Belajar Berhenti Mengeluh

PicsArt_09-13-09.35.59

Pernah ga sih dalam hidupmu, sehari saja kamu sama sekali nggak mengeluh atau komplain? Padahal keadaan seolah membenarkan atau memantaskan kamu untuk mengeluh.

Misalnya nih, kamu sudah setel alarm pagi, bangun jam 5. Sudah menyiapkan baju untuk OOTD hari itu hingga tidak perlu menambah waktu hanya untuk mantes-mantesin baju demi penampilan paripurna. Kamu berharap dengan perencanaan bagus kamu tidak telat masuk kuliah atau kerja. Ternyata ada kondisi di luar yang tidak bisa kamu kontrol.

Di tengah jalan, kendaraan yang kamu kendarai atau tumpangi mogok. Atau kamu menunggu kendaraan umum lama sekali. Atau kamu sudah mencoba pakai ojeg online agar cepat, ternyata drivernya lama sekali sampai, begitu jalan, kondisi jalanan macet parah banget di luar dugaan.

Kondisi eksternal di jalan yang tidak bisa dikontrol akan mengaduk emosi kita. Kondisi tidak enak itu mendorong kita untuk mengurangi stres dengan coping strategy berupa menyampaikan keluhan atau uneg-uneg kepada orang sekitar atau melampiaskannya di media sosial.

Apakah setelah mengeluh keadaan emosi kita lebih baik? Bisa ya bisa juga tidak. Kita akan merasa lebih baik telah mengeluarkan emosi negatif seperti kesal, marah atas keadaan dalam bentuk keluhan.

Tapi tanpa kita sadari, kita telah menyebarkan energi negatif, sampah ke orang-orang di sekitar kita atau teman-teman di media sosial. Seharusnya hari mereka indah tapi setelah mendengar atau membaca keluhan kita yang merupakan energi negatif, mereka akan merasa sesak, atau kesal.

Sebagai terapi mengurangi stres, mengeluh bisa dilakukan sesekali. Lebih baik lagi jika belajar mengurangi bahkan berhenti mengeluh karena ternyata tindakan kita membuat orang lain kesal, sebal, marah, dadanya sesak.

Jika ingin melampiaskan kekecewaan atas keadaan yang tidak inginkan, tetapi tidak merugikan orang lain, kita bisa menulisnya di buku harian, atau mengadu kepada Tuhan mengadukan kondisi, keadaan menyebalkan di luar kontrol kita sebagai manusia.

Hal positif lain yang bisa dilakukan adalah belajar berhenti mengeluh. Mulai sehari saja dulu. Caranya bagaimana? Pertama, belajar menerima keadaan sulit, menyebalkan dengan menganggap kamu sedang apes dan orang lain juga ada yang mengalami hal serupa sehingga kamu tidak merasa menjadi orang paling malang sedunia.

Kedua, belajar mengurangi menghakimi diri sendiri bahkan menghakimi orang lain atas keadaan yang tidak kamu kehendaki. Misalnya, saat kendaraan yang kamu naiki mogok, bermasalah, kamu tidak menyalahkan diri sendiri mengapa naik kendaraan tersebut. Atau menyalahkan sopir mengapa dia lalai mengecek kendaraan sebelum berangkat.

Dua tips sederhana di atas mudah-mudahan bisa mengurangi ekskalasi keluhanmu dari parah banget sering mengeluh menjadi ketagihan eh bisa berhenti mengeluh.

“Selamat Jalan Sang Pecinta”

PicsArt_09-12-08.23.19Sang pecinta akhirnya berjumpa kekasihnya
Pada sewajah petang rabu nan rembang
Selepas berjihad memerangi sakit di raga
Ikhlas menghadap Rabb pencipta alam

Tak perlu lagi rangkaian sedap malam
Yang engkau urai sebagai artikulasi sayang
Disertai segaris doa sebentuk cinta
Meluncur tiap Jumat secara khidmat

Karena engkau kini terbaring di sampingnya
Usai menimbun rindu ratusan purnama
Saatnya bersua dengan separuh jiwa
Dalam dimensi berbeda dengan dunia

Beristirahatlah dengan tenang Bapak Bangsa
Semangatmu untuk Indonesia tetap menyala-nyala
Petuahmu adalah motivasi bagi anak-anak Indonesia
Capaianmu adalah mimpi bagi pejuang cita-cita

Semoga anak-anak negeri
Mampu merealisasikan mimpi
Membangun Indonesia berdikari
Menjadi lebih baik lagi dan lagi
Sesuai harapanmu untuk ibu pertiwi
-SS-

Ke Surabaya? Ya Spikoe

Tak afdol rasanya jika ke Surabaya pulangnya tidak menenteng sekotak Spikoe. Seperti apa rasanya?

Oleh-oleh apa yang akan dibeli jika jalan-jalan ke Surabaya? Pasti ada yang menjawab Spikoe. Yup, penganan serupa bolu lapis itu memang tengah happening.

Untuk mendapatkan Spikoe, bisa dengan empat cara. Pertama pergi langsung ke tokonya yang berlokasi di Jalan Rungkut Madya Surabaya. Kedua, order via go food. Ketiga, order via jastip online. Keempat, nitip teman.

Pilihlah sesuai keperluan, situasi, dan kondisi. Setiap pilihan pasti ada plus minusnya. Karena ingin sekali membawa pulang spikoe, ada dua orang ibu paruh baya yang datang langsung ke counter Spikoe. Ternyata keduanya harus pesan terlebih dahulu. “Kalau mau beli harus pesan dulu,”kata mereka. Alhasil, spikoe baru ada di tangan keduanya esok hari dan diantar ke tempat keduanya menginap.

Boks Mewah
Packaging alias bungkus spikoe terbilang mewah dan kokoh. Box terdiri dari dua bagian yakni wadah spikoe berupa kotak berwarna putih dan tutup berupa kotak cokelat dengan kombinasi tulisan warna gold.

Di salah satu sisi kotak tertera komposisi spikoe yang terdiri dari tepung, telur, gula, mentega, margarin, selai, dan cokelat.

Begitu box dibuka, akan terlihat kertas putih penutup spikoe dengan logo spikoe di tengahnya.

Harum wangi Spikoe langsung menguar begitu kotak dibuka. Terlebih setelah kertas putih pelapis spikoe dibuka. Akan terlihat kue seperti bolu lapis dengan tekstur lembut dengan lapisan cokelat dan filling krim diantara bolu warna kuning dan lapisan bolu cokelat.

Tekstur Spikoe yang sangat soft dengan harum kue yang menggoda lidah, membuat yang menyantapnya ingin nambah dan nambah lagi.

Spikoe ini akan terasa lebih nikmat jika dikudap bersama secangkir teh atau kopi hangat. Apalagi disantap kala pagi atau sore hari sambil membaca buku atau mendengarkan musik.

Untuk kehalalan, tak perlu worry. Karena spikoe resep kuno buatan Nyonya Santosa ini telah mendapatkan sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Dari sisi harga, sekotak Spikoe rasa kuno dengan kemasan mewah elegan ini dibandrol Rp 80 ribu. Jika ke Surabaya, jangan lupa Spikoe. Selamat berburu.