Kapan Nikah?

PicsArt_11-02-10.16.54

“Kamu balik kapan, nduk?” Ah, pertanyaan ibu minggu lalu mengusikku. Jemariku yang semula menari di atas papan ketik, mendadak diam. Tahun ini aku tidak ingin mudik  lebaran. Tapi, mendengar suara ibu di telepon, tekadku yang bulat menjadi lonjong. Aku tidak tega membiarkan ibu mengisi lebaran hanya berdua dengan adikku, Shafa. Sampai sekarang ubiarkan tanya itu mengawang. Hingga aku mantap memutuskan.

Ketika pikiranku masih macet dengan mudik lebaran, iklan biskuit dan sirup di televisi bertema buka puasa dan lebaran lalu lalang saling berebut perhatian. “Puasa juga belum dimulai, tetapi iklan itu telah membuat imaji dahaga puasa dan damai lebaran menari. Hmmm.” Batinku.  “Sebenarnya aku ingin mudik, Bu. Tapi….,” kataku pada diri sendiri.

Dulu, tidak ada kata tapi untuk momen spesial bulan syawal itu. Bahkan, aku akan bersemangat sekali memikirkan dekorasi interior rumah, baju apa yang akan kukenakan saat lebaran. Setelah bekerja, rasanya senang bisa membeli baju lebaran untuk ibu dan adikku. Sebulan sebelum lebaran,telah kukirim baju itu. Biar Shafa tenang sudah ada baju lebaran. Aku ingat saat kecil selalu gelisah saat ibu belum membeli baju baru, sebulan menjelang Lebaran! Kini aku membelikan baju untuk adikku sebulan sebelum lebaran.

Momen lebaran yang terasa seperti candy kini telah berlalu. Itu dulu. Ya, dulu. Kini Idul Fitri seperti teh tanpa gula. Tawar. Bahkan seperti kopi. Pahit. Ya, pahit. Ketika kata tanya mulai menyapa. Kapan nikahnya?

Semula aku mengacuhkannya tiap pertanyaan itu datang. “Kapan nikahnya, Ra? Sudah kerja lho. Teman SDmu Witri saja sudah punya anak dua.” Begitu kata tetangga. Aku memilih menjawab dengan senyum. Aku sama Witri kan beda. Ya, wajar jika kehidupanku kami tak sama. Batinku. Ketika aku berkeliling silaturahmi menemani ibu, lagi-lagi pertanyaan itu terlontar. Kadang aku menjawab,”Mohon doanya saja.”

Tahun pertama lulus kuliah dan bekerja pertanyaan kapan menikah belum terasa sepa. Toh teman-teman SMAku seperti Ella, Damar juga belum married. So what gitu loh. Pikirku. Nikah cepat atau tidak, di luar kuasa kita. Lagian, memangnya kalau belum nikah kenapa?. Baru 23. Kataku membatin.

Pertanyaan kapan nikah makin deras saat usiaku 24 tahun. Sudah mau 25, Ra. Usia ideal married. Untunglah saat itu aku dekat dengan dua laki-laki. Satu sahabat SMA ku Damar. Satu lagi Enno, temannya sahabatku, Ella yang sekolah di luar kota. Aku mulai dekat dengan Enno, lulusan Sekolah Perwira Kepolisian saat main ke rumah Ella bersama Damar kala Lebaran. Komunikasi kami kian intens. Ia bahkan menyempatkan diri berkunjung ke rumahku. Tidak perlu waktu lama bagi Enno untuk dekat dengan ibu dan adikku. Tiga bulan berteman dan merasa cocok, kami kemudian mantap jadian.

Aku yang bekerja di salah satu media di Jakarta harus bolak balik pulang tiga bulan sekali demi mengisi kantong-kantong rindu yang kerap kosong saat jauh dari Enno. Hampir setahun bersama, sebulan menjelang Ramadhan kami mantap bertunangan. Keluargaku dan Enno ingin kami segera meresmikan hubungan. Apalagi hubunganku dengan mamanya Enno sudah seperti anak dengan ibunya. Meski jarang bertemu, kami sangat dekat secara emosional. Aku sering menelpon mama Enno. Demikian juga mama Enno. Kami juga kerap berkirim bingkisan.

Setelah bertunangan, aku pikir pertanyaan kapan menikah akan hilang. Perkiraanku keliru. Orang tetap bertanya kapan menikah. “Itu kan basa basi orang kampung, Ra. Karena nggak ada pembicaraan lain. Tapi kamu beruntung, udah tunangan. Aku belum,” kata Ella menghibur.

***

Kalau memakai hitungan matematika, aku seharusnya yang menikah duluan. Bukan Ella. Usia 25 tahun aku bertunangan dengan Enno. Seorang perwira polisi berkulit bersih dan berwajah tampan. Saat usia 26 tahun kami akan mengucap janji, berlabuh dalam bahtera pernikahan. Sementara Ella? Saat itu ia belum punya pasangan.

Yang aku tahu, Ella, sahabatku super manis dan girly itu memendam rasa pada Damar. Sahabat SMA ku yang banyak digilai kaum hawa. Dengan postur jangkung, berkulit bersih, sorot mata tajam, wajah tampan, jago main gitar, vokalis band, otak encer, dan dari keluarga mapan, Damar seolah menjadi magnet bagi cewek. Cewek-cewek meleleh setiap melihat Damar perform di stage. Tidak berbeda jauh dengan hati Ella, sebenarnya aku juga suka Damar. Hanya cewek bodoh yang tidak suka Damar. Pikirku. Tapi karena tahu Ella mencintainya, perlahan aku kubur perasaan suka itu. Meskipun feelingku mengatakan Damar menyukaiku. Hal itu dikuatkan dengan celotehan teman sekelas yang mengatakan Damar suka aku. Aku berusaha tidak mempercayainya. Tapi gagal.

***

Lebaran tahun lalu aku harus menyesap kopi pahit. Ampas pedihnya masih terasa hingga kini. Seharusnya Lebaran tahun lalu aku menjadi Nyonya Enno. Sehingga tidak perlu lagi ada tanya kapan. Tetapi? Seperti yang kupikirkan saat usia 23 tahun. Meski kita ingin sekali menikah dan sudah punya calon, kalau ternyata takdir Tuhan berkata lain, ya tidak terjadi pernikahan. Dan itu menimpa aku. Pernikahan batal. Dua bulan menjelang pernikahan Enno selingkuh dengan cewek lain. Dan cewek itu telah telah hamil dua bulan! Mendengar pengakuan Enno dalam siding keluarga membuatku limbung. Pingsan.. Begitu sadar, kulihat mamanya Enno menangis. Ia meminta aku tetap menganggapnya sebagai ibunya. Aku mengangguk dan memeluknya erat. Kami menangis.

Hatiku pecah. Serpihannya menusuk hingga relung terdalam. Perih dan berdarah. Dan dua bulan kemudian saat Lebaran, luka itu kian memerah. Sebuah undangan pernikahan datang dari sahabatku, Ella. “Doain ya Ra, semuanya lancar,” kata Ella. Aku memeluk Ella. Senang akhirnya Ella bisa bersatu dengan cowok yang selama ini memenuhi mimpi-mimpinya. Damar. Meski satu sudut hatiku tergores. Aku masih mencintai Damar, La.

***

“Bu, Ara insyaAllah pulang H-3,” kataku kepada ibu lewat telepon. Ibu terdengar senang. Syukurlah. Aku menarik nafas begitu menutup ponsel. Berat.

Aku tidak tahu apa responku melihat Enno dan keluarga barunya ketika mengunjungi mamanya Enno sesuai janjiku. Aku hanya berusaha ikhlas. Aku juga berusaha melindungi hati dari iri atas kebahagiaan melingkupi kehidupan Damar dan Ella. Sebagai sahabat, aku harus berbahagia atas kebahagiaan mereka. Iri hanya menggerogoti kebahagiaanku yang seharusnya aku ciptakan sendiri dengan menerima kenyataan secara lapang. Itu lebih mendamaikan. Begitupun ketika pertanyaan kapan menikah datang. Anggap saja itu doa dan bentuk sayang. Sembari aku berdoa kepada Tuhan mohon dikuatkan hati agar tidak teritasi. Hanya Dia yang menenteramkan. Dan akhirnya pertanyaan kapan menikah akan sayup-sayup terdengar tersapu oleh doaku pada Tuhan pemilik kehidupan. Dan jika waktunya tiba, Sang Maha Cinta akan memberiku seorang belahan jiwa. Meski aku tidak tahu kapan waktunya.

About the Author

Posted by

It's about fashion, beauty, food, traveling, career, love, motivation, story, poetry and women life. Follow IG @lemonpolka @susan_rock13

Categories:

About Love, Cerpenesia

Add a Response

Your name, email address, and comment are required. We will not publish your email.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The following HTML tags can be used in the comment field: <a href="" title="" rel=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <pre> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

%d bloggers like this: