Detoks Digital Untuk Keseimbangan Hidup

IMG_20180711_192734

Detoks digital menjadi salah satu solusi alternatif untuk meraih keseimbangan hidup di era digital. Ada lima langkah yang bisa kamu lakukan. Poin kelima mungkin berat bagi sebagian orang.

Pernahkan anda dalam sehari menggunakan hampir separuh waktu hanya untuk membuka internet dan itu untuk keperluan yang tidak penting? Seperti membuka akun gossip, berdebat soal pilihan politik di akun-akun politik, atau hanya ngepoin kehidupan orang lain yang sepintas terlihat wow dibanding kehidupan anda?

Setelah menghabiskan hampir seluruh waktu anda, anda baru tersadar ternyata masih banyak urusan yang belum kelar. Distraksi atau faktor pengalih yang disebabkan oleh penggunaan ponsel dan internet saat ini menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian. Jangan sampai waktu kita setiap harinya terbuang hanya untuk melihat hal-hal sampah atau hal tidak berguna yang pada akhirnya mengurangi kualitas hidup kita, membuat kita stuck di titik tertentu, dan akhirnya tidak ada improvement.

Jika anda merasa keberadaan ponsel dan sambungan internet menjadi salah satu penghambat kemajuan anda, ada baiknya anda mencoba detoks digital seperti yang ditulis Blake Snow dalam bukunya “Log Off”. Dalam bukunya Blake menyatakan bahwa ia mengunakan sebelas jam tiap harinya untuk bekerja dan setengah hari pada hari Sabtu untuk bekerja. Tanpa ia sadari Blake telah menggunakan sebagian besar waktunya untuk bekerja.

Karena merasa sebagian besar waktunya digunakan untuk bekerja, akhirnya Blake mencoba terhubung kembali dengan dunia realita. Ia mencoba detoks digital atau membatasi diri dalam menggunakan internet dan ponsel pintar untuk mencapai keseimbangan dalam hidupnya..

Menurut Blake dalam bukunya berjudul “Log Off” pengunaan internet harus dibatasi untuk memperoleh keseimbangan hidup. Ia memberikan solusi berupa detoks digital. Tchiki Davis seorang kolumnis mencoba lima langkah detoks digital seperti dilansir psychologytoday.com.

Hapus gangguan

Blake mengajarkan kepada kita tentang four burners theory. Menurut dia empat pembakar adalah keluarga, teman, kesehatan, dan pekerjaan. Terkait dengan empat pembakar ini, maka apa pun yang tidak penting untuk keempatnya harus dihapus.
Bukan berarti di ponsel kita tidak ada nada dering, emergency call, bunyi bip, dll. Intinya aplikasi-aplikasi yang tidak mendukung keempat pembakar tersebut sebaiknya tidak diinstal. Dengan menghapus aplikasi, anda akan lebih mudah terbebas dari distraksi atau gangguan.

Sebaliknya jika anda menginstal beragam aplikasi seperti untuk keperluan chatting anda menginstal whatsapp, bbm, line, hingga facebook messanger, tanpa anda sadari aplikasi-aplikasi tersebut akan menyita waktu anda. Anda akan lebih gampang terganggu karena harus membalas chat yang masuk dari beragam aplikasi. Padahal pekerjaan anda tidak mengharuskan anda terkoneksi dengan ponsel. Hal itu berbeda jika pekerjaan anda adalah marketing.

Jangan mengagungkan kesibukan

Sebagian dari kita terkesan malu kelihatan tidak sibuk. Bahkan, kadang kita berperilaku manipulative agar terlihat sibuk. Padahal hal yang kita kerjakan yang sepintas terlihat sibuk itu adalah hal-hal tidak penting yang tidak membuat hidup kita lebih baik atau tidak berkontribusi bagi kebaikan diri dan orang lain.

Jika kita ingin terlihat sibuk di mata orang lain, percayalah internet akan membuat kita terlihat sibuk dengan pilihan kegiatan beragam dari yang berguna hingga yang bersifat toxic alias racun yang membunuh waktu kita. Pilih kegiatan berselancar di media daring untuk hal yang memberikan manfaat bagi kehidupan kita, keluarga, dan orang sekitar. Bukan berselancar atau pura-pura membuka pesan chat masuk agar terlihat sibuk. Jika mindset kita berubah, maka kita akan lebih gampang memilah mana yang penting dan mana yang tidak penting bahkan merugikan.
Tanyakan “mengapa” ketika membuka ponsel

Jangan beralasan membuka ponsel pintar karena merasa telepon seluler adalah alat serba bisa yang bisa membuat kita terkoneksi dengan teman dan dunia luar. Padahal, di luar untuk kepentingan itu, kita kerap menghabiskan waktu untuk hal-hal tidak penting. Sehingga tanpa sadar kita kerap mengabaikan orang yang secara fisik ada di dekat kita.
Ketika kita jalan-jalan di pusat perbelanjaan kita pasti kerap melihat orang-orang yang berkumpul makan di satu restoran tapi mereka sibuk dengan ponselnya. Atau sepasang suami istri dengan anaknya yang sedang makan, tetapi suami dan istri sibuk dengan ponselnya sendiri-sendiri. Mereka terkoneksi dengan orang yang ada dalam ponsel mereka dan akhirnya tidak terhubung dengan orang yang ada di dekat mereka.

Ponsel tidak lagi berfungsi sebagai alat komunikasi tetapi sudah menjadi alat pelarian jika kita merasa tidak nyaman ketika bertemu dengan orang baru, alat menghindar dari percakapan dengan orang lain, dan tanpa sadar menjadi pengalih perhatian dari orang-orang yang ada di dekat kita.

“Saya benar-benar percaya bahwa menyimpan telepon di saku kita adalah salah satu hal paling berani yang dapat kita lakukan,” terang Blake dalam bukunya. Ia menyarankan ketika kita berkumpul dengan orang lain, dengan pasangan, dengan keluarga, sebisa mungkin bukan hanya fisik kita yang hadir. Tetapi pikiran kita juga hadir di sana.

Gunakan aturan pertiga

Blake membagikan resep agar kita membagi hidup kita menjadi tiga bagian. Yaitu delapan jam untuk bekerja, delapan jam untuk tidur, dan delapan jam gratis. Bekerja lebih banyak melebihi delapan jam kerja sebenarnya tidak membuat kita lebih produktif. Bekerja cerdas dan membagi waktu bebas secara bijak membuat kita bekerja lebih efektif.

Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa bekerja lebih dari delapan jam juga kontraproduktif. Untuk pekerja yang pekerjaannya bersifat rutin, bekerja lebih dari 40 jam per minggu mengurangi produktivitas. Sedangkan untuk pekerja kreatif, bekerja lebih dari 20 jam per minggu tidak produktif.

Secara berkala menjauh dari gadget

Jika kita begitu tergantung dengan gadget atau gawai, ada baiknya kita membuat program menjauh dari gadget. Kita bisa menjadwalkan sehari tanpa gadget. Kalau sehari terasa berat, bisa setengah hari tanpa gadget. Atau setelah jam kerja tanpa gadget. Kita bisa mengisi waktu yang biasa digunakan untuk membuka gadget diganti dengan kegiatan membaca buku, berolahraga, ikut kegiatan volunteer atau kegiatan social, menambah keterampilan, atau lebih mendekatkan diri dengan keluarga, sahabat, dan orang terdekat di sekitar kita.

Ayo, menurutmu poin mana yang paling ringan dilakukan untuk detox digital? Dan poin mana yang paling berat dilakukan untuk detoks digital?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s