Ketika Agama Hanya Berhenti di Simbol

Masih ingat Amel Alvi yang tertangkap karena prostitusi pada 2015 datang ke ruang sidang menggunakan baju gamis dan cadar warna hitam? Untuk melengkapi citra agamisnya, hari itu Amel juga membawa tasbih di tangannya. Atau terpidana kasus korupsi miliaran rupiah Angelina Sondakh yang mendapat pujian karena khatam Al Quran dan mengenakan jilbab pada Juli 2015.

Atau artis Luna Maya dan Cut Tari ketika dikaitkan kasus video porno. Keduanya berpenampilan lebih tertutup ketika memberikan klarifikasi terkait video yang sempat menghebohkan tanah air tersebut.

Seperti dilansir newsdetik.com Malinda Dee yang tersangkut kasus penggelapan dana nasabah Citibank Rp 16 miliar juga mendadak mengenakan kerudung saat hadir di KPK. Nunun Nurbaeti tersangkut kasus cek pelawat pemilihan Deputi Gubernur  Senior Bank Indonesia juga tiba-tiba mengenakan jilbab ketika berurusan dengan KPK pada 2011.

Sejumlah perempuan lain yang tersangkut hukum karena kasus korupsi dan suap juga mendadak tampil agamis. Seperti Dharnawati yang tertangkap KPK pada 2011 karena kasus suap di Kemenakertrans, setelah berurusan dengan hukum ia mengenakan cadar. Hal senada juga dilakukan Yulianis yang terlibat kasus korupsi Wisma Atlet SEA Games era SBY. Ia mengenakan cadar setelah berurusan dengan KPK.

Pejabat publik juga mengenakan jilbab ketika tersangkut kasus korupsi seperti Imas Dianasari hakim ad hoc di Pengadilan Hubungan Industrial di Bandung yang merubah tampilannya dengan berjilbab setelah tersangkut kasus suap Rp 200 juta.

Atau Very Idham Henyansyah alias Ryan dari Jombang yang membunuh sekitar 11 orang secara berantai sekitar tahun 2008 lalu juga mengenakan baju koko dan peci ketika di persidangan.

Fenomena ganjil lain adalah penggunaan kata yang sebetulnya berkonotasi positif untuk kegiatan maling uang rakyat alias korupsi seperti liqo’ (mengaji) dan juz (juzamma) oleh politisi PKS Yudi Widiana. Politisi PKS itu tersangkut kasus menerima suap sekitar Rp 11,1 miliar untuk pembangunan jembatan di Maluku dan Maluku Utara (tirto.id).

Hal yang menyedihkan, pengadaan Al Quran oleh Kementerian Agama pada tahun 2011-2012 juga menjadi ajang maling oleh para pejabat. Kitab suci yang seharusnya menyadarkan manusia, pengadaannya bisa menjadi ajang untuk merampok uang rakyat. Sejumlah pejabat yang terlibat telah mendekam di penjara.

Postingan agamis juga kerap dilakukan oleh pejabat publik yang terkena kasus korupsi. Seperti yang dilakukan Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) sekaligus bakal calon Gubernur Kukar dari partai beringin Rita Widyasari yang terkena kasus suap gratifikasi senilai Rp 6 miliar lebih. Anak dari Bupati  Kutai alm Syaukani yang semasa hidupnya juga tersangkut kasus korupsi merugikan negara ratusan miliar itu via akun facebook-nya  membuat status  di FB “Teringat pesan bapak ku, badan boleh terpenjara, tapi tidak pikiran dan pendukung ku. Dunia ini hanya lintasan sejenak. Penjara itu tempat khusuknya ibadah.”

Agama Hanya Simbol?

Perubahan penampilan para koruptor, artis yang tersandung hukum menjadi agamis, pemilihan kalimat yang tidak jauh dari kitab suci dan nama Tuhan, tentu tidak lepas dengan kondisi masyrakat Indonesia yang terbilang agamis dari sisi ritual dan simbol, tetapi belum memahami esensi ajaran Islam.

Salah satu indikator masyarakat agamis yang masih terjebak pada simbol dan belum melangkah kepada esensi adalah sebagian besar masyarakat sudah sadar tentang perintah agama untuk menjalankan ibadah ritual seperti sholat, puasa, menutup aurat, menunaikan ibadah haji, tetapi di sisi lain pemahaman tentang akhlak atau etika belum kuat. Kiblat dari dari akhlak atau etika  adalah tidak merugikan, mengganggu kepentingan, kenyamanan, keadilan orang lain sebagai bentuk tanggung jawab kita sebagai makhluk sosial sekaligus mengamalkan ajaran akhlak yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Praktek-praktek menyimpang dari ajaran Islam yang merugikan orang lain dan gampang kita temui dalam kehidupan sehari-hari antara lain cuek duduk di kereta padahal ada penumpang lain yang lebih membutuhkan, tidak menolong korban kecelakaan malah memotret, merekam, dan mempostingnya di media sosial, tidak menolong korban kecelakaan malah mengambil barang-barang pribadi milik korban, mengendarai motor, mobil semaunya yang bisa membahayakan diri sendiri dan mengancam nyawa orang lain, tidak berusaha mengembalikan barang temuan dan menganggap sebagai rezeki, tidak meminta maaf menyalip antrian, tidak merasa malu mencontek, masuk menjadi aparat pemerintah dengan menyogok, menggoalkan tender proyek dengan menyogok pejabat, tidak bisa menjaga lisan dengan berkata kasar, menghina, mencemooh, memaki, dll.

Contoh tindakan yang tidak mencerminkan nilai Islam dan merugikan banyak orang adalah korupsi karena magnitude atau pengaruh buruknya besar untuk sebuah negara. Korupsi adalah tindakan mencuri uang rakyat. Dari tindakan oknum tersebut, masyarakat dirugikan. Karena uang yang seharusnya digunakan untuk pembangunan gedung sekolah, ruangan kelas, puskesmas, rumah sakit, pengadaan obat, buku-buku digunakan untuk pribadi. Atau misalnya pembangunan jalan, jembatan yang seharusnya kualitasnya bagus dan bisa tahan sampai puluhan tahun, karena dikorupsi untuk pribadi akhirnya kualitas bangunan jalan, jembatan menurun dan hanya bisa bertahan tidak sampai puluhan tahun. Atau dana yang seharusnya digunakan untuk meningkatkan gizi warga kurang mampu dikorupsi oleh pejabat terkait yang berdampak kematian bayi yang menderita gizi buruk.

Dengan kondisi masyarakat yang melihat kesholehan seseorang diukur dari baju, ucapan, postingan yang agamis, maka wajar jika ada pejabat publik atau artis yang tersangkut hukum akan melakukan hal ini. Pejabat yang tersangkut korupsi akan berargumen dengan menggunakan sumpah atas nama Tuhan, mengutip ayat-ayat Al Quran yang sebenarnya sudah ia khianati dan digunakan kembali untuk mendapat simpati.

Kondisi warga yang sebagian agamanya baru sebatas ritual dan simbol juga menjadi lahan empuk bagi para politisi yang kurang capable, minim prestasi, tapi hasrat berkuasanya luar biasa. Mereka tanpa ragu akan mencatut Islam untuk meningkatkan nilai jual sekaligus menjatuhkan lawan politik karena kurangnya nilai jual. Warga yang mudah terpesona dengan simbol atau hal-hal yang berbau agama akan gampang terbius dan menganggap ybs sebagai figur soleh yang layak dipilih sebagai pemimpin. Padahal wilayah leadership lebih kompleks dari sekedar kesamaan identitas dan kesolehan prbadi yang kerap tidak berbading lurus dengan integritas dan kredibilitas seseorang yang sangat diperlukan untuk menjadi pemimpin yang adil, tegas, bersih dari korupsi dan menginspirasi.

Dengan kondisi spiritualitas yang berhenti di simbol bukan masuk ke dalam esensi, maka kita kerap melihat saudara kita menghina, mencaci maki saudara muslimah lainnya yang melepas hijab. Seolah-olah hinaan, cacian kepada muslimah yang melepas hijab dianggap sebagai jihad.

Saudara muslimah yang mencaci, menghina, mengolok-olok muslimah yang lepas jilbab (simbol) sepertinya tidak menyadari bahwa keputusan menggunakan dan melepas jilbab  (simbol) itu wilayah pribadi yang tidak merugikan orang lain. Yang bersangkutan menggunakan atau melepas jilbab tidak merugikan orang di sekitarnya. Karena itu wilayah kepatuhan seorang hamba dengan perintah TuhanNya dengan model hubungan vertikal. Dosa karena melepas jilbab juga ditanggung sendiri oleh ybs.

Kalau kita takut ybs membawa pengaruh buruk terhadap muslimah lan, maka seharusnya kita memberi masukan kepada ybs secara privat, tidak terbuka diketahui orang lain seperti via inbox, DM, atau diajak bicara hanya berdua tanpa orang lain tahu. Karena adab dalam Islam, jika kita ingin memberi nasehat, tidak boleh menyakiti perasaan orang lain dengan memberi nasihat secara pribadi dan tidak di depan orang lain yang membuat ybs malu atas nasihat kita. Kesadaran memperlakukan orang lain secara manusiawi adalah manifestasi dari nilai-nilai Islam yang membentuk pribadi kita sebagai insan yang melihat agama tidak berhenti di simbol, tetapi juga termanifestasi dalam akhlak (esensi). Wallohu a’lam bishowab.

About the Author

Posted by

It's about fashion, beauty, food, traveling, career, love, motivation, story, poetry and life. Follow IG @lemonpolka @susan_rock13

Categories:

opini, Uncategorized

1 Comment

Add a Response

Your name, email address, and comment are required. We will not publish your email.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

The following HTML tags can be used in the comment field: <a href="" title="" rel=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <pre> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

%d bloggers like this: