Bermoral Tak Beretika

Jika kita mengamati fenomena sosial di sekitar kita belakangan ini, kita akan mendapati semangat beragama sebagian umat Islam di Indonesia yang terbilang tinggi. Salah satu parameter yang gampang dilihat adalah penggunaan jilbab di kalangan muslimah sebagai implementasi QS An Nuur :31.

Ketika kita berada di ruang publik entah itu di jalan, pasar, di pusat perbelanjaan modern, di lembaga pendidikan, di rumah sakit, angkutan umum sebagian perempuan menggunakan jilbab.

Hal serupa ternyata juga terjadi pada siswa sekolah baik dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Hampir sebagian siswi di sekolah negeri mengenakan jilbab. Jika kita amati di jalan-jalan di ibukota, jika ada siswi bergerombol, dari sekitar 6 siswi hanya ada 2 atau 3 yang tidak menggunakan jilbab. Hal senada juga terjadi di lingkungan perguruang tinggi negeri.

Kondisi ini tentu berbeda dengan era 2000-an awal dan sebelumnya. Bahkan pada tahun 1990-an jarang sekali siswi dan mahasiswi yang mengenakan jilbab. Penggunaan jilbab masih terbatas. Bahkan foto ijazah siswa tidak boleh mengenakan jilbab.

Bukan hanya di sekolah, hingga era 2000-an awal pembatasan jilbab juga terjadi di dunia kerja. Bukan hal aneh jika kita melihat karyaawan perempuan lepas pasang jilbab karena peraturan kantor melarang mengenakan jilbab ketika bekerja.

Kini penggunaan berjilbab sudah sangat leluasa bukan hanya di dunia pendidikan tetapi juga di tempat kerja. Bahkan polisi wanita yang mengatur lalu lintas sebagian juga mengenakan jilbab.

Semangat beragama juga terlihat dengan panjangnya antrian ketika memasuki sholat maghrib di musholla stasiun dan pusat perbelanjaan modern. Saking penuhnya musholla membuat sebagian orang yang akan sholat berpikir ulang. Kondisi ini terjadi merata di sebagian besar mall ibukota dan daerah sekitarnya.

Fenomena banyaknya perempuan berjilbab dan membludaknya antrian untuk sholat maghrib di musholla stasiun dan mall merupakan hal positif. Tentu itu harus kita syukuri sebagi negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Dari sisi moralitas agama, sebagian besar masyarakat Indonesia saat ini boleh dikatakan bermoral. Sayangnya, standar moralitas yang sudah tinggi, belum diikuti dengan akhlak atau etika ketika menjalin relasi dengan orang lain.

Moralitas agama menyangkut kewajiban muslim terhadap Allah SWT seperti menjalankan perintah Islam seperti ritual sholat, zakat, puasa, dan kewajiban mengenakan jilbab. Sehingga arah hubungan adalah vertikal antara manusia dengan Tuhan. Ketika manusia tidak menjalankan perintah Allah SWT, yang berdosa dan akan mendapat punishman atau hukuman adalah pribadi yang bersangkutan bukan orang lain.

Kecuali untuk kewajiban zakat karena melibatkan orang lain. Jika seorang muslim tidak menunaikan kewajiban membayar zakat yang rugi adalah dirinya sendiri dan orang lain yang berhak menerima zakat. Untuk ibadah lain, jika tidak menjalankan, yang rugi dan berdosa adalah pribadi ybs bukan orang lain.

Rendahnya Kesadaran Berakhlak

Etika atau akhlak menyangkut bagaimana seorang individu bersikap, bertutur, dan berperilaku sebagai makhluk sosial. Sejatinya Islam sudah memberikan kriteria tentang akhlak muslim yang baik seperti dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari menyatakan seorang muslim yang baik itu adalah muslim yang orang lain aman dari lisan dan perbuatannya.

Dari hadist tersebut jelas bahwa pribadi muslim yang baik adalah pribadi yang bisa menjaga diri dari perkataan dan perbuatan yang menyakiti dan merugikan orang lain. Namun, belakangan kita melihat sebagian saudara kita yang terlihat Islami dari sisi baju dan ritual, ternyata gagal menjaga lisan dalam hal ini lisan yakni berkata dengan berhadapan secara face to face dan lisan dalam artian memposting status, dan komen yang terbilang keluar dari nilai-nilai Islami seperti posting fitnah dan komen kasar, menghina, mencaci maki dll.

Bukan hal aneh jika kita kerap menjumpai teman kita yang terlihat Islami dari penampilan tetapi status-status facebook-nya tanpa ia sadari telah menyakiti atau membuat sedih teman-teman facebook yang membacanya karena isi postingan tidak jauh-jauh dari fitnah atau menjelek-jelekkan pihak yang berseberangan dengan kelompoknya.

Ia lupa setiap orang mempunyai preferensi politik berbeda. Ia secara sadar dan tidak sadar telah menganggu kenyamanan teman facebook-nya. Kesadaran menghormati orang lain dengan tidak melakukan hal-hal atau mengucapkan perkataan, membuat status yang berpotensi mengganggu kenyamanan orang lain atau membuat orang lain sedih, marah disebut etika atau akhlak.

Kemampuan beretika atau menjaga akhlak dalam menjalin relasi orang lain mutlak diperlukan agar hubungan sosial terjaga dan jauh dari konflik sosial. Ketidakmampuan dalam beretika atau tidak bisa menjaga akhlak ketika berhubungan dengan sesama tentu berdampak langsung dalam kerukunan antar umat manusia.

Mengabaikan etika atau akhlak, berpotensi menimbulkan diskriminasi, sekat yang jelas antara mayoritas dan minoritas, kaya dan miskin, pejabat dan rakyat.  Tanpa etika atau akhlak yang baik, manusia akan menjadi pribadi rasis yang cenderung merendahkan orang lain dengan hanya memandang suku, agama, dan status sosial ekonomi. Dan lupa bahwa orang lain yang berbeda adalah sesama manusia yang punya hal untuk dihormati seperti dirinya.

Pelajaran etika atau akhlak lain yang kerap dilupakan adalah tingginya keinginan mencampuri urusan orang lain (kepo) yang bukan merupakan haknya. Bahkan, kebiasaan kepo ini kerap berdampak menyakiti perasaan orang lain atau membuat sedih orang lain karena komentar atau pertanyaan yang diajukan menyinggung perasaan orang lain. Lagi-lagi, ketika lisan tidak bisa ditempatkan secara proporsional hanya membuat orang lain terluka, menambah rentetan dosa.

Suburnya budaya kepo yang berkonotasi negatif terlihat pada komen-komen di akun gosip yang banyak tersebar di media sosial seperti instagram. Jangan kaget jika begitu membuka akun-akun gosip tersebut kita menjumpai saudari muslimah kita yang menggunjing orang atau artis yang diposting dengan bahasa yang jauh dari standar sopan. Bahkan makian atau umpatan kerap terlontar dari mulut mereka.

Fenomena sosial di atas adalah potret sebagian manusia Indonesia sekarang. Dengan kondisi tersebut, pendidikan di tanah air dan orang tua dalam hal ini keluarga mempunyai PR berat bukan hanya mencerdaskan anak-anak dari sisi intelektualitas, tetapi juga mengajarkan etika atau akhlak ketika berhubungan dengan orang lain agar tercipta masyarakat madani (civil society) untuk tatanan dunia yang lebih baik. Wallohu a’lam bisshowab.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s