Pekerja di Jerman: Produktif dengan Jam Kerja Sedikit, dan Jatah Cuti Panjang.

lp cusppis

source : cuspis.com

Ternyata, untuk bekerja produktif tidak harus bekerja dengan jam kerja panjang. Di Jerman dengan jam kerja 35 jam seminggu dan cuti tahunan 24 hari, mereka tetap bisa produktif. Selain itu, orang Jerman juga memperoleh tunjangan liburan sebesar 25 hingga 30 hari kerja (UU ketenagakerjaan hanya menyebutkan 20 hari kerja).Wow!

Seperti ditulis Amol Sarva di laman huffingtonpost.com, ada kebiasaan positif yang dibangun orang Jerman sehingga produktivitas kerja mereka tinggi.

  1. Jam Kerja adalah Jam Kerja. Dalam budaya kerja di Jerman, ketika bekerja di kantor, mereka hanya mengerjakan hal yang berhubungan dengan pekerjaan mereka. So, kebiasaan yang kita lakukan di kantor seperti ngobrol, bergosip, membuka akun medsos menjadi perilaku yang tidak bisa ditolerir. Selama bekerja, pekerja di Jerman akan bekerja keras. Mereka akan fokus menyelesaikan pekerjaan secara efisien.
  2. Tidak Ada Hang Out Selepas Jam Kerja. Karena lingkungan kerja formal, pekerja tidak memerlukan waktu hang out selepas jam kerja. Orang Jerman memisahkan antara kehidupan pribadi dengan pekerjaan.
  3. Tidak Mengirim Email Urusan Pekerjaan Setelah Pukul 6 Petang. Baru-baru ini pemerintah Jerman melarang mengirim e-mail soal pekerjaan setelah jam 6 petang. So, setelah keluar dari kantor, para pekerja akan fokus dengan kehidupan pribadinya.
  4. Bersenang-senang Dalam Komunitas. Meski lingkup kerjanya formal dan tidak memerlukan hang out selepas jam kerja, para pekerja di Jerman masih bisa bersenang-senang dengan komunitas mereka. Mereka biasanya mengadakan pertemuan secara rutin. Seperti sportvereine untuk klub olahraga, gesangvereine untuk club vokal atau menyanyi), musikvereine untuk klub musik. Wandervereine (club hiking), tierzuchtvereine (klub pecinta binatang umumnya kelinci atau babi pigeon).Bahkan desa-desa kecil di Jerman juga mempunyai klub atau vereine untuk mengakomodai kepentingan warga. Warga Jerman senang bersosialisasi dengan yang lain dalam komunitas mereka.

Rindu dan Hujan

PicsArt_11-16-06.45.51

Tak mau mengenang

Tapi kamu datang

Bersama rintik hujan

Merajam di sebuah petang

.

Rindu yang kuusir pergi

Dalam kawanan mendung

Kini menyapa lagi

Menggali kenangan sepotong kisah nan murung

-SS-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ditinggal Tanpa Pesan

blog ditinggal

Credit:  slate.com

Sebut saja namanya Rara. Perempuan yang berprofesi sebagai pengajar itu mengaku trauma untuk memulai sebuah hubungan baru pasca ditinggal tunangannya yang menghilang tanpa pesan. Padahal, hubungan keduanya sebelumnya baik-baik saja.

“Ia menghilang saat semua persiapan untuk pernikahan sudah disiapkan oleh keluarga,” terang Rara. Yang membuat hati Rara kian sedih, ia telah berusaha mencintai tunangannya. Dan ketika rasa itu datang, tunangannya pergi begitu saja.

Rara dan tunangannya dijodohkan oleh pihak keluarga. Awalnya Rara tidak mencintai tunangannya. Tapi, seiring kebersamaan yang dilalui keduanya, seperti pepatah Jawa witing tresno jalaran soko kulina, Rara akhirnya mencintai tunangannya.  Namun, rasa yang baru bersemi, harus pupus seketika, ketika tunangannya pergi tanpa pesan meninggalkan luka yang dalam.

Agak berbeda dengan Rara, Dea juga mengalami hal yang sama. Awalnya ia tidak mempunyai perasaan khusus kepada salah satu teman kantornya. Meskipun, dari awal ia tahu, kalau Reza, sebut saja begitu, menaruh hati kepada dia. Dea juga tahu, selain Reza, ada Amar yang juga menyukainya.

Menurut feeling Dea, Reza tahu kalau teman sekantor mereka, Amar, juga menyukainya. Dengan pendekatan yang intensif sekitar tiga bulan, akhirnya Reza berhasil mendapatkan cinta Dea.

Singkat cerita, Dea jadian dengan Reza. Sebagai sepasang kekasih, keduanya kerap menghabiskan waktu bersama. Namanya sedang mabuk cinta, dunia Dea pun menjadi berwarna. Bahkan, orang lain pun seakan tidak ada. Yang ada hanya dia dan kekasihnya. Karena yang lain pindah ke Meikarta haha.

Ternyata, manis yang dikecap Dea tak bertahan lama. Baru tiga bulan jadian, mendadak Reza resign dan menghilang tanpa pesan. Dea sudah berusaha menghubungi Reza, tapi nomor ponselnya tidak aktif. Ia juga mengirim pesan via whatsapp, bbm, dan line, ternyata offline semua. Dea juga berusaha mencari keberadaan kekasihnya lewat jejak digital, tetapi sia-sia.

“Apa Salah Saya?”

Setelah kejadian pacar menghilang, baik Dea maupun Rara bertanya kepada dirinya sendiri. “Apa salah saya?” Keduanya mengaku tidak mempunyai masalah dengan pasangannya sebelum kekasihnya menghilang. Pertanyaan mengapa meninggalkan, apa salah saya membuat luka di hati keduanya kian dalam.

Tidak mudah bagi keduanya untuk menerima kenyataan dicampakkan tanpa ada kejelasan. Baik Dea maupun Rara menjalani hari-harinya dalam gelap karena tanya yang tak pernah menemjukan jawab.

Gigih di Awal, Menyerah di Tengah Jalan

Keduanya butuh waktu lama untuk berdamai, menerima fakta bahwa kekasihnya sudah meninggalkan mereka. Bahwa kekasihnya yang dahulu berjuang untuk mendapatkan cinta, menyerah begitu saja ketika cinta itu ada di depan mata. Bahwa kekasihnya yang dahulu berjuang mendapatkan perhatian, tiba-tiba menghilang tanpa pesan.

Mungkin ada benarnya kata orang-orang. Makhluk bernama laki-laki itu begitu gigih di awal untuk mendapatkan. Karena itu semacam tantangan. Tapi, begitu  mendapatkan, mereka akan cepat merasa bosan. Mereka tidak sadar sudah mempermainkan sekeping hati yang awalnya tertata rapi. Kemudian porak poranda seperti tsunami, setelah mereka menghuni hati, kemudian pergi.

Mereka tidak tahu, kalau luka yang mereka tancapkan, adalah lubang yang tak pernah sepenuhnya bisa tertutup, meski hati telah memaafkan. Mereka tidak tahu, kehilangan adalah hal pahit yang membuat hidup orang yang ditinggalkan menjadi sulit.

Apa Yang Harus Dilakukan?

  1. Menerima kenyataan. Menerima fakta yang tidak sesuai dengan harapan kita memang hal yang sulit untuk dilakukan. Tetapi, dengan berusaha untuk menerima hal yang terjadi, kamu akan hidup dalam dunia realita, bukan dunia kenangan manis ketika masih bersama dia.
  2. Memaafkan diri sendiri. Ada sebagian orang yang merasa menyesal telah memberikan hatinya dan menghabiskan sebagian waktu hidupnya bersama pasangannya yang tiba-tiba menghilang. Namun, penyesalan hanya akan membuat luka kian dalam. Maafkanlah diri sendiri yang pernah menjalin hubungan dengan si dia. Anggap hubungan yang pernah terjadi menjadi pelajaran hidup yang membuat diri menjadi pribadi yang lebih dewasa dan bisa menerima kekecewaan dalam hidup.
  3. Berhenti bertanya “Mengapa ditinggalkan .” Pertanyaan “mengapa ditinggalkan” tidak akan membuat hidupmu lebih baik. Justru ketika kamu bertanya seperti itu, kamu akan semakin terluka. Terima saja dia menghilang sebagai salah satu kejadian apes dalam hidupmu. Karena, itu di luar kemauan, kontrolmu. Dan berhenti bertanya “mengapa dia menghilang.”
  4. Meningkatkan kualitas diri. Bisa jadi dia meninggalkan kamu tanpa pesan karena dia telah menemukan sosok baru yang selama ini ia idamkan. Berhenti meratapi diri, dan bangkit meningkatkan kualitas diri. Jika kamu terluka karena kepergiannya, kenapa kamu tidak membuat dia menyesal telah meninggalkan?
  5. Membuka hati untuk hubungan baru. Karena hidup harus terus berjalan, tidak ada gunanya kamu sedih. stuck meratapi yang telah berlalu. Buka kembali hatimu untuk orang baru. Ada banyak haraoan untuk sebuah hubungan di depan.

 

Kopi itu Kamu

FNKN9348[1]

Kopi adalah penggantimu

Kala rindu mendadak datang

Bersayap hujan berwajah sendu

Melubang genang kenangan

Dirajam dingin dicabik ingin

Sepotong petang yang menggigil

-SS-

Boyish Style

Coba deh sesekali tambahkan dasi  pada look casual-mu. Dijamin, hasilnya akan terlihat maskulin. Yup, penampilanmu sudah berubah menjadi boyish style. Kalau kamu merasa boring dengan look keseharianmu, ide menambahkan dasi ini bisa menjadi pilihan. Selamat mencoba 🙂

Liburan Tiap Bulan. Mau?

 

Hari gini apa sih yang tidak bisa. Termasuk liburan tiap bulan. Jangan bilang tidak punya uang. Uang bisa dicari selama kita mau bekerja mencarinya. Kalau penghasilan pas-pasan apa masih bisa? Tetap bisa kalau kita membuat liburan sebagai prioritas. Mana mungkin liburan untuk makan sehari-hari saja sulit? Yakin ngomong begitu? Yang dimakan apa dulu dan dimana lokasinya?

Seperti kata pepatah kuno “Jika ada kemauan pasti ada jalan. Atau there is a will there is a way.” Tanpa kemauan, maka liburan hanya ada dalam angan-angan. Kenapa? Karena kamu tidak pernah merencanakan liburan. Dan liburan tidak harus punya uang lebih.

Caranya gimana?

  1. Disiplin menyisihkan uang. Setiap bulan usahakan sebelum dipakai untuk keperluan hidup bulanan, sisihkan uang untuk target liburan kamu. Besarnya tergantung lamanya liburan yang kamu inginkan, lokasi liburan, dan fasilitas liburan. Jika targetmu berlibur di lokasi tempat tinggal maka alokasi uang yang disisihkan untuk liburan tentu tidak besar.  Karena planningnya liburan tiap bulan, maka uang yang kamu sisihkan lebih gampang ditaruh di tabungan. Ini berlaku terutama bagi kelompok orang yang nggak suka ribet dengan aturan deposito.
  2. Atur waktu liburan sesuai dengan hari libur kerja  dan tanggal merah. Kadang yang menjadi kendala berlibur adalah tidak adanya waktu untuk liburan karena kerja. Nah, karena keterbatasan waktu itulah kamu harus bikin planning jauh-jauh hari terkait waktu liburan. Mungkin di bulan-bulan tertentu liburannya pas weekend dengan konsekuensi macet jika menggunakan kendaraan seperti mobil, bis. Juga, lokasi liburan  biasanya padat karena banyak pengunjung. Sebenarnya liburan tanggal merah juga beresiko macet dan lokasi wisata penuh oleh pengunjung jika obyek wisatanya di dalam negeri. Tapi apa boleh buat. Daripada tidak liburan?
  3. Tentukan lokasi liburan sesuai dengan budget. Jika uang tabungan jumlahnya sedikit, maka memilih lokasi liburan harus rasional. Pilih lokasi yang dekat dan tidak banyak biaya tambahannya seperti tiket masuk, parkir, dll.
  4. Tidak harus beli oleh-oleh. Hal lain yang memberatkan kita traveling adalah komponen oleh-oleh. Kalau ada teman yang nitip oleh-oleh tapi tidak janji menggantinya dengan uang, patut menjadi pertimbangan untuk menolaknya. Kamu bisa menolak secara halus. Jika kamu tidak tegas dengan persoalan oleh-oleh, maka tiap traveling kamu akan terbebani dengan komponen ini.
  5. Pilih destinasi wisata yang berdekatan. Jika kamu ingin bersiwata ke suatu daerah dan mendapat banyak obyek, bisa mencari informasi destinasi wisata yang lokasinya berdekatan. Hal ini dilakukan untuk menghemat biaya transportasi dan waktu.
  6. Mengurangi biaya lain-lain untuk traveling. Setiap kita pasti mempunyai pos pengeluaran yang sebenarnya bisa ditiadakan karena bukan kebutuhan pokok. Nah, jika kamu sudah bisa menghilangkan pos pengeluaran yang tidak perlu, alokasikan uang tersebut untuk biaya traveling. Lumayan kan?
  7. Cari penghasilan tambahan. Jika ingin liburan tiap bulan, maka salah satu solusinya adalah menambah income dengan penghasilan tambahan. Langkah ini ditempuh jika kamu sudah tidak bisa mengotak atik pengeluaran lagi.

Menghemat Bujet Hotel Untuk Traveling Lagi. Mau?

 

Menghemat anggaran untuk hotel dan digunakan untuk traveling lagi? Siapa yang nolak. Nih tipsnya.

Bisa dipastikan hampir setiap tahun harga tiket hotel naik. Bahkan, kadang kenaikannya signifikan. Kondisi ini akan menjadi masalah tersendiri bagi penyuka traveling. Karena melancong ke mana pun pasti perlu penginapan. Terlebih, bagi mereka yang terbiasa menginap di hotel berbintang ketika traveling layaknya seorang turis. Nah, bagi kalian yang sering bepergian, ada baiknya menyimak tips berhemat dari alokasi angaran untuk hotel seperti dilansir save70.com. Dijamin kalian bisa menabung dan bisa digunakan untuk traveling lagi. Asik kan…

Layanan Ekstra

Jika mencari tempat penginapan, usahakan paket yang disediakan hotel tersebut sudah termasuk pelayanan ekstra seperti sarapan, wifi, dan makanan anak-anak jika kamu membawa anak selama traveling.

Juga kopi, teh yang disediakan di lobby hotel. Atau bisa berupa infused water plus snack seperti yang disediakan di lobby Hotel Best Western Premier La Grande di Bandung, Jawa Barat. Atau aneka jamu seperti di Hotel Tentrem, Yogyakarta. Pasalnya, fasilitas sarapan, cemilan, kopi, teh dan sejenisnya serta wifi lumayan mengurangi pengeluaran selama traveling.

Menjadi Member

Jika kamu sering stay di hotel sama atau menginap di hotel yang punya jaringan sama, untuk menghemat biaya hotel, salah satu caranya dengan mengikuti program member. Apa manfaatnya menjadi member? Selain mengumpulkan poin, kamu juga mempunyai kesempatan menginap gratis. Lainnya, dengan menjadi member kamu bisa memperoleh penawaran istimewa dari pihak hotel.

Tinggal di Hotel yang Jauh dari Pusat Kota

Jika kamu memilih tinggal di hotel yang ada di pusat kota, bisa dipastikan harga tiket meningapnya akan tinggi. Sebaliknya, anda bisa berhemat jika menginap di hotel di luar kota. Tips ini bisa dipertimbangkan jika ongkos transportasi di negara atau daerah tersebut lumayan murah. Ini menjadi pertimbangan jika kamu tidak membawa kendaraan sendiri.

NWXV9816[1]

 Makan di Luar

Biasanya makanan yang disediakan hotel harganya lebih mahal ketimbang di rumah makan atau restoran. Jika tidak kepepet sebaiknya tidak membeli makanan di hotel. Meski, ada beberapa grup hotel yang harga makanannya terbilang murah,

Upgrade ke Suite Room .

Jika bepergian bersama keluarga, lebih baik meng-up grade kamar yang direservasi dari spesifikasi biasa menjadi suite room atau presidential. Mengapa? Karena suite room ruangannya lebih luas dan mempunyai kamar tidur sendiri yang memungkinkan untuk menampung anggota keluarga dalam jumlah banyak.

Pilih Kamar di Sudut.

Pilihlah ruangan kamar di sudut. Pasalnya, ukuran kamar di sudut biasanya lebih luas ketimbang kamar biasa.  Meskipun, secara harga tiket tidak lebih murah dari kamar biasa.

Hindari Makan Makanan di Mini Bar

Hal lain yang berhubungan dengan hotel dan bisa mengurangi pengeluaran kamu adalah tidak mengambil makanan dan minum yang ada di dalam minibar. Mengapa? Yang pasti harga item di minibar lumayan mahal. Lebih baik kamu membawa cemilan sendiri dengan membelinya dari luar.

Hindari Weekend

Tingkat okupansi hunian di hotel meningkat setiap akhir pekan dari Jumat hingga Ahad. Karena demand alias tingkat permintaan meningkat pas akhir pekan, maka harga tiket hotel pun ikut naik,    Tiket akan jauh lebih murah jika kita menginap pada malam Senin hingga malam Kamis.

Beli Tiket Secara Online

Jika ingin mendapat deal terbaik untuk harga tiket hotel, lebih baik membeli secara online. Pasalnya, membeli secara online bisa menghemat sekitar 10 hingga 15 persen disbanding membeli tiket secara langsung di hotel. Lumayan kan jika bisa menghemat 10 hingga 15 persen?

Nah, demikian tips berhemat dari anggaran untuk hotel.

“Makan emping sama buah kawis…Happy traveling guys…”

 

 

JNOW3143[1]

Keluarga dengan 7 anak ini Traveling ke 39 Negara.Yuk Intip Rahasianya.

IMG-20171105-WA0003

Greg Denning bersama istriya Rachel dan ketujuh anaknya telah mengunjungi 39 negara seperti dituturkan Greg kepada cnbc.com. Mereka mulai traveling pada tahun 2007 dengan empat anak waktu itu, Bermodal 10 ribu dollar AS atau jika dikurskan sekarang sekitar Rp 135,73 juta, pada 2007 keluarga Dennington mantap memulai traveling keluarga dengan bepergian ke Costa Rica. Uang itu diperoleh dari hasil menjual rumah dan mobil mereka selama tinggal di Utah, Amerika Serikat. Praktis keluarga Dennington tidak mempunyai tempat tinggal lagi.

Negara Mana Saja Yang Pernah Dikunjungi?

Negara-negara yang pernah dikujungi keluarga Denning selama sepuluh tahun antara lain Italia, Jerman, Guatemala, Praha, Slovenia, Kroasia, Polandia, Maroko, Thailan dan masih banyak lagi. Bisa diintip di instagram world school family ya.

Namun, dari puluhan negara yang pernah dikunjungi, keluarga Denning memfavoritkan negara-negara di Eropa. Mengapa? Menurut Greg, kota-kota di Eropa Timur view-nya cantik, aman, dan biaya hidupnya murah. Meski demikian, ada tiga negara yang sangat mereka sukai yakni Polandia, Kroasia, dan Slovenia. “Polandia, Kroasia, dan Slovenia favorit untuk traveling dengan biaya murah.”

Sebulan Rp 67,8 Juta Hinga Rp 80 Jutaan. Wow!

Kalau dilihat sepintas dari perjalanan keluarga dengan tujuh anak usia sekolah ini, sepertinya fun-fun saja ya guys. Dari gambar-gambar di instagram milik Greg yakni world school family anak-anaknya terlihat ceria. Mereka juga asik menikmmati traveling mereka. Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Terlebih anak-anak keluarga Denning masih usia sekolah. Salah satu fakta menarik, mereka membawa buku seberat 181,4 kilo alias 700 pounds karena anak-anaknya tidak sekolah formal tetapi diajar ibunya dengan model home schooling.

Lainnya yang lumayan menjadi beban adalah untuk mebiayai kegiatan traveling keluarga besar ini, sebulan bisa menghabiskan sekitar 5 ribu hingga 6 ribu dollar AS atau skeitar Rp 61 juta hingga Rp 80 juta sebulan. Wow! Banyak kan? Padahal, dalam wawancara dengan huffingtonpost.com Greg mengaku selama traveling keluarganya sudah berusaha hidup hemat!

Karena keluarga ini homeless alias tidak punya tempat tinggal, dari mana mereka memperoleh uang? Ternyata Greg mendapat income dari bisnis online yang tidak mengenal batas lokasi. Ia biasanya mendapat tawaran kerjasama dari orang-orang yang ditemui selama perjalanan. Selain itu, Greg juga mengaku menjadi motivator bagi kepemimpinan anak muda terutama dalam public speaking dan presentasi. Nah, dari sanalah pundi-pundi mengalir untuk keluarga ini. Kebayang kan dengan uang pengeluaran Rp 67 juta hingga Rp 80 juta per bulan di Indonesia, sudah termasuk keluarga tajir. Tapi, itu masih termasuk hidup hemat menurut keluarga Greg hehe

Tips Traveling Puluhan Negara Bersama Keluarga

Berdasarkan wawancara Greg dengan ncbc.com maka berikut jurus ajaib untuk melakukan traveling hingga puluhan negara.

  1. Berani mengerjakan hal sulit. Menurut Greg, traveling dengan keluarga apalagi dalam jumlah besar itu bukan hal mudah. Seluruh anggota keluarga harus berani menerima tantangan mengerjakan hal sulit. Karenarani adaptasi dengan warga setempat, bukan perkara mudah. Kadang berhasil, kadang gagal, imbuhnya.
  2. Berperilaku seperti traveler bukan turis. Memangnya beda menjadi traveler dengan turis? Kata Greg ada perbedaan mendasar antara traveler dengan turis. Traveler itu bertindak seperti warga lokal. Misalnya, menempati apartemen atau rumah bukan hotel. Yang pasti biaya sewa apartemen atau rumah lebih murah ketimbang tiket hotel.
  3. Hidup Hemat. Selama bepergian diusahakan hidup hemat jika takut kantong jebol ya. Caranya? Jangan makan makanan impor ketika di luar negeri. Sudah di luar negeri, tetapi makan makanan impor? Hehe ya nggak apa-apa sih kalau uangnya lebih. Tapi kalau bujet terbatas, silakan puasa sepuasnya haha. Menurut Greg, makan makanan impor ketika traveling itu harganya sangat mahal. Nah!
  4. Lakukan dari negara yang berasahabat bagi traveler dan murah. Untuk memulai petualangan traveling bersama keluarga, Greg menyarankan bepergian ke Thailand. Pasalnya, negeri Gajah Putih itu sangat friendly bagi traveler baik yang kantongnya tebal maupun kantong tipis.  Pasalnya, biaya hidup di Thailand terbilang murah.

Selamat mencoba guys. Jangan lupa berdoa sebelum bepergian hehe. Dadaaaa

Membuat To Do List

IMG-20171104-WA0000

 

Ya, saatnya membuat to do list dan melaksanakannya untuk prioritas kita. Karena begitu banyak tawaran informasi  dan aplikasi menarik dari gadget  kita miliki.

Menulis draft rencana kegiatan atau membuat to do list terbilang efektif membuat kita tetap fokus pada rencana awal.  Meskipun ada sebagian ahli yang menyatakan membuat daftar kegiatan ini tidak efektif. Karena yang ditulis adalah yang ada di otak kita.

Tapi, di era digital seperti sekarang, membuat to do list sangat penting. Karena faktor yang membuat kita tidak fokus sangat banyak. Sumber distraksi (teralihkan) antara lain ponsel, internet baik di ponsel pintar, tablet, maupun PC computer. Perangkat gadget tersebut menawarkan ragam informasi dalam hitungan detik. Jika kita tidak bisa mengatur waktu, maka kita akan larut membaca info yang bisa jadi tidak terlalu kita perlukan.

Alhasil, karena kita tidak punya alarm, kita lupa dengan prioritas yang harus dilakukan. Karena  larut  dalam kegiatan kurang bermanfaat. Seperti intens membuka social media, membaca pesan-pesan di grup text messaging seperti Whatssap, Line, dll. Tanpa kita sadari membuka pesan di grup atau kepo melihat status teman di social media seperti Instagram, Facebook, atau Twitter kerap membuat kita lupa dengan target-target yang harus dikelarin hari ini.

So,  membuat to do list termasuk hal urgen agar kegiatan kita terarah.  Membuat daftar kegiatan ini bukan hanya berlaku dalam dunia kerja. Tetapi kamu yang masih sekolah, kuliah, atau ibu rumah tangga.

Paula Rizzo seorang produser acara televisi sekaligus penulis  “Listful Thinking: Using Lists to be More Productive, Highly Successful and Less Stressed” dalam situsnya ListProducer.com mengatakan selalu membuat list kemana pun dia pergi. Ia bahkan membuat banyak daftar kegiatan. Menurut Paula membuat daftar kegiatan membuat dia tetap terarah baik dalam hal pekerjaan kantor maupun pekerjaan rumah.

Berikut tips ala Paula agar to do list atau daftar rencana kegiatan bukan hanya sekedar catatan saja tetapi juga dieksekusi seperti rencana yang tertulis.

  1. Cenderung Mengabaikan Rencana yang Tertulis

Ada sebagian orang yang rajin menulis rencana harian atau mingguan di kertas post it. Karena tidak temple di tempat yang mudah dilihat, akhirnya lupa dengan rencana yang telah ditulis. Atau membuat to do list di belakang kertas struk belanjaan. Karena lupa menaruh struk belanjaan akhirnya lupa dengan rencana yang telah dibuat.

Buatlah to do list di satu tempat favorit yang sering kamu lihat. Bisa dalam bentuk notes unyu dengan cover grid yang kamu suka atau tema-tema monokrom. Kamu juga bisa menaruh to do list di folder ponsel kamu.

      2. Terlalu Banyak Item

IMG-20171104-WA0001(1)

Karena keterbatasan waktu, kamu tidak mungkin mengerjakan banyak hal dalam sehari. Untuk itu, kamu harus membuat skala prioritas dalam membuat to do list. Mengapa? Karena jika kamu tidak realistis alias membuat to do list dalam jumlah banyak, maka kamu akan kewalahan. Akhirnya pekerjaan penting yang seharusnya menjadi prioritas malah tidak diselesaikan.

      3. Spesifik

Tulislah rencana kegiatan secara spesifik. Misalnya mengecek email. Tanpa tulisan spesifik, kamu akan menghabiskan banyak waktu untuk mengecek surat elektronik yang bisa jadi tidak penting bagi anda.

      4. Mengecek Kembali Daftar Kegiatan

Agar daftar rencana kegiatan kamu bisa dilaksanakan sesuai dengan tujuan kamu, maka kamu bisa mengeceknya kembali. Waktu pengecekan disesuaikan dengan kesibukan dan alpkasi waktu yang kamu sediakan untuk menyelesaikan semua kegiatan.

       5. Se-simple Mungkin

Karena yang membaca kita sendiri, tentu kita tahu bentuk to do list yang simple versi kita itu seperti apa.  Daftar rencana kegiatan yang enak dibaca dan simple akan membuat kamu semangat mengerjakan. Bukan malah membuat kamu stres saat membaca.

 

Kapan Nikah?

PicsArt_11-02-10.16.54

“Kamu balik kapan, nduk?” Ah, pertanyaan ibu minggu lalu mengusikku. Jemariku yang semula menari di atas papan ketik, mendadak diam. Tahun ini aku tidak ingin mudik  lebaran. Tapi, mendengar suara ibu di telepon, tekadku yang bulat menjadi lonjong. Aku tidak tega membiarkan ibu mengisi lebaran hanya berdua dengan adikku, Shafa. Sampai sekarang ubiarkan tanya itu mengawang. Hingga aku mantap memutuskan.

Ketika pikiranku masih macet dengan mudik lebaran, iklan biskuit dan sirup di televisi bertema buka puasa dan lebaran lalu lalang saling berebut perhatian. “Puasa juga belum dimulai, tetapi iklan itu telah membuat imaji dahaga puasa dan damai lebaran menari. Hmmm.” Batinku.  “Sebenarnya aku ingin mudik, Bu. Tapi….,” kataku pada diri sendiri.

Dulu, tidak ada kata tapi untuk momen spesial bulan syawal itu. Bahkan, aku akan bersemangat sekali memikirkan dekorasi interior rumah, baju apa yang akan kukenakan saat lebaran. Setelah bekerja, rasanya senang bisa membeli baju lebaran untuk ibu dan adikku. Sebulan sebelum lebaran,telah kukirim baju itu. Biar Shafa tenang sudah ada baju lebaran. Aku ingat saat kecil selalu gelisah saat ibu belum membeli baju baru, sebulan menjelang Lebaran! Kini aku membelikan baju untuk adikku sebulan sebelum lebaran.

Momen lebaran yang terasa seperti candy kini telah berlalu. Itu dulu. Ya, dulu. Kini Idul Fitri seperti teh tanpa gula. Tawar. Bahkan seperti kopi. Pahit. Ya, pahit. Ketika kata tanya mulai menyapa. Kapan nikahnya?

Semula aku mengacuhkannya tiap pertanyaan itu datang. “Kapan nikahnya, Ra? Sudah kerja lho. Teman SDmu Witri saja sudah punya anak dua.” Begitu kata tetangga. Aku memilih menjawab dengan senyum. Aku sama Witri kan beda. Ya, wajar jika kehidupanku kami tak sama. Batinku. Ketika aku berkeliling silaturahmi menemani ibu, lagi-lagi pertanyaan itu terlontar. Kadang aku menjawab,”Mohon doanya saja.”

Tahun pertama lulus kuliah dan bekerja pertanyaan kapan menikah belum terasa sepa. Toh teman-teman SMAku seperti Ella, Damar juga belum married. So what gitu loh. Pikirku. Nikah cepat atau tidak, di luar kuasa kita. Lagian, memangnya kalau belum nikah kenapa?. Baru 23. Kataku membatin.

Pertanyaan kapan nikah makin deras saat usiaku 24 tahun. Sudah mau 25, Ra. Usia ideal married. Untunglah saat itu aku dekat dengan dua laki-laki. Satu sahabat SMA ku Damar. Satu lagi Enno, temannya sahabatku, Ella yang sekolah di luar kota. Aku mulai dekat dengan Enno, lulusan Sekolah Perwira Kepolisian saat main ke rumah Ella bersama Damar kala Lebaran. Komunikasi kami kian intens. Ia bahkan menyempatkan diri berkunjung ke rumahku. Tidak perlu waktu lama bagi Enno untuk dekat dengan ibu dan adikku. Tiga bulan berteman dan merasa cocok, kami kemudian mantap jadian.

Aku yang bekerja di salah satu media di Jakarta harus bolak balik pulang tiga bulan sekali demi mengisi kantong-kantong rindu yang kerap kosong saat jauh dari Enno. Hampir setahun bersama, sebulan menjelang Ramadhan kami mantap bertunangan. Keluargaku dan Enno ingin kami segera meresmikan hubungan. Apalagi hubunganku dengan mamanya Enno sudah seperti anak dengan ibunya. Meski jarang bertemu, kami sangat dekat secara emosional. Aku sering menelpon mama Enno. Demikian juga mama Enno. Kami juga kerap berkirim bingkisan.

Setelah bertunangan, aku pikir pertanyaan kapan menikah akan hilang. Perkiraanku keliru. Orang tetap bertanya kapan menikah. “Itu kan basa basi orang kampung, Ra. Karena nggak ada pembicaraan lain. Tapi kamu beruntung, udah tunangan. Aku belum,” kata Ella menghibur.

***

Kalau memakai hitungan matematika, aku seharusnya yang menikah duluan. Bukan Ella. Usia 25 tahun aku bertunangan dengan Enno. Seorang perwira polisi berkulit bersih dan berwajah tampan. Saat usia 26 tahun kami akan mengucap janji, berlabuh dalam bahtera pernikahan. Sementara Ella? Saat itu ia belum punya pasangan.

Yang aku tahu, Ella, sahabatku super manis dan girly itu memendam rasa pada Damar. Sahabat SMA ku yang banyak digilai kaum hawa. Dengan postur jangkung, berkulit bersih, sorot mata tajam, wajah tampan, jago main gitar, vokalis band, otak encer, dan dari keluarga mapan, Damar seolah menjadi magnet bagi cewek. Cewek-cewek meleleh setiap melihat Damar perform di stage. Tidak berbeda jauh dengan hati Ella, sebenarnya aku juga suka Damar. Hanya cewek bodoh yang tidak suka Damar. Pikirku. Tapi karena tahu Ella mencintainya, perlahan aku kubur perasaan suka itu. Meskipun feelingku mengatakan Damar menyukaiku. Hal itu dikuatkan dengan celotehan teman sekelas yang mengatakan Damar suka aku. Aku berusaha tidak mempercayainya. Tapi gagal.

***

Lebaran tahun lalu aku harus menyesap kopi pahit. Ampas pedihnya masih terasa hingga kini. Seharusnya Lebaran tahun lalu aku menjadi Nyonya Enno. Sehingga tidak perlu lagi ada tanya kapan. Tetapi? Seperti yang kupikirkan saat usia 23 tahun. Meski kita ingin sekali menikah dan sudah punya calon, kalau ternyata takdir Tuhan berkata lain, ya tidak terjadi pernikahan. Dan itu menimpa aku. Pernikahan batal. Dua bulan menjelang pernikahan Enno selingkuh dengan cewek lain. Dan cewek itu telah telah hamil dua bulan! Mendengar pengakuan Enno dalam siding keluarga membuatku limbung. Pingsan.. Begitu sadar, kulihat mamanya Enno menangis. Ia meminta aku tetap menganggapnya sebagai ibunya. Aku mengangguk dan memeluknya erat. Kami menangis.

Hatiku pecah. Serpihannya menusuk hingga relung terdalam. Perih dan berdarah. Dan dua bulan kemudian saat Lebaran, luka itu kian memerah. Sebuah undangan pernikahan datang dari sahabatku, Ella. “Doain ya Ra, semuanya lancar,” kata Ella. Aku memeluk Ella. Senang akhirnya Ella bisa bersatu dengan cowok yang selama ini memenuhi mimpi-mimpinya. Damar. Meski satu sudut hatiku tergores. Aku masih mencintai Damar, La.

***

“Bu, Ara insyaAllah pulang H-3,” kataku kepada ibu lewat telepon. Ibu terdengar senang. Syukurlah. Aku menarik nafas begitu menutup ponsel. Berat.

Aku tidak tahu apa responku melihat Enno dan keluarga barunya ketika mengunjungi mamanya Enno sesuai janjiku. Aku hanya berusaha ikhlas. Aku juga berusaha melindungi hati dari iri atas kebahagiaan melingkupi kehidupan Damar dan Ella. Sebagai sahabat, aku harus berbahagia atas kebahagiaan mereka. Iri hanya menggerogoti kebahagiaanku yang seharusnya aku ciptakan sendiri dengan menerima kenyataan secara lapang. Itu lebih mendamaikan. Begitupun ketika pertanyaan kapan menikah datang. Anggap saja itu doa dan bentuk sayang. Sembari aku berdoa kepada Tuhan mohon dikuatkan hati agar tidak teritasi. Hanya Dia yang menenteramkan. Dan akhirnya pertanyaan kapan menikah akan sayup-sayup terdengar tersapu oleh doaku pada Tuhan pemilik kehidupan. Dan jika waktunya tiba, Sang Maha Cinta akan memberiku seorang belahan jiwa. Meski aku tidak tahu kapan waktunya.

Harap yang Sepi

Harapku jatuh dari daun ke daun
Kemudian terhempas ke tanah basah
Kadang serupa kuburan yang menjadi
akhir perjalanan mimpi-mimpi

Kadang ia menjadi pupuk
Menyuburkan akar-akar semangat
Yang perlu siraman
air dari sumur jiwa di ladang semesta

-SS-