diharapkan. Sementara ada panggilan kerja dari salah satu kantor yang selama ini memang ia incar.

Tanpa berpikir panjang, Giyan pun memutuskan keluar dan memilih menerima panggilan kerja di kantor baru yang rencananya ia mulai masuk kantor sekitar pertengahan Maret 2020.

Siapa sangka, tanggal 2 Maret 2020 pemerintah mengumumkan kasus baru corona di Indonesia. Dan itu menjadi musibah bagi seorang Giyan. Belum sempat ia masuk kantor barunya, ia malah menerima pembatalan penerimaan karyawan baru karena omset bisnis perusahaan lesu gara-gara corona. Finally, Giyan jobless alias nganggur saat masa pandemi.

Kisah serupa dialami sebut saja namanya Raras. Ia perempuan muda, energik, punya karir bagus di salah satu perusahaan ternama. Namun, ada salah satu mimpi besarnya yang terus mengusiknya, menjadi entrepreneur.

Setelah rundingan dengan ortu, dan keluarganya, ia memutuskan keluar dari kerjaannya dan mulai mewujudkan mimpinya, memulai bisnis pada Januari 2020.

Butuh modal lumayan untuk mewujudkan mimpi Raras. Ia harus menguras tabungan untuk membeli peralatan untuk men-support bisnisnya. Belum lagi sewa ruangan setahun. Bahkan, Raras harus berhutang ke bank untuk menambah modal usaha.

Dua bulan berjalan lancar jaya. Siapa sangka, di bulan ketiga, semuanya berubah karena corona. Omset bisnis Raras terjun bebas. Sementara ia harus menggaji 2 orang karyawannya.

Yang paling bikin ia pusing, tagihan dari bank yang terus berjalan tiap bulan, padahal pemasukan sangat minim.

Baik Raras maupun Giyan menyesali keputusannya. Mereka merasa telah membuat keputusan salah yang mengantarkan keduanya ke jurang kegagalan.

Keputusan atau Keadaan?

Sejatinya jika keadaan dunia baik-baik saja, tidak ada wabah corona, keputusan Giyan dan Raras tepat, tidak ada yang salah.

Kalau keadaan dunia aman, Giyan bisa mendapat gaji jauh lebih besar dari kantor sebelumnya. Yang berarti Giyan bisa investasi lebih banyak lagi untuk masa depannya. Peluang karir pun juga akan lebih baik.

Hal sama juga berlaku bagi Raras. Kalau tidak muncul virus corona, bisnis Raras akan berjalan lancar. Raras tidak akan kesulitan membayar cicilan ke bank.

So, dari ilustrasi di atas, sejatinya keadaan yang paling pegang peranan. Meskipun, keputusan kita menjadi pintu pembuka kita akan selamat atau dapat musibah karena keadaan dari keputusan yang kita ambil.

Namun, menyesali keputusan yang telah diambil juga tidak merubah keadaan. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan agar kondisi diri tidak kian terpuruk adalah beradaptasi dengan keadaan.

Cara beradaptasi dengan new normal seperti apa? Caranya menambah skill yang diperlukan di masa sekarang. Memformulasikan bisnis sesuai tuntutan new normal.

Lainnya, lebih realistis memasang target baik dalam hal karir maupun bisnis. Berhenti menyesali keputusan dan menganggap sebagai langkah keberanian sebagai pelajaran dalam hidup.

Dengan sedikit merubah mindset, kamu akan mendapati dirimu lebih semangat. Menganggap dirimu sebagai pahlawan untuk hidupmu, bukan seorang pecundang.

There is no good decision or bad decision. It’s all about situation. Don’t lose the hope and more than regret. Take it as a learning.

Tidak PD Karena Masih Single

Menjadi tidak percaya diri karena masih single? Apa yang harus diubah dan dilakukan?

“Beb, masih ada cowo yang suka sama gw ga ya?” tanya temenku, Rika. Aku yang lagi melihat jalanan sore, langsung menoleh ke arahnya.

“Ka, lo itu manis, smart. Fakultas lo aja lebih keren dari gw,” jawabku.

Mendengar balasanku, kulihat ada sedikit cahaya di wajah di Rika. Tapi kemudian terlihat mendung lagi. “Tapi cinta kan ga melulu soal smart beb. Buktinya gw dari dulu sampai sekarang tetap jomblo. Lo malah yang banyak disukai cowok.”

Sambil membenarkan tali tasku, aku membalas omongan Rika. “Itu hanya perasaan lo saja Ka. Lo itu unik. Cuma mungkin belum ketemu cowok yang tepat.”

Lagi-lagi Rika langsung membantah omonganku. “Kalau unik, kenapa tiap gw suka sama cowok, mereka ga suka sama gw,” kata Rika dengan mimik sedih.

Nasib percintaan yang hampir selalu zig zag, alias tidak pernah ketemu yang sama-sama cinta, sedikit banyak membuat Rika tidak percaya diri.

Rika lebih banyak menutup diri. Ia cenderung pendiam. Pernah ada satu event, aku ajak dia. Biar rutenya ga cuma kost dan kantornya saja.

Ternyata, Rika mengaku tidak bisa enjoy, menikmati event tersebut. Ia merasa look-nya beda sama aku. “Lo kan stylish beb. Lab gw kayak begini,” kata Rika yang terlihat tidak nyaman dengan penampilannya.

Aku sendiri, jika di posisi Rika mungkin juga kadang merasa minder. Melihat teman-teman yang lain sudah punya pasangan, berkuarga. Apalagi jika kegiatannya lebih banyak seputar kost dan kantor. Tapi mindernya tidak boleh berlarut. Karena akan membuat kita sebagai pribadi menjadi kurang menarik.

Kurang Kasih Sayang
Jika flashback ke background keluarga Rika, ketidakpedean Rika sedikit banyak dipengaruhi oleh pola asuh orang tua.

Rika dibesarkan dari keluarga sederhana yang orang tuanya kurang hangat ke anak-anaknya. Ia mengaku tidak dekat baik ke ibunya maupun ayahnya.

Pola tersebut berlangsung dari Rika kecil sampai dewasa. Namun tidak demikian dengan perlakuan ortu Rika ke adiknya. Kedua orang tua Rika sangat sayang ke adiknya. Kebetulan, secara fisik, adik Rika yang terpaut 2 tahun itu juga lebih cantik.

Bukan hanya dalam hal fisik saja yang membuat adik Rika lebih menonjol ketimbang Rika. Bahkan dalam hal prestasi akademik, adiknya Rika ini juga lebih bagus ketimbang Rika.

Padahal menurutku, Rika sudah termasuk cerdas. Sebagai anak daerah, bisa diterima di salah satu fakultas bergengsi di PTN top di Jakarta.

Malangnya, dalam hal percintaan pun, adiknya Rika juga lebih beruntung. Ia banyak ditaksir cowok. Beda dengan Rika yang hingga bekerja belum pernah punya teman dekat.

Tanpa melihat jauh ke luar, ke teman-teman sekitar, kondisi adiknya Rika secara tidak langsung bisa membuat Rika tidak PD. Terlebih kurangnya support orang tua pada diri Rika.

Sebagai teman, aku gampang menasehati ini dan itu. Tapi untuk menjalaninya, bukan hal gampang. Karena kita mudah membandingkan dengan orang lain, bahkan saudara sendiri.

Untuk kamu yang saat ini jalan hidupnya seperti Rika, yuk belajar mencintai jalan hidup sendiri, belajar mencintai diri sendiri (self love).

Belajar mengekspolarasi kelebihan diri. Dengan tahu kelebihan sendiri, kita akan lebih percaya diri. Bukan berarti sombong. Tapi kita tahu, kita tidak sejelek yang kita pikirkan, kita kira.

Hal lain yang harus dilakukan adalah belajar menerima kondisi sekarang adalah yang terbaik sambil berusaha membuat perubahan dengan membuka diri berteman dengan banyak orang.

Yang tak kalah penting lagi, agar bisa lebih luas melihat dunia, aktif di komunitas baik offline maupun online. Siapa tahu dari sana kamu ketemu teman-teman asik yang membuat hidupmu menjadi lebih berwarna. Atau ketemu someone special yang selama ini hanya ada dalam angan.

Tapi, sejatinya ada yang perlu dirubah juga dengan mindset-mu. Bahwa masih single, lajang, itu tidak identik dengan lebih buruk, kalah, tidak cantik, tidak laku. Karena jika pemikiran ini masih diyakini, maka kamu akan mewariskan mindset sama kepada generasi seterusnya. Padahal punya pasangan, pacar, suami itu bukan sebuah prestasi. Hingga dianggap sebagai kompetisi.

Puasa Media Sosial atau Cerdas Bermedia Sosial?

lemonpolka.com

Tahu Kapan Harus Stop. Tahu Mana Platform Yang Membuatmu Up and Down.

Kurangi melihat media sosial seperti IG saat kamu tidak punya uang/uang pas-pasan, tidak bisa traveling, jobless, tidak menghasilkan uang, peluang dari IG.

Kurangi membuka facebook jika hidupmu belum lengkap, tidak normal seperti jalan hidup orang kebanyakan, atau tidak berprestasi. Misalnya kamu sedang jomblo tidak punya pasangan, belum menikah, sudah menikah tapi belum punya anak. Atau karirmu, sekolahmu biasa saja, tidak ada prestasi yang bisa dishare.

Batasi membuka twitter jika kamu sedang ada masalah. Karena sebagian twit yang beredar di lini masa kadang malah membuat harimu semakin mendung.

Mengapa? Twitter saat ini menjadi salah satu platform media yang kerap digunakan untuk mengeluarkan uneg-uneg, kekesalan, kemarahan, atau masalah pribadi. Twitter juga menjadi ladang subur buzzer politik untuk mendapat dukungan dengan opini-opini, klaim sepihak.

Batasi membuka whatsapp jika kamu sedang banyak agenda atau kerjaan yang harus diselesaikan. Pasalnya, begitu kamu membuka whatsapp, waktu kamu akan habis untuk menjawab chat masuk atau komentar dalam grup whatsapp.

Begitu kita sudah mulai terlibat dalam chat, kita akan susah mengontrol waktu kita. Terlebih jika kita ikutan ngobrol dalam grup. Dengan engage dalam obrolan di grup, kita akan intens melihat WA. Karena penasaran dengan respons anggota lain terkait chat kita.

Selain menghabiskan waktu dengan chat yang kadang tidak perlu, kekepoan kita akan menggiring pada kegiatan stalk status WA. Belum lagi asumsi yang muncul setelah membaca status seseorang. Akhirnya kamu sibuk bersumsi kehidupan orang lain. Padahal kamu sendiri merasa waktu untuk urusan hidupmu terasa sangat kurang. Rugi bukan?

Salah satu platfotm yang bisa kamu kunjungi ketika hidupmu terasa pahit seperti pil atau jamu adalah Quora. Di sana kamu akan menemukan orang yang bernasib sama, kurang beruntung nasibnya seperti kamu. Tapi ingat, kamu juga tetap skeptis dan kritis. Karena cerita yang tertuang di Quora belum tentu riil, benar. Karena sebagian merupakan akun anonim. Jadi, kamu harus menyaring info masuk yang dibaca. Kamu pun harus pintar mengontrol diri. Tidak menghabiskan banyak waktu berselancar di Quora. Padahal masih banyak hal yang harus dikelarin.

Ketika sedang patah hati, diputuskan, pisah, atau cinta tak terbalas, kamu bisa mendownload aplikasi novelme atau storial. Jadikan sedihmu tidak selamanya negatif. Tapi menjadi hal positif dalam hidup. Karena kamu bisa sharing kesedihanmu dalam format cerita. Juga punya kesempatan peluang mendapatkan pundi-pundi rupiah dari sana.

Jika kamu kesulitan mengontrol diri ketika bermedia sosial baik dari sisi emosi maupun waktu. Tidak bisa stop, untuk log out bahkan kecanduan menghabiskan waktu hanya untuk kepo kehidupan orang lain hingga masuk dalam urusan hidup orang lain tersebut yang tidak kamu kenal secara langsung.

Atau merasa minder setelah melihat postingan orang lain di IG yang terlihat kaya, bahagia, bisa traveling ke berbagai dunia, bisa makan di resto yang harganya tidak terjangkau oleh kantongmu.

Kamu merasa sedih, merasa sendiri, merasa menjadi orang sial setelah melihat postingan teman di facebook yang terlihat bahagia bersama pasangan hidup dan anak-anaknya sementara kamu belum ketemu jodoh.

Emosi sedih, kecewa dengan diri sendiri, kecewa dengan jalan hidup, tidak puas dengan hidup dijalani, menjadi indikator kuat bahwa kamu harus puasa media sosial.

Kamu bisa puasa media sosial secara temporer beberapa saat atau bertahap. Misalnya jika tadinya sehari main IG, FB, twitter bisa tiga jam, bisa dikurangi seminggu sekali saja. Dari seminggu bisa berlanjut 2 bulan sekali, atau sebulan sekali.

Treatment ini kemudian dievaluasi. Juga perilakumu ketika bermedia sosial apakah ada perubahan atau sama saja. Apakah kamu sudah bisa mengontrol diri atau masih dililit candu media sosial.

Dari evaluasi ini, kamu bisa memutuskan mana yang paling tepat untuk dirimu. Puasa media sosial, atau cerdas menggunakan media sosial dengan disiplin meregulasi diri terkait waktu dan platform yang tepat disesuaikan dengan emosi dan keadaan diri sendiri.

Don’t look down on those who have social media. It literally isn’t about the social media but about the person. Like anything, if you use it right, it can be good. And if you use it wrong you will waste precious time.