Pelajaran Penting Untuk Perempuan

Bergosip itu buruk dan membuat dirimu turun kelas.

Apa saja hal tidak penting tapi kita lakukan dan menguras energi kita?

Semakin bertambah usi, kita akan menyadari hal-hal yang sejatinya tidak penting, tapi kita kerap melakukan demi keseimbangan relasi sosial kepada sesama perempuan. Akhirnya, kerap menjadi penghalang dalam berprogres menjadi pribadi baru.

1. Berteman dengan genk atau kelompok yang suka gosip. Kita beranggapan dengan berteman dengan genk bigos tersebut, posisi kita akan aman. Dalam artian tidak digosipin seperti teman yang lain.

Nyatanya, genk gosip selalu haus bahan ghibah dan tidak peduli itu teman sekelompok atau orang lain. Bahkan, kamu juga tidak luput menjadi bahan gosipan genkmu ketika kamu absen tidak ngumpul bareng mereka.

2. Berbuat baik dengan harapan teman perempuan lain suka dengan kita. Faktanya, perempuan kadang membenci perempuan lain tanpa perlu alasan kuat.

So, buang jauh-jauh mimpimu untuk disukai semua teman-temanmu. Pasalnya, perempuan lebih mudah terbakar iri ketimbang laki-laki. Juga mudah tersulut emosi tanpa berpikir seribu kali dengan logika.

3. People pleaser. Alias berusaha menyenangkan orang lain. Caranya, dengan menuruti kemauan teman. Karena sikap tersebut, kita kerap menghabiskan waktu yang sejatinya bisa digunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat untuk hidup atau kehidupan kelak.

Misalnya, teman-teman se-genkmu ngajak pergi belanja ke mall. Padahal kamu tidak lagi butuh apapun, dan ada kerjaan yang harus dikelarin.

Karena kamu tidak bisa menolak, akhirnya kamu ikutan pergi belanja ke pusat perbelanjaan hingga berjam-jam. Padahal, kamu punya schedule menyelesaikan tugasmu. Akhirnya kamu harus menambah waktu untuk ngelarin kerjaan.

4. Tidak berani berkata tidak. Misalnya nih, kamu bersama teman-temanmu ke mall. Saat teman-temanmu membeli baju, mereka juga nyodorin beberapa baju ke kamu, kamu tidak berani bilang tidak atau menolak. Akhirnya kamu membeli baju yang sejatinya kamu tidak perlukan.

5. Kerap memikirkan perkataan orang. Apa pun yang akan kamu lakukan, keputusan apapun yang akan kamu ambil, kamu kerap mempertimbangkan omongan orang lain.

Mulai dari cara berpakaian, mengaplikasikan make up, makan, belanja, memilih pasangan hidup hingga kegiatan ibadah pun kamu merasa perlu mempertimbangkan respons orang lain.

Karena pola pikir tersebut, kamu kerap ragu-ragu, tidak berani ambil keputusan, ragu-ragu bertindak karena takut menjadi bahan omongan.

Padahal, kita diam saja, kalau teman-teman kita memang suka gosip, diam kita juga akan menjadi bahan gosip. Nah lho.

Jika kamu terus bersikap seperti di atas, tanpa kamu sadari, banyak energi yang keluar hanya untuk menyesuaikan dengan anggapan orang.

Padahal, kebutuhanmu berbeda dengan mereka. Jalan hidupmu berbeda dengan mereka.

Omongan orang tentang kehidupan kita tidak akan ada habisnya. Bahkan, ketika kita sudah bersikap dan berperilaku sesuai dengan norma sosial dan norma kelompok.

Kalau sudah tahu begitu, ada baiknya dipilah. Tidak semua hal harus mempertimbangkan omongan orang lain.

Karena sebagian besar mereka hanya berkomentar saja. Tidak ikut andil meringankan beban hidupmu. Kenapa omongan mereka seolah-olah seperti sabda raja?

Hafal QS Al Mulk Dijamin Bebas dari Siksa Kubur

QS Al Mulk dikenal sebagai surah Al Quran yang membela penghafalnya, sebagai bentuk syafaat Al Quran.

Diriwayatkan oleh Ibnu Katsir orang yang di hatinya ada Al Quran maka akan selamat dari azab Allah SWT.

Lebih lanjut dinyatajan bahwa ada surat dalam Al Quran yang mati-matian membela penghafalnya. Sampai surat tersebut memasukkanya di surga.

Seperti dalam sebuah riwayat. Ada sahabat nabi karena kemalaman di jalan, bermalam, membuat tenda, yang ternyata kuburan. Ternyata ada orang membaca surat Al Mulk.

Sahabat tersebut kemudian bertanya kepada Rasulullah perihal QS Al Mulk. Rasulullah bersabda, “Memang surat Al Mulk itu al maniah bisa menghalau atau menolak azab. Munjiah, menyelamatkan orang tersebut dari siksa kubur.”

Karena keramatnya surat QS Al Malk, Rasulullah SAW ingin semua umatnya hafal QS Al Mulk dengan bersabda “Saya suka kalau QS Al Mulk ada di hati umatku.”

Terkait dengan syafaat dari QS Al Mulk bagi penghafalnya ketika di alam kubur, Gus Baha mengatakan malaikat itu mukallaf. Artinya malaikat, sama halnya manusia kena aturan hukum, yakni malaikat harus menghormati orang yang hafal Al Quran.

Keputusan Salah atau Keadaan yang Salah?

Kita kerap menyesali sebuah keputusan. Kita anggap keputusan itu salah. Benarkah demikian?

Manusia punya rencana. Tuhan yang menentukan jalan cerita. Seperti yang dialami sebut saja Giyan. Pada akhir Februari 2020, ia memutuskan resign dari kantor lamanya.

Sejatinya kantor lama Giyan lumayan kondusif baik dari sisi corporate culture maupun teamwork-nya. Tapi ada satu yang kurang. Seperti di dunia ini sih, mana afa yang sempurna. Iya, yang kurang satu, dan lumayan dibutuhkan seorang Giyan yang tengah merancang masa depan, besaran income.

Gaji yang diterima Giyan di kantor lama lumayan. Tapi memang belum seperti yang diharapkan. Sementara ada panggilan kerja dari salah satu kantor yang selama ini memang ia incar.

Tanpa berpikir panjang, Giyan pun memutuskan keluar dan memilih menerima panggilan kerja di kantor baru yang rencananya ia mulai masuk kantor sekitar pertengahan Maret 2020.

Siapa sangka, tanggal 2 Maret 2020 pemerintah mengumumkan kasus baru corona di Indonesia. Dan itu menjadi musibah bagi seorang Giyan. Belum sempat ia masuk kantor barunya, ia malah menerima pembatalan penerimaan karyawan baru karena omset bisnis perusahaan lesu gara-gara corona. Finally, Giyan jobless alias nganggur saat masa pandemi.

Kisah serupa dialami sebut saja namanya Raras. Ia perempuan muda, energik, punya karir bagus di salah satu perusahaan ternama. Namun, ada salah satu mimpi besarnya yang terus mengusiknya, menjadi entrepreneur.

Setelah rundingan dengan ortu, dan keluarganya, ia memutuskan keluar dari kerjaannya dan mulai mewujudkan mimpinya, memulai bisnis pada Januari 2020.

Butuh modal lumayan untuk mewujudkan mimpi Raras. Ia harus menguras tabungan untuk membeli peralatan untuk men-support bisnisnya. Belum lagi sewa ruangan setahun. Bahkan, Raras harus berhutang ke bank untuk menambah modal usaha.

Dua bulan berjalan lancar jaya. Siapa sangka, di bulan ketiga, semuanya berubah karena corona. Omset bisnis Raras terjun bebas. Sementara ia harus menggaji 2 orang karyawannya.

Yang paling bikin ia pusing, tagihan dari bank yang terus berjalan tiap bulan, padahal pemasukan sangat minim.

Baik Raras maupun Giyan menyesali keputusannya. Mereka merasa telah membuat keputusan salah yang mengantarkan keduanya ke jurang kegagalan.

Keputusan atau Keadaan?

Sejatinya jika keadaan dunia baik-baik saja, tidak ada wabah corona, keputusan Giyan dan Raras tepat, tidak ada yang salah.

Kalau keadaan dunia aman, Giyan bisa mendapat gaji jauh lebih besar dari kantor sebelumnya. Yang berarti Giyan bisa investasi lebih banyak lagi untuk masa depannya. Peluang karir pun juga akan lebih baik.

Hal sama juga berlaku bagi Raras. Kalau tidak muncul virus corona, bisnis Raras akan berjalan lancar. Raras tidak akan kesulitan membayar cicilan ke bank.

So, dari ilustrasi di atas, sejatinya keadaan yang paling pegang peranan. Meskipun, keputusan kita menjadi pintu pembuka kita akan selamat atau dapat musibah karena keadaan dari keputusan yang kita ambil.

Namun, menyesali keputusan yang telah diambil juga tidak merubah keadaan. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan agar kondisi diri tidak kian terpuruk adalah beradaptasi dengan keadaan.

Cara beradaptasi dengan new normal seperti apa? Caranya menambah skill yang diperlukan di masa sekarang. Memformulasikan bisnis sesuai tuntutan new normal.

Lainnya, lebih realistis memasang target baik dalam hal karir maupun bisnis. Berhenti menyesali keputusan dan menganggap sebagai langkah keberanian sebagai pelajaran dalam hidup.

Dengan sedikit merubah mindset, kamu akan mendapati dirimu lebih semangat. Menganggap dirimu sebagai pahlawan untuk hidupmu, bukan seorang pecundang.

There is no good decision or bad decision. It’s all about situation. Don’t lose the hope and more than regret. Take it as a learning.

Tidak PD Karena Masih Single

Menjadi tidak percaya diri karena masih single? Apa yang harus diubah dan dilakukan?

“Beb, masih ada cowo yang suka sama gw ga ya?” tanya temenku, Rika. Aku yang lagi melihat jalanan sore, langsung menoleh ke arahnya.

“Ka, lo itu manis, smart. Fakultas lo aja lebih keren dari gw,” jawabku.

Mendengar balasanku, kulihat ada sedikit cahaya di wajah di Rika. Tapi kemudian terlihat mendung lagi. “Tapi cinta kan ga melulu soal smart beb. Buktinya gw dari dulu sampai sekarang tetap jomblo. Lo malah yang banyak disukai cowok.”

Sambil membenarkan tali tasku, aku membalas omongan Rika. “Itu hanya perasaan lo saja Ka. Lo itu unik. Cuma mungkin belum ketemu cowok yang tepat.”

Lagi-lagi Rika langsung membantah omonganku. “Kalau unik, kenapa tiap gw suka sama cowok, mereka ga suka sama gw,” kata Rika dengan mimik sedih.

Nasib percintaan yang hampir selalu zig zag, alias tidak pernah ketemu yang sama-sama cinta, sedikit banyak membuat Rika tidak percaya diri.

Rika lebih banyak menutup diri. Ia cenderung pendiam. Pernah ada satu event, aku ajak dia. Biar rutenya ga cuma kost dan kantornya saja.

Ternyata, Rika mengaku tidak bisa enjoy, menikmati event tersebut. Ia merasa look-nya beda sama aku. “Lo kan stylish beb. Lab gw kayak begini,” kata Rika yang terlihat tidak nyaman dengan penampilannya.

Aku sendiri, jika di posisi Rika mungkin juga kadang merasa minder. Melihat teman-teman yang lain sudah punya pasangan, berkuarga. Apalagi jika kegiatannya lebih banyak seputar kost dan kantor. Tapi mindernya tidak boleh berlarut. Karena akan membuat kita sebagai pribadi menjadi kurang menarik.

Kurang Kasih Sayang
Jika flashback ke background keluarga Rika, ketidakpedean Rika sedikit banyak dipengaruhi oleh pola asuh orang tua.

Rika dibesarkan dari keluarga sederhana yang orang tuanya kurang hangat ke anak-anaknya. Ia mengaku tidak dekat baik ke ibunya maupun ayahnya.

Pola tersebut berlangsung dari Rika kecil sampai dewasa. Namun tidak demikian dengan perlakuan ortu Rika ke adiknya. Kedua orang tua Rika sangat sayang ke adiknya. Kebetulan, secara fisik, adik Rika yang terpaut 2 tahun itu juga lebih cantik.

Bukan hanya dalam hal fisik saja yang membuat adik Rika lebih menonjol ketimbang Rika. Bahkan dalam hal prestasi akademik, adiknya Rika ini juga lebih bagus ketimbang Rika.

Padahal menurutku, Rika sudah termasuk cerdas. Sebagai anak daerah, bisa diterima di salah satu fakultas bergengsi di PTN top di Jakarta.

Malangnya, dalam hal percintaan pun, adiknya Rika juga lebih beruntung. Ia banyak ditaksir cowok. Beda dengan Rika yang hingga bekerja belum pernah punya teman dekat.

Tanpa melihat jauh ke luar, ke teman-teman sekitar, kondisi adiknya Rika secara tidak langsung bisa membuat Rika tidak PD. Terlebih kurangnya support orang tua pada diri Rika.

Sebagai teman, aku gampang menasehati ini dan itu. Tapi untuk menjalaninya, bukan hal gampang. Karena kita mudah membandingkan dengan orang lain, bahkan saudara sendiri.

Untuk kamu yang saat ini jalan hidupnya seperti Rika, yuk belajar mencintai jalan hidup sendiri, belajar mencintai diri sendiri (self love).

Belajar mengekspolarasi kelebihan diri. Dengan tahu kelebihan sendiri, kita akan lebih percaya diri. Bukan berarti sombong. Tapi kita tahu, kita tidak sejelek yang kita pikirkan, kita kira.

Hal lain yang harus dilakukan adalah belajar menerima kondisi sekarang adalah yang terbaik sambil berusaha membuat perubahan dengan membuka diri berteman dengan banyak orang.

Yang tak kalah penting lagi, agar bisa lebih luas melihat dunia, aktif di komunitas baik offline maupun online. Siapa tahu dari sana kamu ketemu teman-teman asik yang membuat hidupmu menjadi lebih berwarna. Atau ketemu someone special yang selama ini hanya ada dalam angan.

Tapi, sejatinya ada yang perlu dirubah juga dengan mindset-mu. Bahwa masih single, lajang, itu tidak identik dengan lebih buruk, kalah, tidak cantik, tidak laku. Karena jika pemikiran ini masih diyakini, maka kamu akan mewariskan mindset sama kepada generasi seterusnya. Padahal punya pasangan, pacar, suami itu bukan sebuah prestasi. Hingga dianggap sebagai kompetisi.

Puasa Media Sosial atau Cerdas Bermedia Sosial?

lemonpolka.com

Tahu Kapan Harus Stop. Tahu Mana Platform Yang Membuatmu Up and Down.

Kurangi melihat media sosial seperti IG saat kamu tidak punya uang/uang pas-pasan, tidak bisa traveling, jobless, tidak menghasilkan uang, peluang dari IG.

Kurangi membuka facebook jika hidupmu belum lengkap, tidak normal seperti jalan hidup orang kebanyakan, atau tidak berprestasi. Misalnya kamu sedang jomblo tidak punya pasangan, belum menikah, sudah menikah tapi belum punya anak. Atau karirmu, sekolahmu biasa saja, tidak ada prestasi yang bisa dishare.

Batasi membuka twitter jika kamu sedang ada masalah. Karena sebagian twit yang beredar di lini masa kadang malah membuat harimu semakin mendung.

Mengapa? Twitter saat ini menjadi salah satu platform media yang kerap digunakan untuk mengeluarkan uneg-uneg, kekesalan, kemarahan, atau masalah pribadi. Twitter juga menjadi ladang subur buzzer politik untuk mendapat dukungan dengan opini-opini, klaim sepihak.

Batasi membuka whatsapp jika kamu sedang banyak agenda atau kerjaan yang harus diselesaikan. Pasalnya, begitu kamu membuka whatsapp, waktu kamu akan habis untuk menjawab chat masuk atau komentar dalam grup whatsapp.

Begitu kita sudah mulai terlibat dalam chat, kita akan susah mengontrol waktu kita. Terlebih jika kita ikutan ngobrol dalam grup. Dengan engage dalam obrolan di grup, kita akan intens melihat WA. Karena penasaran dengan respons anggota lain terkait chat kita.

Selain menghabiskan waktu dengan chat yang kadang tidak perlu, kekepoan kita akan menggiring pada kegiatan stalk status WA. Belum lagi asumsi yang muncul setelah membaca status seseorang. Akhirnya kamu sibuk bersumsi kehidupan orang lain. Padahal kamu sendiri merasa waktu untuk urusan hidupmu terasa sangat kurang. Rugi bukan?

Salah satu platfotm yang bisa kamu kunjungi ketika hidupmu terasa pahit seperti pil atau jamu adalah Quora. Di sana kamu akan menemukan orang yang bernasib sama, kurang beruntung nasibnya seperti kamu. Tapi ingat, kamu juga tetap skeptis dan kritis. Karena cerita yang tertuang di Quora belum tentu riil, benar. Karena sebagian merupakan akun anonim. Jadi, kamu harus menyaring info masuk yang dibaca. Kamu pun harus pintar mengontrol diri. Tidak menghabiskan banyak waktu berselancar di Quora. Padahal masih banyak hal yang harus dikelarin.

Ketika sedang patah hati, diputuskan, pisah, atau cinta tak terbalas, kamu bisa mendownload aplikasi novelme atau storial. Jadikan sedihmu tidak selamanya negatif. Tapi menjadi hal positif dalam hidup. Karena kamu bisa sharing kesedihanmu dalam format cerita. Juga punya kesempatan peluang mendapatkan pundi-pundi rupiah dari sana.

Jika kamu kesulitan mengontrol diri ketika bermedia sosial baik dari sisi emosi maupun waktu. Tidak bisa stop, untuk log out bahkan kecanduan menghabiskan waktu hanya untuk kepo kehidupan orang lain hingga masuk dalam urusan hidup orang lain tersebut yang tidak kamu kenal secara langsung.

Atau merasa minder setelah melihat postingan orang lain di IG yang terlihat kaya, bahagia, bisa traveling ke berbagai dunia, bisa makan di resto yang harganya tidak terjangkau oleh kantongmu.

Kamu merasa sedih, merasa sendiri, merasa menjadi orang sial setelah melihat postingan teman di facebook yang terlihat bahagia bersama pasangan hidup dan anak-anaknya sementara kamu belum ketemu jodoh.

Emosi sedih, kecewa dengan diri sendiri, kecewa dengan jalan hidup, tidak puas dengan hidup dijalani, menjadi indikator kuat bahwa kamu harus puasa media sosial.

Kamu bisa puasa media sosial secara temporer beberapa saat atau bertahap. Misalnya jika tadinya sehari main IG, FB, twitter bisa tiga jam, bisa dikurangi seminggu sekali saja. Dari seminggu bisa berlanjut 2 bulan sekali, atau sebulan sekali.

Treatment ini kemudian dievaluasi. Juga perilakumu ketika bermedia sosial apakah ada perubahan atau sama saja. Apakah kamu sudah bisa mengontrol diri atau masih dililit candu media sosial.

Dari evaluasi ini, kamu bisa memutuskan mana yang paling tepat untuk dirimu. Puasa media sosial, atau cerdas menggunakan media sosial dengan disiplin meregulasi diri terkait waktu dan platform yang tepat disesuaikan dengan emosi dan keadaan diri sendiri.

Don’t look down on those who have social media. It literally isn’t about the social media but about the person. Like anything, if you use it right, it can be good. And if you use it wrong you will waste precious time.

Maunya Nyaman. Maunya Branded? Tapi Uang Pas-Pasan.

20200619_222339

Demi gengsi, kadang orang enggan menurunkan standar nyaman. Finansial pun tergerus ambyar.

Ini cerita temanku. Panggil saja namanya Dira. Tubuhnya jangkung, kulit bersih, wajahnya terbilang cantik. Sekilas, hidup Dira baik-baik saja.

Ia tinggal bersama mamanya di sebilang rumah nan apik dengan perabotan antik. Sebagai anak kost yang main ke rumahnya, aku kerap dibuat takjub dengan koleksi piring-piring antik mama Dira. Aku memanggilnya tante, tanpa ada nama dibelakangnya.

Dari sudut pandangku, keluarga Dira lebih berkecukupan dilihat dari rumah dan koleksi houseware mamanya. Itu sebelum aku tahu cerita sebenarnya.

Nyatanya, rumah yang ditempati Dira bersama mamanya, belakangan baru aku tahu, ternyata rumah kontrakan, bukan rumah sendiri.

Menurut cerita Dira, mamanya membayar kontrakan dari uang pensiunan almarhum papa Dira yang dulunya karirnya sudah terbilang lumayan di pemerintahan.

Bahkan, Dira pernah cerita, waktu kecil mereka sempat tinggal di salah satu kompleks elit di Jakarta Selatan. Dira juga bercerita keluarganya kerap traveling ke luar negeri saat papanya masih hidup.

Pelan Pelan Aset Berkurang

Selepas papa Dira meninggal dunia, mama Dira mengandalkan uang pensiunan almarhum suami untuk membiayai hidupnya dan anaknya.

Bisa ditebak kan, lambat laun aset keluarga orang tua Dira akan menipis karena tidak ada pemasukan, sementara pengeluaran berjalan terus tiap hari.

Hal pertama yang dilakukan adalah tidak menggunakan lagi asisten rumah tangga yang sudah ikut keluarga Dira dari Dira kecil.

Secara langsung, kenyamanan mama Dira dan Dira pun terganggu. Karena mulai saat itu mereka harus melakukan apa-apa sendiri.

Bukan hanya ART yang dirumahkan. Rumah peninggalan almarhum papa Dira juga dijual untuk membiayai kebutuhan yang tidak bisa ditahan. Juga mobil yang selama ini mengantarkan orang tua Dira dan Dira selama berkegiatan.

Dira dan mamanya kemudian memilih mengontrak di pinggiran Jakarta. Salah satu peninggalan dari masa hidup berkecukupan mereka yakni piranti makan yang terbilang lux. Juga perabot rumah nan antik.

Gengsi, Bertahan dengan Nyaman
Ada pelajaran yang bisa diambil dari kisah hidup keluarga Dira. Kondisi keluarga Dira akan lebih baik, maksudnya tetap punya rumah sendiri meskipun di pinggiran, andaikan mama Dira melucuti gengsi.

Dira dan mamanya tidak perlu berpindah tempat karena harus mencari kontrakan yang nyaman dengan harga terjangkau. Tentu saja juga harus membayar kontrakan tiap tahunnya. Selain itu, lebih tenang karena punya rumah sendiri, sekaligus punya aset untuk jaminan.

Enggan Menyesuaikan Keadaan
Aset keluarga Dira juga tidak akan terjun bebas, andaikan Dira dan keluarganya mau berdamai dengan keadaan. Alias mau menyesuaikan diri dengan keadaan.

Meskipun penghasilannya hanya bergantung pada pensiunan, standar hidup mama Dira tidak berubah. Salah satunya dalam hal transportasi. Si tante ini kemana-mana selalu menggunakan taksi, tidak mau naik angkutan umum.

Begitu pun dalam hal fesyen. Kata Dira sendiri mamanya dan dirinya terbiasa membeli barang branded. Alhasil, uang yang pas-pasan itu pun tergerus untuk membeli barang-barang branded.

Model-model keluarga seperti mama Dira ini biasanya mengutamakan look ketimbang aset untuk keamanan keuangan keluarga. Mereka menyebar di berbagai kalangan.

Bahkan dalam sebuah podcast Deddy Corbuzier, seorang financial consultant cerita bahwa salah satu kliennya dari kalangan artis kelimpungan di masa sulit seperti sekarang. Karena ybs tidak punya tabungan dan aset. Padahal penghasilannya ratusan juta sekali show. Ternyata uang penghasilan si artis ini sebagian besar dialokasikan untuk belanja barang-barang  branded yang saat ini nilainya jatuh. Sementara job lagi sepi. Kebayang kan?

Saving dan memikirkan keamanan hari esok secara proporsional itu penting. Karena hidup perlu biaya, bukan gaya. Jangan sampai terjebak ingin terlihat kaya, tapi tidak punya apa-apa. Alias budget pas-pasan tapi jiwa sosialita.

Bayangkan hidup memuja penampilan, tanpa aset, di musim sulit seperti pandemi covid19 seperti sekarang. Padahal, impresi orang tidak membuat kita kenyang dan aman kan?

Ragam Dalgona Coffee : Kamu Versi Mana?

Dalgona coffee bisa dibuat dengan beragam variasi bahan dan teknik. Kamu suka pakai cara yang mana?

Dalgona coffee menjadi salah satu minuman favorit kekinian. Minuman kopi asal Korea ini langsung menjadi perhatian warganet.

Terlebih tampilan dalgona coffee ini memang menarik secara visual. Dengan tampilan putih dan cokelat yakni susu putih sebagai dasar dan busa kopi sebagai topping.

Sebagian warganet penasaran dengan foam kopi nan melimpah. Untuk menghasilkan busa kopi tersebut, ada beberapa pilihan.

Opsinya mulai dari bahan dan teknik pembuatan kopi.

Variasi bahan busa kopi antara lain 1) nescafe classic, gula pasir, air panas. 2) Nescafe classic, gula pasir, air es (air dingin). 3) Torabika creamy latte, air panas, gula pasir. 4) Torabika creamy latte, gula pasir, air dingin.

Variasi lapisan dasar kopi 1) susu krim warna putih berbagai merek. 2) susu almond. 3) air putih campur es. 4) kopi torabika creamy latte

Teknik pembuatan foam biar kopi bisa mengembang dan tetap kental. 1) Pakai mixer. 2) Pakai kocokan manual. 3) Pakai blender. 4) Pakai sendok.

Tinggal kamu, mau pilih variasi bahan dan teknik pembuatan yang mana. Karena selera orang berbeda. Ada yang suka dengan busa kopi, ada juga yang tidak begitu peduli.

Karena pada akhirnya yang terpenting adalah rasa. Kecuali memang membuat dalgona untuk diposting di social media haha.

Lathi “Pemuja Setan?”

Ada pesan kebaikan dari lirik lagu Lathi. Tapi yang mencuat malah isu pemuja setan. Kamu tim mana?

Salah satu lagu yang tengah hits di kanal Youtube saat ini adalah Lathi. Lagu Lathi besutan grup musik beraliran EDM beranggotakan Reza Arap, Eka Gustiwana dan Gerald berkolaborasi dengan penyanyi Sara Fajira.

Menariknya, Lathi saat ini berhasil masuk dalam daftar 100 lagu top global atau ada di peringkat 21. Atau berada di atas lagu Daechwita milik Suga BTS yang menduduki posisi 24.

Dari kostum dan judul lagu, lagu ini sudah bisa ditebak ada unsur Jawanya. Tapi, impresi awal bagi sebagian besar yang mendengar lagu ini adalah lagu barat, karena liriknya menggunakan bahasa Inggris. Terlebih, dibawakan oleh Weird Genius. Lagi-lagi menggunakan bahasa Inggris.

Baru pada reff “Kowe ra iso mlayu soko kesalahan” asumsi kalau lagu ini memang dari Indonesia lebih berdasar. Tapi, sekali lagi, bisa saja itu yang bikin orang barat dan pernah berkunjung ke Jogja. Who knows.

Siapa sangja Lathi merupakan karya anak bangsa kolaborasi grup Weird Genius dengan penyanyi Sara Fajira.

Pemuja Setan?
Uniknya, karena kareografi dan make up Sara selama video Lathi sebagian terlihat seram dan berdarah-darah untuk menggambarkan luka dia, diimpresikan sebagai pemuja setan oleh sebagian warga Malaysia yang tidak mengerti bahasa Jawa.

Terlebih dengan adanya komentar seorang ustadz di Malaysia yang menganggap lagu Lathi sebagai pemuja setan.

Sejatinya, heboh anggapan lagu Lathi sebagai pemuja setan oleh sebagian warga Malaysia tetap mengandung unsur positif dalam hal popularitas lagu ini. Secara tidak langsung menjadi medium marketing yang membuat Lathi kian dikenal.

Apalagi saat ini di platform IG juga ada lathi challenge. Juga di tik tok yang membuat lagu Lathi kian dikenal banyak orang.

Pesan Positif Menjaga Lisan

Sejatinya lirik lagu Lathi berbahasa Jawa “Ajining diri soko lathi” Bisa diartikulasikan sebagai pesan untuk menjaga lisan. Karena kita dihargai salah satunya dari ucapan kita.

So, mau ikut yang pro atau kontra? Karya seni memang bisa multi tafsir. Tergantung pengalaman yang melihat dan mendengarnya. Karena tiap kepala mempunyai perspektif berbeda.