Kunci Bahagia Dalam Sebuah Relasi

PicsArt_03-07-04.01.08

Setiap manusia di dunia ini pasti menginginkan hidupnya bahagia. Sayangnya, tidak semua bisa merasakannya. Bahkan, bahagia kerap tertukar dengan sukses. Kesuksesan kerap dianggap sebagai kenahagiaan atau dianggap sebagai tiket bahagia. Kesuksesan bisa menjadi salah satu faktor yang membuat orang bahagia. Tapi, kesuksesan bukan penentu kenahagiaan. Nah lho?

Berikut kunci meraih kebahagiaan dalam sebuah relasi antar sesama manusia dan hubungan sebagai sepasang kekasih atau suami istri. Tips berikut yang disarikan dari http://www.pursuit-of-happiness.org merupakan hasil dari studi ilmiah tentang Positive Psychology dan ilmu kebahagiaan daam formula sederhana. Sehingga, kita menemukan apa yang membuat kita bahagia. 

Setidaknya ada dua sorotan atau highlight yang menjadi konsiderans dalam meraih kebahagiaan.

1.Orang yang memiliki satu atau lebih sahabat dekat tampak lebih bahagia. Mengapa? Karena membagi perasaan pribadi (self-disclosure) kepada orang lain mempunyai peran penting dalam menghilangkan stres dan depresi.

2.Mendengarkan dengan sabar dan merespons dengan cara proper dan konstruktif (Active-Constructive Responding) adalah cara yang sangat efektif untuk menumbuhkan emosi positif dan memperdalam hubungan.

Dua pelopor Psikologi Positif Ed Diener dan Martin Seligman pada tahun 2002 melakukan studi di University of Illinois. Penelitian keduanya  mengenai kebahagiaan pada diri siswa yang memperoleh nilai tertinggi.  Sampel dalam penelitian tersebut 10 persen dari jumlah total siswa yang mendapat nilai tertinggi.

Keduanya menemukan bahwa karakteristik paling menonjol yang dimiliki oleh siswa yang sangat bahagia dan mempunyai tanda depresi paling sedikit adalah siswa yang mempunyai ikatan kuat dengan teman dan keluarga mereka. Mereka juga berkomitmen menghabiskan waktu bersama teman dekat dan keluarga.” ( Claudia Wallis, Majalah Waktu, 09 Januari 2005).

Dalam sebuah penelitian, orang ditanya secara acak tentang suasana hati mereka. Ternyata mereka menjawab paling bahagia ketika bersama dengan teman mereka, diikuti peringkat berikutnya bersama anggota keluarga, dan paling tidak bahagia jika mereka sedang sendirian (Larson, Mannell, & Zuzanek, 1986).

Studi lain menggunakan skala kerjasama sebagai prediktor kebahagiaan. Skala kerjasama adalah  bagaimana orang bersedia melakukan kegiatan konstruktif dengan orang lain. Studi ini menunjukkan bahwa kemauan bekerjasama seseorang merupakan prediktor kebahagiaan. Walaupun hasil studi tidak secara meyakinkan menunjukkan hubungan langsung  jika seseorang  mau bekerjasama maka mereka akan bahagia atau sebaliknya. (Lu & Argyle, 1991).

Sebuah studi yang meneliti tentang kualitas hubungan menemukan bahwa untuk menghindari kesepian, orang hanya membutuhkan satu hubungan dekat ditambah dengan jaringan hubungan lain. Untuk membentuk sebuah hubungan yang erat diperlukan adanya rasa percaya kepada ybs untuk mendengarkan dan bisa menjaga rahasia pribadi kita. Tanpa ada sesi curhat, maka seseorang yang mempunyai banyak teman tetap akan merasa kesepian (Jackson, Soderlind & Weiss, 2000, Horesh, Apter, 2006).

Sebuah studi serupa menemukan bahwa beberapa siswa yang memiliki banyak teman dan sering menghabiskan waktu bersama akan tetap dilanda kesepian jika dalam pola hubungan hanya membahas hal-hal yang bersifat umum seperti olahraga, musik. Bukan kehidupan pribadi (Wheeler). 

Mendengarkan dengan hati-hati dan merespons dengan cara yang proper (Active-Constructive Responding) adalah cara yang sangat efektif untuk menumbuhkan emosi positif dan memperdalam hubungan. (Niederkrotenthaler, Gould, et al, 2016)

Kebahagiaan tidak hanya bisa diperoleh dari dukungan sosial tetapi bisa lebih bermakna dengan menyediakan dukungan tersebut  (Brown et al., 2003). Studi ini meneliti bagaimana pemberian dukungan sosial mempengaruhi kesejahteraan dan kematian. Kita juga kehilangan makna dalam hidup jika kita dikucilkan dan terisolasi dari lingkungan sosial (Stillman et al 2009).

Studi khusus tentang dukungan sosial dan kebahagiaan menggunakan empat treatment berbeda.  Peserta akan ditolak atau dikucilkan oleh orang lain. Para peneliti menemukan bahwa kesepian menghasilkan tingkat makna yang lebih rendah dan meningkatkatn depresi. 


 

About the Author

Posted by

It's about fashion, beauty, food, traveling, career, love, motivation, story, poetry and life. Follow IG @lemonpolka YouTube @elpechannel

Add a Response

Your name, email address, and comment are required. We will not publish your email.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

The following HTML tags can be used in the comment field: <a href="" title="" rel=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <pre> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

%d bloggers like this: