Merespons Biasa

PicsArt_03-08-11.13.04

Respons reaktif dengan menghakimi, atau membela kesalahan adalah dua sisi ekstrim dari sebuah fenomena. Seharusnya bagaimana?

Belakangan publik tanah air dibuat geger dengan peristiwa kontestan Putri Indonesia asal Sumatera Barat yang salah dalam menjawab pertanyaan dari Ketua MPRI Bambang Soesatyo tentang sila-sila dari Pancasila.

Kesalahan dalam kontes ajang kecantikan itu pun berlanjut dengan kehebohan di dunia maya. Akun instagram sang putri pun banjir kritikan, kalimat kekecewaan, yang mengarah kepada tindak kekerasan di dunia maya alias cyberbullying.

Respon reaktif dengan mem-bully, menghakimi kesalahan orang lain, dalam hal ini Kalista adalah tindakan tidak terpuji, alias melukai wajah kemanusiaan.

Juga merugikan diri kita sendiri karena menambah jumlah dosa kita sebagai makhluk yang rentan dari khilaf dan dosa.

Respon reaktif sebaliknya, yakni membela kesalahan ybs dengan melupakan fakta bahwa ybs memang tidak bisa menjawab pertanyaan tentang ideologi negara, juga bukan respons yang bijak.

Bahkan, ada salah satu tokoh publik ternama yang membela kesalahan sang putri di salah satu postingannya. Seolah menafikan fakta yang ada. Yang disayangkan, dalam postingan tersebut juga membuka kesalahan serupa yang dilakukan si penanya dalam ajang kontestasi kecantikan.

Dalam menanggapi kasus seperti ini, kita sebagai orang luar, tidak pernah tahu persis kebenaran yang sebenarnya.  Apakah ybs memang grogi akhirnya lupa sebagai kewajaran manusia. Atau ybs memang tidak hafal sila-sila dalam Pancasila.

Merujuk pada kondisi umum sebagian warga negara, kita pasti tahu, ada sebagian warga yang memang tidak hafal Pancasila. Kemudian me-refer ybs sebagai manusia, bisa jadi kesalahan tidak bisa menjawab sila dari Pancasila disebabkan faktor grogi akhirnya membuat ybs lupa.

Sekali lagi, kita, sebagai orang di luar ybs, yang tidak tahu persis alasannya mengapa ia salah menjawab, hanya bisa membuat asumsi-asumsi dengan mengacu pada dua alasan di atas.

Alangkah lebih baik jika kita merespons kesalahan ybs dengan biasa saja. Caranya dengan memaklumi kesalahan ybs dan menganggap kesalahan itu dengan reason dua hal di atas.

Bukan malah membela kesalahan yang merupakan fakta. Kemudian merubahnya dengan opini kita berdasar asumsi kita sendiri menjadi kebenaran baru. Selamat berhari Minggu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s