Presiden Minta Warga Mendoakan Sang Ibunda dari Rumah

Ibunda Presiden Republik Indonesia Eyang Sudjiatmi Notomiharjo meninggal dunia pada Rabu (25/3) pada 16.45 wib di RS Slamet Riyadi Solo, Jawa Tengah.

Presiden Jokowi melalui siaran live di televisi mengungkapkan sang ibunda sudah empat tahun menderita kanker tenggorokan dan dirawat di RSPAD Jakarta.

Eyang Sudjiatmi lahir pada 15 Februari 1943. Lahir dari keluarga pedagang. Semasa hidup almarhumah berdagang dan ikut kursus merias pengantin. Almarhumah dikaruniai empat orang anak dengan anak pertama adalah Presiden Jokowi.

Melalui siaran langsung Presiden memohon maaf dan doa untuk almarhumah ibunya. Presiden juga menghimbau menteri Kabinet tidak takziah ke Solo.

Seperti dituturkan Walikota Solo FX Rudi Hadyatmo jenazah ibunda Presiden akan dimakamkan pada Kamis (26/3) sekitar pukul 13.00 wib. Rudi mengungkapkan warga tidak berkermun jika ingin melepas jenazah.

Meskipun Presiden menghimbau pejabat publik tidak takziah ke rumah duka, sejumlah pejabat publik terlihat melayat ke kediaman almarhumah.

Seperti Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Menteri BUMN Erick Tohir, Menteri Kesehatan Terawan, Sekretaris Kabinet Pramono Anung dan Mensesneg Pratikno.

Usai takziah Ganjar menyampaikan pesan Presiden Jokowu. “Terima kaaih atas ucapan bela sungkawa. Keluarga berharap warga mendoakan dari rumah. Agar semua besok mendoakan dari rumah,” terang Ganjar.

Menu Sederhana Untuk Stamina Ketika Harus Karantina

Dengan menu sederhana ini kebutuhan gizi terpenuhi, tanpa harus menguras isi kantong, stamina pun tidak blong.

Ketika kita memilih berdiam di rumah saja, untuk meminimalisir wabah covid19, dengan mengurangi aktivitas ke luar rumah, tentu juga harus dibarengi dengan gizi seimbang.

Menu dengan gizi seimbang tidak harus mahal. Yang penting mengandung nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh kita. Dan yang mungkin menjadi pertimbangan, cara bikinnya ga terlalu ribet.

Berikut contoh menu sederhana kaya gizi. Sarapan : Nasi goreng isi sayuran sawi, kol, dan telor. Lauk telor ceplok plus kerupuk. Jus mixed fruits dari buah naga, pir, apel, dan nanas. Minuman madu plus perasan jeruk nipis.

Makan siang : Nasi plus capcai berisi sayur wortel, sawi hijau, kol, bakso. Lauk tahu kulit goreng tepung. Buah pisang.

Makan malam (Opsional) : Olahan ketan dicampur santan dengan isi abon dan dibungkus dengan lembaran rumput laut. Plus buah potong.

Gizi cukup bisa diperoleh dari hidangan sederhana. Tidak harus mewah yang akhirnya menguras kantong kita. Stay safe and healthy ya. Jaga kesehatan semua.

Jangan Lakukan Ini Setelah Pakai Hand Sanitizer. Berbahaya!

IMG_20200323_225054

Tindakan ini bisa membuat tanganmu terbakar setelah memakai hand sanitizer. Berhati-hatilah.

Hand sanitizer atau disebut cairan pembersih tangan menjadi benda akrab setelah pandemik global virus corona atau covid19 masuk ke Indonesia.

Pemakaian pembersih tangan ini memang sangat dianjurkan untuk memutus mata rantai penularan. Pasalnya, dengan mengoleskan hand sanitizer di tangan yang mengandung alkohol hingga 70 persen, kita terhindar dari virus corona yang bisa menempel di benda-benda yang biasa kita sentuh.

Seperti gagang pintu, tiang kereta, gantungan atau handle di kereta, transjakarta, atau MRT, pegangan di pintu bis, helm pas naik ojek, dan fasilitas umum lain.

Tapi, penggunaan hand sanitizer yang tidak dibarengi dengan pengetahuan tentang sifat atau karakteristik hand sanitizer, bisa membahayakan diri sendiri.

Seperti video yang viral beberapa waktu lalu. Seorang perempuan tangannya terbakar setelah menggunakan hand sanitizer, kemudian menyalakan kompor.

Mengapa tangan wanita tersebut terbakar? Menurut info dari Federal Aviation Administration (FAA) hand sanitizer memang mudah terbakar. Karena konsentrasi alkohol mencapai 70 persen.

Sehingga, ketika tangan kita baru saja diolesi dengan hand sanitizer, tidak boleh menyalakan kompor atau dekat dengan sumber api. Karena bisa terbakar.

Ternyata, berdasarkan data dari FAA, bukan hanya hand sanitizernya saja yang mudah terbakar. Uap dari hand sanitizer jika cairan pembersih tangan itu direbus juga akan mudah terbakar.

So, lebih berhati-hati ya setelah menggunakan pembersih tangan. Jika harus menyalakan kompor setelah memakai hand sanitizer, tunggu sampai tangan kita kering. Sehingga kandungan alkoholnya sudah hilang.

Resep Menjalani Takdir Hidup dengan Lapang : Menganggap Diri Tidak Penting

PicsArt_03-12-09.56.19

Refleksi Kajian Gus Baha

Menurunkan ego alias menganggap diri tidak penting menjadi keyword dalam menjalani takdir hidup yang ditetapkan Allah SWT.

Dalam salah satu ceramahnya, KH Bahauddin Nursalim alias Gus Baha mengungkapkan salah satu kunci penting dalam menerima qada dan qadar Allah SWT adalah dengan menganggap diri kita tidak penting.

Faktor yang mendorong manusia memprotes takdir hidupnya adalah hadrun nafsi. “Hadrun nafsi menjadi awal protes terhadap Allah SWT,” terang Gus Baha.

Pasalnya, kekecewaan, protes, atau gugatan atas ketentuan hidup dari Allah SWT akan muncul ketika manusia menganggap dirinya sebagai sosok penting. Ketika manusia lebih mendewakan hak-haknya.

Begitu menganggap dirinya penting, maka akan muncul beragam pertanyaan kritis terkait takdir hidupnya. Bahkan, dalam taraf ekstrim, ketika manusia kecewa dengan takdir hidupnya, ada yang membenci kelahirannya, keberadaannya di dunia.

Keadaan membenci kelahirannya di dunia atau biasa disebut antinatalitas kadang membuat anak protes terhadap orang tua yang melahirkan mereka.

Seperti dilansir dari odditycentral.com seorang laki-laki India berpaham antinatalism bernama Raphael Samuel melaporkan orang tuanya ke pihak kepolisian. Ia tidak terima dilahirkan di dunia. Ia lupa, orang tua-nya pun tak punya otoritas atas kelahirannya. Mungkin, jika boleh memilih, orang tua akan meminta kepada Tuhan, anak yang akan dilahirkan bukan dirinya.

Menganggap diri sendiri sebagai orang yang tidak penting itu sama saja mengendalikan ego untuk selalu menjadi individu yang penting baik di mata orang lain bahkan di hadapan Tuhan.

Padahal, posisi kita sebagai makhluk hidup ciptaan Allah SWT, tidak ada nilainya. Allah SWT sebagai pemilik alam dan seisinya, ketika belum menciptakan manusia juga sudah berkuasa atas jagad raya. Kenapa kita merasa penting, bahkan kadang seperti mengintervensi Tuhan atas takdir hidup di luar keinginan.

Menganggap diri bukan orang penting akan memberi banyak manfaat ketika menjalin relasi dengan orang lain. Pasalnya, kita tidak akan memaksakan hak-hak kita atas kepentingan orang lain atau publik.

Bahkan, dengan menganggap diri tidak penting, kita akan mudah memaklumi, bijak menyikapi suatu keadaan yang bagi sebagian orang menyebalkan.

Pasalnya, ketika orang lain memperlakukan kita tidak seperti yang kita inginkan, kita tidak mudah suudzan, berburuk sangka. Kita justru akan memikirkan hak-haknya sebagai manusia seperti kita.

“Paling mudah mengimani takdir Allah adalah tidak menganggap diri penting. Sehingga tidak sumpek (lapang-red),” tutur Gus Baha.

Justru kalau kita egonya tinggi, menganggap diri penting, kita akan mudah suudzan, berburuk sangka. Karena diri kita dikuasi nafsu, ego kita sendiri.

“Allah adalah ahkamul hakimin. Allah adalah pencipta yang tahu masa depan makhlukNya. Kita, menurut Al Hikam, Ihya (Ihya Ulumuddin-red), Imam Al Ghazali, adalah maqam fana, maqam rusak. Artinya kita tidak bisa ikut-ikutan atas keputusan Allah SWT. Kalau ikut-ikutan akhirnya tidak ridho qadha dan qadarNya.”

Bahkan menurut tafsir Imam Suyuti, Allah SWT berfirman. “Kalau kamu ga mau terima qadhoaku, tidak mau Aku menjadi Tuhanmu, cari Tuhan yang lain.

Sikap seorang hamba sejatinya mengimani qadha. Sadar bahwa qadha adalah keputusan Allah di zaman azali tentang masa depan semua hambaNya. “Lahulmulku walahul hamdu wahuwa alaa kulli syaiin qadir. Sudah cukup sampai di sini (mengimani qadha-red).

Sarapan di Hotel Onih Hanya Rp 60 Ribu. Makan Sekenyangnya!

Ingin sarapan murah tapi super lengkap? Coba saja breakfast di Hotel Onih Bogor.

Kalau lagi jalan-jalan pagi ke Kota Bogor, Jawa Barat, coba deh mampir breakfast di Hotel Onih di Jalan Paledang, Kota Bogor.

Lokasinya lumayan strategis. Bagi pengunjung dari arah Jakarta, lokasi Hotel Onih sekitar 800an meter dari Stasiun Bogor. Untuk mencapai lokasi, bisa jalan kaki sekalian olahraga pagi.

Sarapan di Hotel Onih bisa menjadi salah satu referensi sarapan murah meriah dan super lengkap. Pasalnya, hanya dengan Rp 60 ribu kita bisa menikmati breakfast ala hotel bintang tiga.

Dengan harga Rp 60 ribu, pengunjung bisa bebas melahap nasi uduk lengkap dengan lauknya, prasmanan nasi plus lauk pauk, lontong sayur. Ada juga salad, buah potongan, omelet, bubur kacang hijau, bubur ayam, sate, cilok, gorengan, aneka roti manis dan tawar, serta sosis bakar.

Selain menu di atas, ada juga jajanan ringan seperti wafer beng beng, pop mie,dll. Jika pengunjung mau minum kopi atau teh, tinggal pilih sendiri merek teh dan kopi sachetan yang dipajang di salah satu gerobak dari arah pintu masuk.

Untuk minuman, ada air putih, infused water, dan jus. Juga teh dan kopi dan teh.

Soal rasa, menu makanan di Hotel Onih tidak mengecewakan. Kualitas makanan juga terjaga standar hotel bintang tiga. So, don’t worry soal rasa. Dari semua menu yang ada, bubur ayam sama nasi uduk lengkap dengan lauknya, rasanya juara.

Tips :
Meski ada rencengan kop atau teh, jajanan atau snack di booth, sebisa mungkin jangan ambil untuk dibawa pulang. Pasalnya, audah ada peringatan tertulis di gerobag atau booth untuk tidak membawa pulang makanan.

Kalau mau mencicipi semua hidangan, usahakan porsinya kecil saja, biar makanan tidak sisa alias mubadzir alias nyampah.

Usahakan datang pagi, agar bisa memgeksplorasi sambil menikmati semua jenis hidangan. Karena restoran hotel tutup sekitar jam 10 pag

Merespons Biasa

PicsArt_03-08-11.13.04

Respons reaktif dengan menghakimi, atau membela kesalahan adalah dua sisi ekstrim dari sebuah fenomena. Seharusnya bagaimana?

Belakangan publik tanah air dibuat geger dengan peristiwa kontestan Putri Indonesia asal Sumatera Barat yang salah dalam menjawab pertanyaan dari Ketua MPRI Bambang Soesatyo tentang sila-sila dari Pancasila.

Kesalahan dalam kontes ajang kecantikan itu pun berlanjut dengan kehebohan di dunia maya. Akun instagram sang putri pun banjir kritikan, kalimat kekecewaan, yang mengarah kepada tindak kekerasan di dunia maya alias cyberbullying.

Respon reaktif dengan mem-bully, menghakimi kesalahan orang lain, dalam hal ini Kalista adalah tindakan tidak terpuji, alias melukai wajah kemanusiaan.

Juga merugikan diri kita sendiri karena menambah jumlah dosa kita sebagai makhluk yang rentan dari khilaf dan dosa.

Respon reaktif sebaliknya, yakni membela kesalahan ybs dengan melupakan fakta bahwa ybs memang tidak bisa menjawab pertanyaan tentang ideologi negara, juga bukan respons yang bijak.

Bahkan, ada salah satu tokoh publik ternama yang membela kesalahan sang putri di salah satu postingannya. Seolah menafikan fakta yang ada. Yang disayangkan, dalam postingan tersebut juga membuka kesalahan serupa yang dilakukan si penanya dalam ajang kontestasi kecantikan.

Dalam menanggapi kasus seperti ini, kita sebagai orang luar, tidak pernah tahu persis kebenaran yang sebenarnya.  Apakah ybs memang grogi akhirnya lupa sebagai kewajaran manusia. Atau ybs memang tidak hafal sila-sila dalam Pancasila.

Merujuk pada kondisi umum sebagian warga negara, kita pasti tahu, ada sebagian warga yang memang tidak hafal Pancasila. Kemudian me-refer ybs sebagai manusia, bisa jadi kesalahan tidak bisa menjawab sila dari Pancasila disebabkan faktor grogi akhirnya membuat ybs lupa.

Sekali lagi, kita, sebagai orang di luar ybs, yang tidak tahu persis alasannya mengapa ia salah menjawab, hanya bisa membuat asumsi-asumsi dengan mengacu pada dua alasan di atas.

Alangkah lebih baik jika kita merespons kesalahan ybs dengan biasa saja. Caranya dengan memaklumi kesalahan ybs dan menganggap kesalahan itu dengan reason dua hal di atas.

Bukan malah membela kesalahan yang merupakan fakta. Kemudian merubahnya dengan opini kita berdasar asumsi kita sendiri menjadi kebenaran baru. Selamat berhari Minggu

“Kebaikan Bermula dari Hati. Bukan Penampilan.”

PicsArt_03-08-10.50.17

Menilai baik buruknya seseorang hanya dari baju akan mudah tertipu. Meski, baju menjadi salah satu standar ketaqwaan kepada Tuhan.

Yang terlihat baik, kadang sebaliknya, jahatnya naudzubillah min dzalik. Yang terlihat jahat, di luar dugaan perlakuannya ke sesama seperti malaikat. Jangan mudah terpukau dengan penampilan.

Jangan gampang menuduh buruk hanya karena penampilan. Meskipun, penampilan menjadi simbol kepatuhan seorang hamba terhadap perintahNya.

Mengapa jangan mudah terpukau dengan penampilan yang sekilas terlihat agamis? Karena setiap manusia punya sisi baik dan buruk.

Tidak ada orang yang 100 persen buruk, dan tidak ada orang yang 100 persen baik. Ada sisi abu-abu yang fleksibel bisa bermigrasi dari baik atau buruk dan buruk ke baik.

So, karena setiap manusia punya potensi baik dan buruk, bisa menjadi manusia baik sekaligus berubah jahat dan sebaliknya, sudah seharusnya kita tidak gampang menuduh, membuat judgement hanya dari tampilan belaka tanpa mempertimbangkan aspek lainnya.

Kadang yang dandanan urakan, hati dan perlakuan kepada sesama sangat baik di luar ekspektasi manusia. Sebaliknya, yang dari dandanannya kita anggap alim, hati dan perlakuannya kadang kepada sesama sangat jauh dari ajaran agama yang mulia.

Terlebih ketika kita bertemu dengan model manusia-manusia manipulatif yang memanfaatkan atribut-atribut agama untuk kepentingan diri sendiri, keuntungan diri sendiri tapi merugikan orang lain, meraih simpati, empati untuk meringankan hukuman atas kejahatan yang dilakukan.

Konklusinya, jangan gampang melabeli orang, berprasangka buruk hanya dari tampilan. Meskipun, berbaju sopan sesuai ajaran agama tetap menjadi salah satu standar kebaikan dan tuntunan.

Karena, kebaikan dan kejahatan bermula dari hati, bukan dari baju yang dikenakan. Jangan gampang silau ya. Karena engkau akan kecewa.

Grand Zuri Jogja: Hanya Selemparan Batu dari Malioboro

Hotel di Jogja dengan harga reasonable dan nyaman memang bertebaran. Tapi ada satu poin lain yang tidak dimiliki adalah lokasi. Apalagi kalau bisa ke Malioboro dengan jalan kaki. Wuih…

Salah satu hotel yang lokasinya hanya selemparan batu dari Malioboro dan berada di jantung Jogja adalah Hotel Grand Zuri Jogja. Dari hotel bintang 4 yang berlokasi di Jalan Mangkubumi ini kita bisa jalan kaki ke Malioboro hanya dalam hitungan waktu 10 sampai 15 menitan.

Karena jaraknya ke Malioboro begitu dekatnya, kita pun bisa ke salah satu ikon Jogja itu kapan saja semau kita. Pagi hari kita bisa menikmati kudapan pecel khas mbok-mbok di Pasar Bringharjo. Malamnya bisa mencicipi kuliner lesehan seperti angkringan di sepanjang Malioboro.

Tapi, kalau mau breakfast dan dinner di hotel bintang empat ini juga tetap terasa Jogja-nya. Pasalnya, menu breakfast terbilang lengkap. Mulai special gudeg ala Grand Zuri, bubur ayam, bubur kacang hijau, bubur ketan hitam, jajan pasar, jamu, dan masih banyak lagi.

Untuk harga akomodasi, pengunjung harus merogoh kocek dari Rp 644 ribuan hingga Rp 1,47 jutaan tergantung tipe kamar.