Tipping Point si Titik Perubahan

Tipping Points menjadi titik perubahan sebuah gagasan, produk mewabah semacam epidemi, viral dan dikenal banyak orang. Tentu ada sejumlah prasyaratnya. Apa saja?

Makna Tipping Point adalah titik perubahan ide, produk, merek dari hampir ditinggalkan, tidak dikenali menjadi terkenal, tren, viral, menyebar luas. Atau kondisi sebaliknya.

Lebih mudahnya tipping point adalah kondisi ekstrem dari ide, produk, brand, gagasan yang sebelumnya tidak dikenal, atau hampir mati, hampir dilupakan, mendadak viral, terkenal dan menjadi kiblat, idola, tren baru. Kondisi ini bisa berlaku sebaliknya dari sangat terkenal, berubah menjadi sangat tidak dikenal, mewabah kemudian berkurang.

Salah satu fenomena gampang untuk menjelaskan Tipping Point di Indonesia adalah fenomena alm Didi Kempot. Beliau menjadi penyanyi dan musisi dari 90an. Sempat booming dengan lagu Stasiun Balapan.

Karirnya kemudian meredup, namun almarhum tetap berkarya hingga menghasilkan 800 lagu. Saat karirnya meredup, pada Juli 2019 Didi Kempot diundang penyiar radio sekaligus youtuber Ghofar Hilman di acara Ngobam off air di Solo, Jawa Tengah.

Di luar dugaan, dari 100 orang yang ditargetkan, yang datang 1.500 dari kalangan muda. Dari acara Ngobam di Youtube ini yang saat ini telah ditonton, Didi Kempot diundang ke program Rossi Kompas TV dan mendapat julukan the Godfather of Broken Heart.

Dua event di atas menjadi titik balik puncak karir maestro Didi Kempot dengan sobat ambyarnya viral, dikenal lagi, dan menjad8 idola sad boys dan sad girls baik kalangan tua maupun anak muda.

Tipping point bisa dicapai jika ada tiga kriteria sebagai prasyaratnya. Seperti The Law of the Few, The Stickiness Factor, The Power of Context.

The Law of the Few
The law of the Few lebih kepada orang sebagai penyampai produk, ide. Ide, gagasan, produk bisa meledak kembali, mewabah di pasaran karena dipengaruhi oleh orang yang memiliki kategori mavens, connectors, dan salesmen.

Mavens di sini adalah sumber data, sumber informasi. Sedangkan Connectors Itu social glue yakni orang yang punya jejaring luas. Salesmen merupakan persuaders alias pembujuk yakni orang yang berkharisma dan punya kemampuan mempengaruhi orang lain.

Tiga tipe orang di atas menurut sang penulis buku Tipping Point yakni Malcolm Gladwell, berperan besar pada tren yang ada di dunia.

Contoh dari The Law of Few adalah kisah Paul Revere sebagai connector saat revolusi Amerika tahun 1775. Yakni Paul melakukan midnight ride dari Boston ke Lexington setelah mendapat laporan dari anak kecil yang mendengar percakapan tentara Inggris yang mengatakan akan menyerbu Concord. Berita tersebut kemudian menyebar dengan cepat melalui networking yang dimiliki Paul.

The Stickiness Factor
Agar suatu produk, ide menjadi viral, maka ide, produk tersebut harus menarik, mudah diiingat, nempel atau sticky. Jadi the stickiness factor adalah tentang produk, ide, gagasan itu sendiri, dan bagaimana ia disampaikan, diviralkan.

Contoh dalam buku ini adalah program favorit anak Blue’s Clues. Sebelumnya pemilik program TV tersebut sudah berhasil dengan Sesame Street. Namun Blue’s Clues berbeda dengan tampilan lebih sederhana, to the point dan fokus pada penyelesaian teka-teki.

Mungkin untuk contoh dalam versi sederhana di Indonesia adalah fenomena Ade Lontoh yang mempromosikan odading Mang Oleh dengan ucapan yang berbeda menggunakan Iron Man dan plesetan kata anjim. Alhasil produk yang diendorse laris manis.

The Power of Context
Kekuatan konteks sosial atau lingkungan sangat mempengaruhi suatu ide, gagasan, produk mewabah atau menjadi viral.

Teori yang digunakan Gladwell untuk mendukung statementnya adalah teori broken window theory.

Contohnya adalah menurunnya tindak kriminal di New York pada 1990-an secara tajam. Ternyata penurunan itu dipengaruhi oleh walikota dan kepala polisi yang menindak tegas perilaku yang terlihat sepele seperti membuat grafiti, kencing sembarangan, dll.

Sunnah Nabi itu Pro Perilaku Sosial

Perilaku sosial menjadi salah satu modalitas yang harus dimiliki individu untuk diterima sebagai bagian masyarakat. Perilaku sosial yang diterima masyarakat sesuai dengan norma sosial, budaya, dan agama yang diyakini dan disepakati oleh warga setempat.

Nyatanya Sunnah nabi itu, menurut KH Bahauddin Nursalim aka Gus Baha lebih mengacu kepada perilaku sosial ketimbang atribut yang lebih kepada simbol seperti sorban, gamis.

Meskipun, Gus Baha juga mengungkapkan Sunnah nabi berdasar atribut juga tidak salah. Tapi alangkah lebih baik jika Sunnah nabi mengacu kepada perilaku sosial yang diteladankan oleh Rasulullah SAW.

Perilaku sosial yang dicontohkan Rasulullah antara lain mudah memaafkan, mempunyai niat baik terhadap semua manusia, berbuat kebaikan, ihsan. Perilaku sosial lain yakni menasehati orang lain untuk kebaikan. Salah satu contoh Sunnah Rasulullah SAW yakni datang ketika dipanggil, diundang orang miskin.

“Sunnah nabi itu lewat perilaku. Hakikatnya adalah perilaku. Menurut Aisyah dalam Kitab Barzanji. Sunnah mengenakan sorban bukan sunnah yg dijawab Rasulullah,” terang Gus Baha.

Menurut Gus Baha sunnah nabi menggunakan atribut baju seperti Rasulullah SAW tetap termasuk sunnah. “Tapi bisa dibeli dengan uang,” jelasnya.