Maunya Nyaman. Maunya Branded? Tapi Uang Pas-Pasan.

20200619_222339

Demi gengsi, kadang orang enggan menurunkan standar nyaman. Finansial pun tergerus ambyar.

Ini cerita temanku. Panggil saja namanya Dira. Tubuhnya jangkung, kulit bersih, wajahnya terbilang cantik. Sekilas, hidup Dira baik-baik saja.

Ia tinggal bersama mamanya di sebilang rumah nan apik dengan perabotan antik. Sebagai anak kost yang main ke rumahnya, aku kerap dibuat takjub dengan koleksi piring-piring antik mama Dira. Aku memanggilnya tante, tanpa ada nama dibelakangnya.

Dari sudut pandangku, keluarga Dira lebih berkecukupan dilihat dari rumah dan koleksi houseware mamanya. Itu sebelum aku tahu cerita sebenarnya.

Nyatanya, rumah yang ditempati Dira bersama mamanya, belakangan baru aku tahu, ternyata rumah kontrakan, bukan rumah sendiri.

Menurut cerita Dira, mamanya membayar kontrakan dari uang pensiunan almarhum papa Dira yang dulunya karirnya sudah terbilang lumayan di pemerintahan.

Bahkan, Dira pernah cerita, waktu kecil mereka sempat tinggal di salah satu kompleks elit di Jakarta Selatan. Dira juga bercerita keluarganya kerap traveling ke luar negeri saat papanya masih hidup.

Pelan Pelan Aset Berkurang

Selepas papa Dira meninggal dunia, mama Dira mengandalkan uang pensiunan almarhum suami untuk membiayai hidupnya dan anaknya.

Bisa ditebak kan, lambat laun aset keluarga orang tua Dira akan menipis karena tidak ada pemasukan, sementara pengeluaran berjalan terus tiap hari.

Hal pertama yang dilakukan adalah tidak menggunakan lagi asisten rumah tangga yang sudah ikut keluarga Dira dari Dira kecil.

Secara langsung, kenyamanan mama Dira dan Dira pun terganggu. Karena mulai saat itu mereka harus melakukan apa-apa sendiri.

Bukan hanya ART yang dirumahkan. Rumah peninggalan almarhum papa Dira juga dijual untuk membiayai kebutuhan yang tidak bisa ditahan. Juga mobil yang selama ini mengantarkan orang tua Dira dan Dira selama berkegiatan.

Dira dan mamanya kemudian memilih mengontrak di pinggiran Jakarta. Salah satu peninggalan dari masa hidup berkecukupan mereka yakni piranti makan yang terbilang lux. Juga perabot rumah nan antik.

Gengsi, Bertahan dengan Nyaman
Ada pelajaran yang bisa diambil dari kisah hidup keluarga Dira. Kondisi keluarga Dira akan lebih baik, maksudnya tetap punya rumah sendiri meskipun di pinggiran, andaikan mama Dira melucuti gengsi.

Dira dan mamanya tidak perlu berpindah tempat karena harus mencari kontrakan yang nyaman dengan harga terjangkau. Tentu saja juga harus membayar kontrakan tiap tahunnya. Selain itu, lebih tenang karena punya rumah sendiri, sekaligus punya aset untuk jaminan.

Enggan Menyesuaikan Keadaan
Aset keluarga Dira juga tidak akan terjun bebas, andaikan Dira dan keluarganya mau berdamai dengan keadaan. Alias mau menyesuaikan diri dengan keadaan.

Meskipun penghasilannya hanya bergantung pada pensiunan, standar hidup mama Dira tidak berubah. Salah satunya dalam hal transportasi. Si tante ini kemana-mana selalu menggunakan taksi, tidak mau naik angkutan umum.

Begitu pun dalam hal fesyen. Kata Dira sendiri mamanya dan dirinya terbiasa membeli barang branded. Alhasil, uang yang pas-pasan itu pun tergerus untuk membeli barang-barang branded.

Model-model keluarga seperti mama Dira ini biasanya mengutamakan look ketimbang aset untuk keamanan keuangan keluarga. Mereka menyebar di berbagai kalangan.

Bahkan dalam sebuah podcast Deddy Corbuzier, seorang financial consultant cerita bahwa salah satu kliennya dari kalangan artis kelimpungan di masa sulit seperti sekarang. Karena ybs tidak punya tabungan dan aset. Padahal penghasilannya ratusan juta sekali show. Ternyata uang penghasilan si artis ini sebagian besar dialokasikan untuk belanja barang-barang  branded yang saat ini nilainya jatuh. Sementara job lagi sepi. Kebayang kan?

Saving dan memikirkan keamanan hari esok secara proporsional itu penting. Karena hidup perlu biaya, bukan gaya. Jangan sampai terjebak ingin terlihat kaya, tapi tidak punya apa-apa. Alias budget pas-pasan tapi jiwa sosialita.

Bayangkan hidup memuja penampilan, tanpa aset, di musim sulit seperti pandemi covid19 seperti sekarang. Padahal, impresi orang tidak membuat kita kenyang dan aman kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s