Resep Menjalani Takdir Hidup dengan Lapang : Menganggap Diri Tidak Penting

PicsArt_03-12-09.56.19

Refleksi Kajian Gus Baha

Menurunkan ego alias menganggap diri tidak penting menjadi keyword dalam menjalani takdir hidup yang ditetapkan Allah SWT.

Dalam salah satu ceramahnya, KH Bahauddin Nursalim alias Gus Baha mengungkapkan salah satu kunci penting dalam menerima qada dan qadar Allah SWT adalah dengan menganggap diri kita tidak penting.

Faktor yang mendorong manusia memprotes takdir hidupnya adalah hadrun nafsi. “Hadrun nafsi menjadi awal protes terhadap Allah SWT,” terang Gus Baha.

Pasalnya, kekecewaan, protes, atau gugatan atas ketentuan hidup dari Allah SWT akan muncul ketika manusia menganggap dirinya sebagai sosok penting. Ketika manusia lebih mendewakan hak-haknya.

Begitu menganggap dirinya penting, maka akan muncul beragam pertanyaan kritis terkait takdir hidupnya. Bahkan, dalam taraf ekstrim, ketika manusia kecewa dengan takdir hidupnya, ada yang membenci kelahirannya, keberadaannya di dunia.

Keadaan membenci kelahirannya di dunia atau biasa disebut antinatalitas kadang membuat anak protes terhadap orang tua yang melahirkan mereka.

Seperti dilansir dari odditycentral.com seorang laki-laki India berpaham antinatalism bernama Raphael Samuel melaporkan orang tuanya ke pihak kepolisian. Ia tidak terima dilahirkan di dunia. Ia lupa, orang tua-nya pun tak punya otoritas atas kelahirannya. Mungkin, jika boleh memilih, orang tua akan meminta kepada Tuhan, anak yang akan dilahirkan bukan dirinya.

Menganggap diri sendiri sebagai orang yang tidak penting itu sama saja mengendalikan ego untuk selalu menjadi individu yang penting baik di mata orang lain bahkan di hadapan Tuhan.

Padahal, posisi kita sebagai makhluk hidup ciptaan Allah SWT, tidak ada nilainya. Allah SWT sebagai pemilik alam dan seisinya, ketika belum menciptakan manusia juga sudah berkuasa atas jagad raya. Kenapa kita merasa penting, bahkan kadang seperti mengintervensi Tuhan atas takdir hidup di luar keinginan.

Menganggap diri bukan orang penting akan memberi banyak manfaat ketika menjalin relasi dengan orang lain. Pasalnya, kita tidak akan memaksakan hak-hak kita atas kepentingan orang lain atau publik.

Bahkan, dengan menganggap diri tidak penting, kita akan mudah memaklumi, bijak menyikapi suatu keadaan yang bagi sebagian orang menyebalkan.

Pasalnya, ketika orang lain memperlakukan kita tidak seperti yang kita inginkan, kita tidak mudah suudzan, berburuk sangka. Kita justru akan memikirkan hak-haknya sebagai manusia seperti kita.

“Paling mudah mengimani takdir Allah adalah tidak menganggap diri penting. Sehingga tidak sumpek (lapang-red),” tutur Gus Baha.

Justru kalau kita egonya tinggi, menganggap diri penting, kita akan mudah suudzan, berburuk sangka. Karena diri kita dikuasi nafsu, ego kita sendiri.

“Allah adalah ahkamul hakimin. Allah adalah pencipta yang tahu masa depan makhlukNya. Kita, menurut Al Hikam, Ihya (Ihya Ulumuddin-red), Imam Al Ghazali, adalah maqam fana, maqam rusak. Artinya kita tidak bisa ikut-ikutan atas keputusan Allah SWT. Kalau ikut-ikutan akhirnya tidak ridho qadha dan qadarNya.”

Bahkan menurut tafsir Imam Suyuti, Allah SWT berfirman. “Kalau kamu ga mau terima qadhoaku, tidak mau Aku menjadi Tuhanmu, cari Tuhan yang lain.

Sikap seorang hamba sejatinya mengimani qadha. Sadar bahwa qadha adalah keputusan Allah di zaman azali tentang masa depan semua hambaNya. “Lahulmulku walahul hamdu wahuwa alaa kulli syaiin qadir. Sudah cukup sampai di sini (mengimani qadha-red).

One thought on “Resep Menjalani Takdir Hidup dengan Lapang : Menganggap Diri Tidak Penting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s