Mengapa Cinta

picsart_01-14-10.02.02

 

 

Aku sedang membaca ulang artikelku di layar monitor komputer ketika chat-mu datang menandai layar.  “Kamu lagi apa sweetheart? ” tanyamu.  Sambil mataku masih menatap layar komputer, aku membalas chat-mu.  “Hai by , nih lagi baca artikel. Kamu? ” Lama di layar tidak muncul chat-mu. Aku pun kembali larut dengan kerjaanku.

Selang 10 menit kemudian chat-mu kembali hadir. “Habis meeting dengan klien sweetheart.  Kamu sudah makan? ” Aku melongok jam di ponsel. Nggak salah nih jam segini nanyain makan siang. Hmmm Akhirnya aku membalas pertanyaannya. “Kan sudah jam 3 sore by. Maksudnya makan malam? Jangan-jangan kamu yang belum makan.” Selang 5 menit tidak ada reply. Aku kembali mengetik.

Hampir sejam tidak ada chat dari kamu. Akhirnya aku inisiatif mengirim chat.  “Hmmm sibuk banget bosque.” Hingga 15 menit chatku belum kamu balas.  Akhirnya aku mengirim chat lagi. “Hmmmm.”

Saat aku mengemasi barang mau pulang, namamu muncul di screen ponsel.  “Beb, sorry lama nggak bales. Lagi jawab telpon klien. Maaf ya.”

Aku membalas, “Ya udah nggak papa. Hanya peluru cemburu hampir menembakku.” Kamu mengirim emoji love.  “Aku cinta kamu,  Zeaku.” Aku pun membalas dengan emoji cinta.

Kamu mengirim chat lagi. “Sweeteart, mengapa kamu mencintaiku?” tanyamu. Hmmm kamu menanyakan lagi mengapa aku cinta, batinku. Sejatinya aku pernah menjawab pertanyaanmu beberapa waktu lalu. Tapi sepertinya menurutmu kurang meyakinkan. Kamu tidak yakin dengan jawaban yang kupaparkan.
“Aku mencintaimu karena aku melihat sebagian diriku ada di kamu, ” balasku mantap berharap engkau percaya dan tidak menyangsikannya. Seperti yang lalu, kamu pun bertanya lagi soal rasa di dada. “Hanya itu?” tanyamu. Aku membalas, “Loving someone doesn’t need a reason, baby”
#
Entah kenapa kamu sepertinya ragu aku mencintaimu. Apakah cinta perlu alasan rasional untuk menegaskan bahwa rasa yang ada bisa dikuantifikasi dan akhirnya bisa menjadi garansi?
#
Jika ditanya soal alasan kenapa aku mencintai kamu, tidak akan pernah ada jawaban tunggal. Karena faktor-faktor pemicu cinta datang sangatlah kompleks tidak sesederhana memasak mie instan yang hanya perlu mie, panci dan air untuk menjadi santapan.

Esoknya kita janjian ketemu makan siang di restoran Jepang kesukaanmu. Kita langsung bertemu di sana. Begitulah aku. Tidak seperti keanyakan cewek yang minta dijemput atau diantar ke sana ke mari, aku akan lebih memilih sendiri jika itu merepotkanmu.

Begitu kita bertemu di lobby restoran, aku sudah melihat rindu dari sorot matamu. Rindu yang telah menggunung tak mampu ditahan hingga akhir pekan. Hingga kita pun memilih bertemu di tengah tenggat kerjaan.  Walaupun kita tahu, pertemuan adalah candu. Bukankah setelah pertemuan tidak ada jaminan rindu bakal berkurang. Yang ada rindu seakan kian mengekang. Tapi kita tak punya pilihan lain selain bertemu untuk menuntaskan dahaga rindu.

Kilatan rindu dari sorot matamu kian kuat kala kita duduk dekat. Ada tarikan nafas berat di sela sorot matamu yang memandang tajam ke arahku. Tanpa setahumu, rinduku sejatinya melebihi kadar rindumu. Hingga nyaris membuatku gila hanya mengingatmu. Tapi bedanya, aku rapi menyimpannya.

Aku pikir setelah kita berjumpa, kamu lupa dengan pertanyaan kemarin mengapa aku mencintaimu. Tanpa kamu tahu, aku mencintaimu menghilangkan sebagian kewarasanku. Tapi, tentu saja hanya aku yang tahu.

Ternyata, pertanyaan itu masih memenuhi benakmu. Sambil menatapku, kamu bertanya pertanyaan serupa. Tapi aku lebih suka dengan matamu ketimbang pertanyaanmu. Mata yang selalu menyimpan bayangku di sana. Mata yang menyorotkan semangat hidup yang sama. Kamu memanggilku pelan, ” Sweetheart.”

Dengan tersenyum, aku pun berujar,”Kamu kepo banget by. Mau tahu banget atau mau tahu saja.” Kamu hanya mengangkat alismu. Aku pun menegakkan posisi dudukku. “Baiklah tuanku, karena kamu penasaran, aku akan menjawabnya, ” jawabku tersenyum melanjutkan, “Aku mencintaimu karena ketika aku melihat kamu, aku seperti melihat sebagian diriku. Sebagian aku adalah kamu.”

Mendengar argumenku, kamu tersenyum menatapku. Kemudian jemarimu mengelus rambutku tidak peduli masih ada makanan yang belum disantap.

Setelah menjawab pertanyaanmu aku berharap, tidak ada lagi keraguan soal yang sama. “Jangan bertanya lagi soal yang sama ya sayang. Karena akuuuuu tetaaap tidaaaak…..ehmmm, ” kataku pura-pura berpikir sesuatu. “Tidak kenapa beb?” tanyamu. “Karena akyyy tetaaap tidak akan kasih kamu sepeda, ” balasku dengan mimik serius sambil tanganku memainkan piring di meja. Kamu pun langsung tertawa. Kamu tahu, aku paling suka melihat kamu tertawa. Karena dunia terlihat lebih berwarna.

picsart_01-14-10.02.02

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s